BACAAJA, SEMARANG – Dulu cari teman rasanya gampang banget. Baru masuk sekolah atau kuliah, belum kenal siapa-siapa, eh beberapa minggu kemudian sudah punya geng untuk makan bareng, ngerjain tugas, sampai nongkrong sepulang kelas.
Memasuki usia dewasa, situasinya berubah drastis. Teman mungkin masih banyak, tetapi mereka sudah tersebar di kota berbeda, sibuk dengan pekerjaan, keluarga, atau urusan masing-masing. Alhasil, punya banyak kenalan belum tentu berarti punya teman yang bisa diajak ketemu begitu saja.
Ternyata kondisi ini bukan sekadar perasaan pribadi. Ada perubahan dalam lingkungan sosial orang dewasa yang membuat kesempatan bertemu dan membangun pertemanan baru secara alami menjadi jauh lebih sedikit.
Dulu Ketemu Terus, Sekarang Harus Janjian
Psikolog Janice McCabe, PhD, penulis buku Making, Keeping, and Losing Friends, menjelaskan bahwa ada masa tertentu ketika peluang membangun pertemanan terbuka lebar.
Masa awal SMA dan kuliah menjadi salah satu contohnya. Orang-orang berada dalam lingkungan yang sama, bertemu hampir setiap hari, dan sama-sama mencari teman baru.
Situasi tersebut membuat hubungan berkembang tanpa perlu terlalu banyak usaha. Cukup duduk bersebelahan, sering bertemu atau ikut kegiatan yang sama, obrolan bisa berkembang menjadi pertemanan.
Ketika dewasa, pola seperti itu makin jarang ditemukan.
Psikolog dan pakar pertemanan Marisa Franco, PhD, mengatakan orang dewasa tidak lagi punya banyak lingkungan yang memungkinkan interaksi berulang secara spontan sekaligus membuka ruang untuk kedekatan emosional.
Tempat kerja memang bisa menjadi salah satu ruang bertemu orang secara rutin. Namun, tidak semua orang menemukan rekan kerja yang cocok secara personal. Bisa saja seseorang baru bergabung ketika anggota tim lain sudah lama saling dekat, atau lingkungan kerjanya memang tidak punya banyak kesamaan minat.
Lantas Cari Teman Baru di Mana?
Rebecca Marcus, LCSW, direktur klinis sekaligus pendiri RM Psychotherapy, menyarankan orang dewasa mulai melihat kembali aktivitas yang memang mereka sukai.
Hobi bisa menjadi pintu masuk yang cukup natural karena orang-orang yang datang biasanya sudah memiliki ketertarikan yang sama. Kegiatan olahraga, kelas seni, komunitas, hingga kegiatan keagamaan bagi mereka yang religius bisa menjadi pilihan.
“ Ada banyak hal terkait olahraga atau aktivitas, seperti kelas seni,” jelas Marcus.
Buat yang merasa sulit berkenalan secara langsung, aplikasi khusus pertemanan juga bisa menjadi alternatif. Salah satunya Bumble BFF yang memang dirancang untuk mempertemukan orang yang sedang mencari koneksi pertemanan.
Menurut Marcus, menggunakan aplikasi semacam itu tidak perlu dianggap aneh. Justru ada keuntungan karena niat penggunanya relatif jelas, yakni memang ingin bertemu orang baru dan membangun pertemanan.
Terapis asal New York, Kathryn Lee, LMHC, juga menilai pendekatan tersebut bisa membantu. Pengguna tidak perlu terlalu menebak-nebak apakah orang yang diajak ngobrol memang terbuka untuk berteman.
Jangan Keburu Kabur karena Canggung
Masalah berikutnya biasanya muncul setelah berhasil menemukan orang baru. Pertemuan pertama terasa kikuk, obrolan agak kering, lalu muncul pikiran, “Kayaknya enggak cocok, deh.”
Padahal, pertemanan tidak selalu harus langsung punya chemistry kuat sejak pertemuan pertama.
Kandidat doktor psikologi klinis Carolyn Bruckmann dalam tulisan The Friendship Recession: The Lost Art of Connecting pada 2025 untuk Harvard Kennedy School menjelaskan bahwa membangun pertemanan membutuhkan keberanian mengambil risiko.
Rasa canggung, menurutnya, merupakan bagian yang wajar dalam proses tersebut. Pengalaman baru dan tantangan yang dilakukan bersama justru dapat menjadi perekat hubungan.
Karena itu, Kathryn Lee menyarankan pertemuan yang berbasis aktivitas. Ketika ada kegiatan yang dilakukan bersama, perhatian tidak sepenuhnya tertuju pada usaha mencari bahan obrolan.
Misalnya, mencoba olahraga seperti pickleball, mengikuti kelas kreatif, datang ke konser, atau bergabung dalam kegiatan komunitas. Dari aktivitas bersama itu, percakapan biasanya bisa mengalir lebih natural.
Pertemanan Dewasa Memang Butuh Usaha
Kesibukan membuat pertemanan sering berada di urutan belakang. Orang dewasa biasanya lebih banyak memikirkan pekerjaan, keluarga dan hubungan romantis, sementara urusan membangun lingkar pertemanan baru dianggap bisa menunggu.
Padahal, prosesnya sebenarnya mirip dengan mencari pasangan dalam satu hal: tidak semua pertemuan akan berujung hubungan yang bertahan lama.
Pertemuan pertama yang canggung juga tidak selalu berarti hubungan tersebut tidak punya masa depan. Bisa saja setelah beberapa kali bertemu, obrolan justru semakin nyambung dan rasa nyaman mulai terbentuk.
Jadi, ketika merasa semakin dewasa semakin sulit mencari teman, masalahnya belum tentu ada pada diri sendiri. Lingkungan sosial memang berubah dan kesempatan untuk bertemu orang secara spontan semakin sedikit.
Yang dibutuhkan kemudian adalah sedikit lebih aktif membuka peluang. Tidak semua orang yang ditemui akan menjadi sahabat dekat, tetapi dari proses mencoba berkali-kali, bisa saja muncul beberapa pertemanan yang akhirnya benar-benar bertahan. (*)

