Sobar Harahap, pengamat media dan peneliti sosial politik. Tinggal di Semarang.
Apakah pemerintah salah menaikkan pajak? Tidak. Apakah rakyat keliru ketika marah? Tidak juga. Kedua perkara itu muncul karena tidak ada komunikasi yang baik, tidak ada penjelasan yang clear sejak awal.
Sepertinya kita akan kesusahan untuk mencari siapa yang bahagia atas kenaikan pajak kendaraan bermotor. Seberapa pun kenaikannya kita pasti marah atau minimal bersedih. Kita pun tidak peduli dengan tetek bengek istilah kenaikannya. Mau itu BBNKB, progresif, PPnBM, Opsen atau apa pun itu, prek kita tidak peduli. Yang kita tahu pajak kendaraan telah naik, titik!
Tentu istriku orang pertama yang ngomel soal kenaikan pajak. Dia ngomel bukan karena tidak kuat bayar, tapi kaget kenapa tidak ada penjelasan. Marahnya persis ketika kita, para suami langsung nongkrong bareng teman sepulang kerja tanpa kabar. Dan tiba-tiba saldo M-banking kita berkurang banyak. Dalam kondisi seperti itu, mustahil bukan kita berharap mendapat sapaan mesra apalagi pujian darinya?
“Saldonya kok bisa berkurang sebanyak ini?” Nah silakan membayangkan nada bicara (istri) masing-masing beserta ekspresinya. Kalau mendapat pertanyaan seperti itu, bagaimana jawaban yang tepat? Saran saya mending tidak usah dijawab. Apapun jawabanmu pasti keliru. Apalagi kalau kamu jawab jujur saldonya berkurang banyak karena untuk nongkrong. Waaaah saya jamin, habis kamu. Bisa-bisa semua kontak temen-temen nongkrongmu disuruh delete seketika. Saran saya, jangan dijawab tapi segera isi saldonya. Kalau perlu lebih banyak daei sebelumnya. Jangan dijawab, apalagi sampai jujur.
Biasa lah perempuan, mereka tidak akan puas dengan satu dua alasan. Bahkan kalau ada seribu keterangan, misalnya, mereka pasti akan sabar mendengar kemudian menyanggahnya satu persatu. Tapi sanggahannya akan menjadi-jadi jika tidak ada penjelasan yang pasti. Nah, penjelasan yang tidak pasti saja akan membuat mereka emosi, apalagi sampai tidak ada penjelasan. Waaah. Siap-siap saja makan hati setiap hari. Wkwkwk.
Apa yang terjadi tentang pajak kendaraan persis seperti itu. Apakah pemerintah salah menaikkan pajak? Tidak. Apakah rakyat keliru ketika marah? Tidak juga. Kedua perkara itu muncul karena tidak ada komunikasi yang baik, tidak ada penjelasan yang clear sejak awal.
Dua perkara itu sama-sama dilakukan secara diam-diam. Kenapa dilakukan diam-diam? Harapannya agar tidak ada gejolak. Lagi pula nongkrong maupun menaikkan pajak bukan sebuah kriminal. Dua-duanya adalah perbuatan yang tidak melanggar apalagi melawan undang-undang. Semua lelaki dan provinsi melakukan hal serupa, bukan cuma di salah satu daerah.
Jika sudah terlanjur seperti ini, apakah telat jika kita memberi penjelasan? Nah itu bergantung. Setiap lelaki punya caranya sendiri. Setiap suami punya jurus mengatasi kemarahan sang istri. Tapi dari pada terus-terusan diam, bilang saja sejujur-jujurnya. Tapi lihat timmingnya, tunggu amarahnya reda. Kemudian diajak ngobrol santai, dielus-elus dan pastikan saldonya harus ditambah.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


