BACAAJA, ACEH TAMIANG — Suasana haru nyaris nggak bisa ditahan saat Bupati Temanggung Agus Setyawan alias Agus Gondrong menyambangi tiga sekolah terdampak bencana di Aceh Tamiang, Senin (26/1/2026).
Kunjungan ini bukan sekadar formalitas, tapi jadi saksi bagaimana sekolah yang sempat tenggelam lumpur pelan-pelan bangkit lagi.
Di SD Negeri Pahlawan, Karang Baru, rombongan Agus disambut lantunan lagu religi “Yasir Lana”. Suasananya langsung syahdu.
Bacaaja: Temanggung Ikut Pulihkan Sekolah di Aceh Tamiang, Kadisdik: Bikin Kami Bangkit Lagi!
Bacaaja: Jaran Kepang Bikin Bupati Temanggung Masuk Nominasi Anugerah PWI 2026
Puncaknya, Kepala Sekolah Hamdiah tak kuasa menahan air mata begitu melihat kondisi sekolahnya kini bersih dan terang, jauh berbeda dari sebelumnya yang nyaris lumpuh total.
“Alhamdulillah, sekarang SD Pahlawan sudah terang benderang dan enak dipandang mata. Terima kasih Pak Bupati dan masyarakat Temanggung. Kami tidak sanggup membalasnya, semoga Allah yang membalas,” ucap Hamdiah sambil menyeka air mata.
Momen serupa juga terasa di SD Negeri Upah, Kecamatan Bendahara. Kali ini, sambutan datang lewat lantunan Salawat Badar. Nurul, salah satu guru, mengaku bantuan ini seperti napas baru bagi anak-anak yang sempat kehilangan semangat belajar.
“Sebelumnya banyak anak nggak bisa sekolah. Seragam hilang, buku rusak, kelas berlumpur. Sekarang mereka bisa kembali belajar dengan semangat,” katanya.
Lewat program “Temanggung Peduli Aceh Tamiang”, bantuan senilai Rp1,24 miliar digelontorkan untuk pemulihan sekolah.
Mulai dari renovasi ruang kelas, pengecatan ulang, pengadaan meja-kursi guru, alat kebersihan, hingga perangkat pendukung seperti komputer dan printer.
Nggak cuma bangunan, bantuan juga menyasar langsung kebutuhan siswa. Ratusan paket pendidikan dibagikan, berisi seragam sekolah, tas, sepatu, sampai buku tulis, agar anak-anak di SDN Pahlawan, SDN Upah, dan TK Pahlawan bisa kembali belajar tanpa beban.

Di sela kunjungan, Agus Gondrong menegaskan bahwa jarak Jawa Tengah–Sumatra bukan alasan buat cuek. Menurutnya, ini soal solidaritas dan kemanusiaan.
“Bantuan ini mungkin belum sempurna. Tapi ini bentuk kepedulian kami. Walaupun jauh di Temanggung, kami tetap saudara Aceh Tamiang,” tutup Agus.
Singkatnya, ini bukan cuma soal bantuan. Ini tentang empati, gotong royong, dan harapan yang pelan-pelan tumbuh lagi di ruang kelas. (*)


