BACAAJA, SEMARANG- Bunda Literasi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin ngajak santri buat naik level: dari yang sekadar belajar, jadi penggerak literasi. Menurutnya, tradisi menulis di pesantren sebenarnya bukan hal baru. Dari dulu, ulama besar sudah produktif melahirkan karya-karya penting.
Sebut saja Abdur Rauf as-Singkili yang menulis puluhan kitab, hingga Maimoen Zubair dengan belasan karya. Artinya, budaya literasi di pesantren itu pernah sangat hidup. Tapi sekarang? Mulai terasa meredup.
Karena itu, Nawal mengajak santri untuk “menghidupkan lagi api lama” itu. Bukan cuma membaca dan memahami, tapi juga mulai berani menulis. “Mudah-mudahan nanti jadi penulis-penulis,” ujarnya saat mengisi Orientasi Santri Ma’had Al-Jami’ah di UIN Walisongo, Selasa (7/4).
Dia menegaskan, proses belajar di pesantren itu sebenarnya sudah lengkap banget secara literasi. Mulai dari membaca, memahami, diskusi, sampai menerjemahkan dan menulis.
Baca juga: Pemprov Dukung Penguatan Gizi dan Literasi Alquran Santri
Cuma, ada beberapa tantangan yang bikin budaya ini agak “seret” belakangan ini. Mulai dari mahalnya kitab, fasilitas perpustakaan yang terbatas, sampai pemanfaatan teknologi yang belum maksimal. Belum lagi, tradisi menulis dan menerjemahkan yang mulai ditinggalkan.
Biar gak makin redup, Nawal mendorong beberapa langkah konkret. Mulai dari penguatan perpustakaan, digitalisasi kitab kuning, sampai membiasakan santri buat aktif menulis dan diskusi.
Dia juga berharap ada dukungan dari pemerintah, seperti hibah kitab dan fasilitasi pameran literasi pesantren. Menariknya, pesan ini gak cuma buat santri pesantren, tapi juga mahasiswa. Menurutnya, tradisi menulis ala pesantren juga relevan diterapkan di kampus. “Kalau bisa, bikin tulisan di jurnal atau bahkan buku,” pesannya.
Apresiasi Program
Di kesempatan itu, Nawal juga mengapresiasi program Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo yang dinilai sudah menggabungkan pendidikan akademik dan nilai keagamaan.
Mulai dari bahasa asing, kajian kitab, sampai pembentukan karakter, semuanya diarahkan buat mencetak lulusan yang gak cuma pintar, tapi juga berakhlak. Selain itu, Pemprov Jateng juga terus dorong penguatan pesantren lewat program “Pesantren Obah”.
Baca juga: Jateng Dapat Suntikan Rp17,6 M Buat Nyalain Literasi
Sebagai penutup, Nawal juga membagikan bukunya berjudul Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual ke mahasiswa, sebagai pengingat bahwa lingkungan belajar juga harus aman dan nyaman.
Karena di era semua orang bisa nulis di mana aja, justru ironis kalau santri, yang punya tradisi keilmuan panjang, malah cuma jadi penonton. Padahal, dari pesantrenlah dulu lahir tulisan-tulisan yang sampai sekarang masih dibaca dunia. (tebe)


