BACAAJA, SEMARANG- Kota Semarang lagi ngebut banget urusan pangan selama 2025. Mulai dari nge-rem harga yang suka naik tiba-tiba, ngecek keamanan pangan biar aman dimakan, sampai ngurangin food waste yang makin hari makin jadi “musuh dalam selimut”.
Semua ini digas karena laporan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) masih nandain beberapa kecamatan status waspada harga. Alias, kalau nggak ditangani cepat, bisa bikin dapur warga ikut panik mode ON.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti bilang, langkah pertama adalah nembak titik-titik yang harganya lagi panas. “Status waspada harga di Genuk dan Pedurungan langsung kita intervensi lewat Gerakan Pangan Murah dengan Ketahanan Pangan Keliling Semarang (Kempling Semar) dan Pasar Pangan Rakyat Murah dan Aman (Pak Rahman),” ujarnya, Jumat (21/11).
Program Kempling Semar ini ibarat pasukan mobile yang muter dari kelurahan sampai RW buat motong rantai pasok. Hasilnya? Harga jadi lebih jinak. Sejak rilis 10 Juli sampai 31 Oktober 2025, Kempling udah nongol di 640 titik, kayak konser keliling versi pangan murah.
Lokasinya dipilih berdasarkan tingkat kerentanan warga. Genuk, misalnya, jadi prioritas karena jumlah warga kurang mampunya lebih tinggi. Bukan cuma urusan harga, keamanan pangan juga jadi perhatian.
Agustina dengan bangga ngumumin capaian post market keamanan pangan sudah 87,3 persen, dan kalau digabung pre market jadi 94,27 persen, melewati target 90 persen. Pengawasan dilakukan lewat tim-tim dengan nama super unik macam “Jempol Pak Kuat”, “Mata Dewa”, “Tim JKPD”, “Kader Dermawan”, sampai “Passemarang” di 34 pasar rakyat. Semua buat satu tujuan: jangan sampai ada pangan “nakal” yang lolos.
Food Waste
Sementara itu, isu food waste juga digarap serius. Lewat program Srikandi Pangan yang baru lahir 19 Agustus 2025, Pemkot ngajarin Gerakan Sayang Pangan ke ibu-ibu rumah tangga. Targetnya: penyelamatan pangan minimal 10 persen. Biar makanan nggak cuma jadi korban PHP di kulkas. Program ini didesain buat ubah pola pikir konsumsi warga, biar nggak gampang buang makanan cuma karena “udah bosan” atau “lupa ada di kulkas”.
Di sisi lain, Kempling Semar ternyata punya dampak sosial ekonomi. Bagi warga, jelas membantu. Tapi pelaku usaha sekitar sempat was-was takut tersaingi.
Wali Kota punya solusinya: “Libatkan pelaku usaha lokal sebagai kios pangan,” katanya. Jadi bukan benturan, tapi kolaborasi. Semua strategi ini jadi fondasi Semarang buat jaga ketahanan pangan sepanjang 2025 menuju 2026.
Intinya: nggak cuma operasi pasar, tapi gabungan edukasi, pengawasan, intervensi, inovasi, dan perubahan perilaku. Dan menurut Wali Kota, Semarang bakal terus ngejaga ritme ini. “Ketahanan pangan yang lebih tangguh jadi target 2025 dan tahun berikutnya,” tegasnya. (tebe)


