BACAAJA, JAKARTA – Angin politik kembali terasa hangat setelah muncul desakan agar Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mundur dari jabatannya. Cerita ini bermula dari sorotan tajam anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin, yang menilai kinerja sang menteri jauh dari kata maksimal, terutama soal urusan izin-izin kehutanan yang dianggap tidak sinkron dengan masukan pemerintah daerah.
Di Senayan, suasananya sempat mengeras. Usman tanpa tedeng aling-aling mempertanyakan kemampuan Raja Juli mengelola sektor kehutanan yang penuh tantangan. Baginya, tidak ada ruang untuk ketidaktegasan dalam menjaga hutan Indonesia.
Usman bahkan sampai menyarankan langkah mundur jika memang tugas menjaga lingkungan tak bisa dijalankan dengan baik. Menurutnya, urusan hutan bukan soal ego jabatan, melainkan masa depan ekosistem yang sudah lama tertekan.
“Kalau Pak Menteri tidak mampu mengurus kehutanan dengan benar, lebih baik mundur. Ini bukan soal pribadi, tapi masa depan hutan kita,” ucap Usman dalam rapat kerja di Kompleks Parlemen, Kamis (4/12). Nada bicaranya jelas menunjukkan kegelisahan atas berbagai kebijakan yang dinilai tidak tepat sasaran.
Ia menyoroti bahwa menyelesaikan persoalan kehutanan tidak bisa hanya mengandalkan retorika ataupun menyalahkan pemerintahan masa lalu. Kerusakan yang terjadi hari ini, tegasnya, menjadi tanggung jawab penuh pihak yang sedang memegang kendali.
Usman memberi gambaran betapa sulitnya memulihkan hutan. Pohon besar tidak tumbuh dalam semalam. Hutan yang rusak membutuhkan waktu puluhan tahun untuk kembali pulih, sehingga keputusan hari ini menentukan kondisi masa depan.
Selain soal teknis kehutanan, Usman juga menyinggung gaya komunikasi sang menteri. Menurutnya, pernyataan yang sering dibubuhi ayat dan hadis justru tidak selaras dengan kebijakan yang keluar dari kementerian.
Contoh yang disebutkan adalah penerbitan izin di Tapanuli Selatan. Meski Bupati setempat menolak dan meminta evaluasi, kementerian justru menerbitkan izin baru pada 30 November 2025. “Pernyataan Pak Menteri tidak sejalan dengan keputusan yang dibuat,” kata Usman.
Ia bahkan menilai seolah-olah Komisi IV bisa “diakali” dengan alasan-alasan normatif, padahal masalahnya berkaitan langsung dengan kondisi hutan yang makin merosot.
Desakan itu tidak berhenti pada penyikapan izin. Usman juga meminta perhatian khusus terhadap tiga provinsi yang mengalami degradasi hutan cukup parah. Menurutnya, kerusakan ini berpotensi menimbulkan dampak sosial dan bencana alam.
Kerusakan hutan bukan hanya urusan data statistik. Di baliknya ada masyarakat yang menggantungkan hidup pada ekosistem yang sehat. Ketika hutan rusak, risiko banjir, longsor, hingga konflik satwa pun meningkat.
Oleh karena itu, kritik Usman tidak hanya soal administrasi izin, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan. Hutan yang rusak sama saja dengan masa depan masyarakat yang ikut terancam.
Desakan agar menteri mundur memang bukan hal baru dalam dunia politik, tetapi yang satu ini mencuat karena bersentuhan langsung dengan sektor yang sangat sensitif: kehutanan.
Publik pun menanti bagaimana respons Raja Juli Antoni atas kritik keras ini. Apakah akan ada evaluasi besar-besaran? Atau justru polemik ini akan bergulir semakin jauh?
Yang jelas, isu ini sedang ramai dibicarakan. Hutan adalah rumah bagi banyak kehidupan, dan setiap keputusan terkait pengelolaannya selalu mengundang perhatian besar.
Debat mengenai pengelolaan hutan masih panjang, tetapi gelombang desakan yang muncul kali ini memberi tanda bahwa publik ingin perubahan yang lebih konkret dan transparan.
Apapun langkah ke depan, persoalan kehutanan tetap menjadi salah satu isu paling krusial di Indonesia. Kritik, desakan, dan dialog diperlukan agar pengelolaannya tidak hanya berhenti pada tataran kebijakan, tetapi betul-betul menjaga hutan sebagai aset bangsa.
Untuk saat ini, bola panas berada di tangan Raja Juli Antoni. Publik menunggu, apakah ia akan melakukan pembenahan atau memilih langkah lain di tengah tekanan yang terus menguat. (*)


