BACAAJA, SEMARANG – Tes urin digelar di Lapas Kelas I Semarang, Jumat (9/1/2026). Petugas dan napi kasus narkotika disuruh antre, pipis bergantian, hasilnya langsung kebaca.
Bagian petugas katanya sih aman sentosa. Seratusan lebih dites, semuanya negatif.
Giliran napi dicek, ceritanya beda. Dari ratusan napi kasus narkotika, beberapa justru kedapatan positif.
Bacaaja: Mongol Bikin Natal Lapas Semarang Jadi Penuh Tawa
Bacaaja: Bebas dari Lapas, Napiter Perempuan Asal Malaysia Langsung Dideportasi dari Semarang
Saat dikonfirmasi lebih lanjut, pihak Lapas bilang yang positif ada 11 orang. Padahal statusnya lagi “dipenjara” karena urusan yang sama.
Ironisnya, semua itu terjadi di balik jeruji. Tempat yang harusnya steril, malah masih bisa jadi ruang nostalgia barang haram.
Napi yang positif langsung diamankan. Katanya mau diperiksa lebih lanjut, biar jelas jalur barangnya lewat mana dan siapa yang kecolongan.
Kepala Lapas Semarang, Ahmad Tohari, menyebut tes urin ini bagian dari pembinaan dan pengawasan. Langkah cepat diambil supaya kejadian serupa bisa dicegah sejak awal.
“Sesuai arahan pimpinan terkait P4GN dan program Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, kami langsung bergerak,” kata Tohari, Sabtu (10/1/2026).
Tes ini melibatkan petugas keamanan dan tenaga kesehatan. Prosesnya diklaim humanis, meski hasilnya kembali menampar logika. Masuk bui karena narkoba, dites narkoba, masih juga positif. (bae)


