KENDAL, BACAAJA– Pemerintah mulai mencari material alternatif untuk pembangunan infrastruktur pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa. Salah satu yang didorong adalah pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA), limbah sisa pembakaran batu bara.
Gagasan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan di Kantor Bupati Kendal, baru-baru ini.
FABA didorong untuk dimanfaatkan dalam pembangunan infrastruktur pengaman pantai, terutama untuk mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN) Giant Sea Wall Pantura.
Asisten Deputi Infrastruktur Sumber Daya Air dan Pangan, Suraji mengatakan, kawasan Kendal-Semarang-Demak menjadi prioritas awal proyek tanggul laut raksasa tersebut.
Per September 2026, perencanaan teknis proyek telah mencapai sekitar 80 persen. Pemerintah menargetkan groundbreaking dilakukan akhir 2026 atau awal 2027.
Baca juga: Warga Pantura Minta Giant Sea Wall Jangan Cuma Untungkan Pemodal
“Kabupaten Kendal menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi menjadi bagian prioritas Giant Sea Wall, namun di sisi lain masih menghadapi kesenjangan layanan air bersih serta ancaman banjir rob permanen yang bisa mengganggu iklim investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal,” ujar Suraji.
Karena itu, FABA diusulkan sebagai salah satu material alternatif untuk mendukung stabilitas tanah sekaligus pembangunan pengaman pesisir. Pemanfaatan tersebut juga akan diuji melalui skema kolaborasi pentahelix yang melibatkan Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kementerian PU. KEK Kendal direncanakan menjadi lokasi pilot project.
Tim peneliti Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL) Fakultas Teknik UGM, Prof Ali Awaluddin dan Dr Rafif Zufarihsan, memaparkan kebutuhan material untuk pembangunan Giant Sea Wall Pantura sangat besar.
Proyek tersebut dirancang membentang sekitar 575 kilometer. Jika seluruh kebutuhan material hanya mengandalkan pasir dan semen konvensional, persoalan ketersediaan serta biaya logistik bisa menjadi tantangan tersendiri. Di sinilah FABA mulai dilirik.
Prof Ali mengatakan potensi produksi FABA nasional mencapai sekitar 25,2 juta ton per tahun dan tersebar di sejumlah PLTU, termasuk yang berada di sepanjang Pantura.
“Hasil pengujian menunjukkan bahwa beton berbasis FABA memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap korosi air laut dan serangan sulfat, serta memiliki densitas 12 persen lebih ringan sehingga sangat menguntungkan untuk struktur di atas tanah lunak pesisir,” jelasnya. Artinya, limbah yang selama ini perlu dikelola justru berpotensi menjadi bahan konstruksi untuk menghadapi ancaman pesisir.
Dinilai Aman
Dr Eng Sito Ismanti dari UGM menambahkan, FABA juga memenuhi persyaratan geoteknik sebagai material timbunan pilihan. Dari sisi lingkungan, hasil pengujian leaching atau pelindian logam berat disebut berada di bawah baku mutu sehingga dinilai aman untuk digunakan.
Selain FABA, peneliti UGM juga memperkenalkan inovasi pembenah tanah bernama “Gama Humat”. Material tersebut merupakan hasil ekstraksi batu bara kalori rendah dan dikembangkan untuk mendukung rehabilitasi lahan serta ketahanan pangan.
Persoalan pesisir Kendal ternyata tidak berhenti pada rob dan abrasi. Penurunan muka tanah juga menjadi perhatian serius, terutama di kawasan industri dan permukiman.
Pemerintah Kabupaten Kendal mendorong percepatan pembangunan Bendungan Kali Bodri serta perluasan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional.
Penyediaan air baku dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah. Ekstraksi air tanah secara berlebihan selama ini menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan muka tanah.
Dalam rapat tersebut, pihak Kejaksaan Tinggi juga menyatakan dukungan terhadap pemanfaatan FABA sebagai material alternatif. Namun, dukungan tersebut dibarengi catatan.
Baca juga: Proyek Giant Sea Wall Pantura Dimulai
Status aset, transparansi transaksi, hingga pemenuhan baku mutu lingkungan harus dipastikan sejak awal untuk mencegah persoalan hukum, pencemaran maupun potensi kerugian negara.
Kejaksaan menyatakan siap memberikan pendampingan hukum melalui bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun). Sebagai tindak lanjut, tim gabungan akan melakukan site visit ke lokasi yang direncanakan menjadi pilot project di Kendal.
Hasil peninjauan tersebut selanjutnya akan menjadi bahan rekomendasi kepada Badan Pengelola Sentra Pembangunan (BOPPJ) terkait penerapan FABA dalam proyek Giant Sea Wall.
Jika rencana ini berjalan, Kendal bukan hanya menjadi salah satu wilayah yang berada di garis depan menghadapi rob Pantura. Kabupaten tersebut juga bisa menjadi tempat pembuktian apakah limbah batu bara benar-benar bisa naik kelas, dari sekadar limbah menjadi material untuk menyelamatkan kawasan pesisir.
Selama ini laut naik, tanah turun, dan limbah batu bara menumpuk. Sekarang pemerintah mencoba membalik ceritanya: yang satu ditahan, yang satu dimanfaatkan. Tinggal dibuktikan, apakah konsepnya sekokoh tanggul yang mau dibangun. (tebe)

