Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Anak Mendadak Takut Pipis? Jangan-Jangan Trauma Dibentak
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Anak Mendadak Takut Pipis? Jangan-Jangan Trauma Dibentak

Nugroho P.
Last updated: Oktober 18, 2026 7:54 pm
By Nugroho P.
6 Min Read
Share
iluatrasi anak dibentak.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Proses belajar buang air di toilet alias toilet training bisa menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Ada anak yang cepat terbiasa, tetapi ada juga yang justru menangis saat diajak ke kamar mandi, menahan pipis, atau berkali-kali meminta ke toilet karena merasa takut.

Contents
Bentakan Bisa Membuat Anak Takut PipisBukan Cuma Bentakan, Ini Pemicu LainnyaKenali Tanda Anak Mulai Takut ke ToiletCara Membantu Anak Merasa Aman LagiKapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?

Kondisi ini tak selalu berarti anak belum siap meninggalkan popok. Pengalaman kurang menyenangkan, termasuk pernah dimarahi saat ingin buang air kecil atau mengompol, bisa membuat anak merasa tidak aman ketika harus ke toilet.

Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Margareta Triastuti, M.Psi, menjelaskan bahwa cara orang tua merespons kebutuhan anak punya peran penting dalam membangun rasa aman. Jika pipis terus dikaitkan dengan bentakan atau hukuman, anak bisa menganggap aktivitas tersebut sebagai sesuatu yang menakutkan.

Bentakan Bisa Membuat Anak Takut Pipis

Menurut Margareta, orang tua merupakan sumber kelekatan sekaligus rasa aman utama bagi anak. Pada usia dini, anak juga sedang belajar memahami hubungan antara suatu kejadian dan respons yang diterimanya dari orang-orang terdekat.

Ketika anak berulang kali dimarahi, dibentak, atau dipermalukan karena ingin pipis maupun mengompol, pengalaman itu bisa membentuk pemahaman yang keliru. Anak akhirnya merasa bahwa buang air kecil merupakan tindakan yang bisa membuatnya mendapat teguran.

“Kalau situasi anak mau pipis, ke toilet, atau mungkin terjadi ‘kecelakaan’ (ngompol), berulang kali diikuti dengan respons orang tua yang marah, membentak, mempermalukan, anak akan menangkap pola yang keliru, ‘Ooh kalau aku pipis, aku dimarahi’. Ia akan menjadi takut pipis karena takut akan dimarahi,” jelas Margareta kepada kumparanMOM, Sabtu (17/10/2026).

Pengalaman tersebut bisa memengaruhi perilaku anak saat menjalani toilet training. Alih-alih merasa nyaman belajar mandiri, anak justru berusaha menghindari situasi yang dianggap bisa memicu kemarahan orang tua.

Salah satu contohnya dialami Gwen, anak dari Cresencia. Setelah pernah dibentak saat meminta pipis di tengah kemacetan, Gwen sempat bolak-balik ke toilet hingga tiga kali dalam waktu 45 menit.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa respons orang tua terhadap kebutuhan anak bisa meninggalkan kesan yang mendalam. Karena itu, penting bagi orang tua untuk tetap tenang ketika anak meminta ke toilet, termasuk saat situasinya kurang memungkinkan.

Bukan Cuma Bentakan, Ini Pemicu Lainnya

Rasa takut saat toilet training tidak selalu muncul akibat perlakuan orang tua. Ada sejumlah faktor lain yang bisa membuat anak enggan menggunakan toilet.

Misalnya, kondisi kamar mandi yang gelap atau kotor, suara flush yang keras, hingga pengalaman terpeleset di kamar mandi. Hal-hal yang dianggap biasa oleh orang dewasa bisa terasa menakutkan bagi anak kecil.

Selain itu, pengalaman fisik yang tidak nyaman juga perlu diperhatikan. Anak yang pernah merasa sakit ketika buang air kecil akibat infeksi saluran kemih atau mengalami sembelit bisa mengaitkan aktivitas ke toilet dengan rasa sakit.

Jika penyebabnya berkaitan dengan kondisi kesehatan, orang tua perlu mencari tahu dan menangani sumber ketidaknyamanan tersebut, bukan sekadar mendorong anak agar lebih berani menggunakan toilet.

Kenali Tanda Anak Mulai Takut ke Toilet

Ada beberapa perilaku yang bisa menjadi petunjuk bahwa anak merasa takut atau tidak nyaman selama proses toilet training.

  • Menangis atau menolak ketika diajak ke toilet.
  • Menahan pipis sampai akhirnya mengompol.
  • Meminta kembali menggunakan popok.
  • Terlihat gelisah atau tidak nyaman saat pembicaraan tentang toilet dimulai.

Meski begitu, tanda-tanda tersebut perlu dilihat sesuai kondisi masing-masing anak. Orang tua sebaiknya tidak langsung memberi label bahwa anak mengalami trauma, tetapi mencoba memahami penyebab di balik perilakunya.

Cara Membantu Anak Merasa Aman Lagi

Margareta menyarankan orang tua membangun kembali rasa aman anak, terutama jika sebelumnya pernah merespons dengan bentakan atau kemarahan.

Jika pernah membentak, orang tua bisa meminta maaf dan menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa anak tidak salah karena ingin pipis. Respons yang tenang ketika anak mengompol juga penting agar ia tidak semakin takut mencoba.

Orang tua dapat membuat rutinitas ke toilet terasa lebih menyenangkan melalui buku cerita, lagu, atau jadwal ke toilet yang dilakukan tanpa tekanan. Hargai setiap usaha anak, meskipun ia belum berhasil buang air di toilet.

Sebaliknya, hindari ancaman, hukuman, atau mempermalukan anak ketika ia mengompol. Proses toilet training membutuhkan waktu, dan setiap anak bisa memiliki kesiapan yang berbeda.

Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?

Rasa takut ke toilet juga perlu diperhatikan jika disertai keluhan fisik. Apabila anak mengeluh sakit saat pipis, mengalami demam, atau urinenya bercampur darah, segera bawa anak ke dokter untuk diperiksa.

Konsultasi dengan tenaga profesional juga disarankan apabila ketakutan berlangsung lebih dari tiga hingga empat minggu, semakin intens, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari anak.

Pada akhirnya, keberhasilan toilet training bukan sekadar soal seberapa cepat anak bisa meninggalkan popok. Rasa aman dan kepercayaan anak kepada orang tua juga menjadi bagian penting dalam proses belajar tersebut.

Dengan pendampingan yang sabar, suasana yang nyaman, dan tanpa bentakan, anak bisa perlahan memahami bahwa pergi ke toilet merupakan kebutuhan alami yang tidak perlu ditakuti. (*)

You Might Also Like

Buah Favorit Bisa Jadi Kunci Berat Badan Tetap Aman dan Nyaman

Baca Al-Kahfi di Jumat, Ini Keutamaannya

Sudah Tobat, Jangan Bongkar Lagi Masa Lalunya

Nabi Isa Turun, Dajjal Akhirnya Dibinasakan

Tetap Tenang Bro… Sukses Tak Selalu Datang di Usia Muda, Senja Bisa Jadi Puncak

TAGGED:anak takut pipisparentingtipstrauma
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Gelombang Demo Eropa Meluas, Belgia hingga Portugal Memanas
Next Article Karhutla Bikin Anak Terjebak di Rumah, Psikolog Ingatkan Dampaknya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

2.500 Pelari Ikuti Susurun 2026

Warga Binaan Lapas Purwodadi Panen Ratusan Kilogram Lele Mutiara

Anak Susah Bangun? Trik Umpan Makanan Favorit Ada Syaratnya

Karhutla Bikin Anak Terjebak di Rumah, Psikolog Ingatkan Dampaknya

Anak Mendadak Takut Pipis? Jangan-Jangan Trauma Dibentak

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

Gorengan Tiap Hari Bikin Rambut Menipis? Ini Temuan Peneliti Jepang

Juli 2, 2026
Tips

Data Kendaraan Sekejap Terbuka, Begini Cara Kerja Mata Elang

Desember 22, 2025
Tips

Tujuh Kebiasaan Receh Tapi Manjur Bikin Awet Muda

November 11, 2025
Tips

Ayam Krispi ala McD Ternyata Lewat Banyak Tahap, Ikuti Yuk!

Agustus 14, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Anak Mendadak Takut Pipis? Jangan-Jangan Trauma Dibentak
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?