BACAAJA, JAKARTA – Gelombang protes di Eropa belum mereda. Setelah Italia dan Prancis diguncang demonstrasi yang berujung kericuhan, aksi massa juga merebak di Belgia dan Portugal dengan persoalan yang tak jauh berbeda, mulai dari mahalnya biaya hidup hingga sulitnya mengakses pendidikan dan tempat tinggal.
Ribuan hingga puluhan ribu orang turun ke jalan pada Sabtu (17/10/2026) untuk menyuarakan keresahan mereka. Di sejumlah lokasi, situasi bahkan memanas ketika polisi harus turun tangan membubarkan demonstran.
Namun, tuntutan massa di setiap negara punya fokus tersendiri. Di Belgia, mahasiswa mempersoalkan biaya pendaftaran universitas, sedangkan di Portugal warga menyoroti harga rumah dan sewa yang terus melambung di tengah upah yang dinilai belum memadai.
Demo Mahasiswa Belgia Berujung Gas Air Mata
Di Brussel, ibu kota Belgia, aksi protes mahasiswa telah berlangsung selama beberapa pekan. Demonstrasi tersebut dipicu persoalan biaya pendaftaran universitas yang dianggap memberatkan.
Situasi memanas pada Sabtu ketika polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Dikutip dari Al Jazeera, polisi menuding sejumlah demonstran melemparkan benda ke arah petugas dan membakar beberapa benda selama aksi berlangsung.
Petugas akhirnya mengerahkan peralatan pengendali massa untuk meredakan situasi. Meski demikian, belum ada keterangan mengenai jumlah pasti peserta demonstrasi yang turun ke jalan.
Aksi serupa juga berlangsung di Liege, kota di sebelah timur Brussel. Polisi di kota tersebut turut menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran, tetapi tidak merinci jumlah orang yang mengikuti aksi.
Protes mahasiswa ini menambah daftar persoalan sosial yang memicu demonstrasi di Eropa. Biaya pendidikan menjadi salah satu isu yang terus disuarakan ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi.
Portugal Digeruduk Massa soal Harga Rumah
Sementara itu, di Lisbon, Portugal, puluhan ribu orang diperkirakan mengikuti demonstrasi untuk memprotes krisis biaya hidup. Massa menyoroti mahalnya harga rumah, lonjakan biaya sewa, serta upah rendah yang dinilai semakin menyulitkan kehidupan sehari-hari.
Persoalan perumahan menjadi salah satu sumber keresahan terbesar. Harga rumah di Portugal dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017, sementara harga sewa untuk kontrak baru juga mengalami kenaikan dengan besaran yang hampir sama.
Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin kesulitan mencari tempat tinggal, terutama di kota-kota besar. Bagi warga dengan pendapatan terbatas, kenaikan biaya perumahan bisa menggerus sebagian besar penghasilan bulanan.
Aksi demonstrasi di Lisbon pun menjadi panggung bagi warga untuk menyampaikan tuntutan kepada pemerintah. Mereka menilai para pemimpin belum cukup memahami tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Pemerintah Portugal Tegaskan Tak Akan Tunduk
Di tengah gelombang protes tersebut, Menteri Urusan Parlemen Portugal Carlos Abreu Amorim menyampaikan sikap pemerintah. Pada Jumat, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengubah sikap hanya karena tekanan demonstrasi di jalanan.
“Pemerintah tidak akan tunduk pada teriakan dari jalanan,” kata Amorim.
Pernyataan itu memperlihatkan adanya jarak antara sikap pemerintah dan keresahan yang disampaikan para demonstran. Di sisi lain, massa menilai persoalan biaya hidup dan perumahan membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar pernyataan politik.
Para demonstran juga menyuarakan anggapan bahwa pemimpin mereka tidak memahami kesulitan yang tengah dihadapi masyarakat.
Meluasnya aksi di Belgia dan Portugal menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dan akses terhadap kebutuhan dasar masih menjadi persoalan serius di sejumlah negara Eropa. Setelah demonstrasi di Italia dan Prancis, perkembangan ini menambah panjang daftar negara yang menghadapi gelombang ketidakpuasan publik pada pertengahan Oktober 2026. (*)

