Kurniawan Seno Aji adalah mahasiswa Akidah dan Filsafat Islam, UIN Walisongo Semarang.
Di kampus, mereka harus hidup tanpa pengawasan, harus mendisiplinkan dan menertibkan diri sendiri.
Ketika tahun ajaran baru tiba, pada saat mahasiswa baru berbondong-bondong memasuki dunia baru dan dinamika baru baginya, pada saat itulah seorang mahasiswa ditantang untuk menghadapi tantangan “dunia baru”. Ceritanya akan jadi lain bagi seorang santri.
Bagi seorang santri lulusan pondok pesantren yang kemudian ia menjadi mahasiswa baru, kemungkinan besar ia akan mengalami culture shock. Mereka harus menghadapi dinamika baru yang berbeda dengan sebelumnya.
Dulu mereka menjalani kehidupan penuh pengawasan, ketertiban, hingga kedisiplinan. Mulai dari bangun pagi, berangkat sekolah tepat waktu, dan ketertiban dan kedisiplinan lain dari pagi tiba hingga malam. Kebiasaan tersebut membentuk mereka menyadari identitas mereka sebagai santri.
Saat masuk di dunia baru bernama kampus, mereka biasanya mulai mengalami krisis identitas. Mahasiswa baru yang dulu seorang santri mengalami kebingungan dalam menyikapi kehidupan kampus. Mereka menganggap bahwa nilai-nilai atau bahkan budaya yang mereka bawa dari pesantren berbeda dengan dunia kampus.
Di kampus, mereka harus hidup tanpa pengawasan, harus mendisiplinkan dan menertibkan diri sendiri. Mereka mengalami kebingungan dalam menentukan pegangan nilai sebagai pedoman diri. Dunia kampus sama sekali berbeda dari pesantren. Dampaknya, mereka mengalami krisis identitas yang nyata.
Erik Erikson (1902-1994) seorang psikolog Jerman-Amerika yang terkenal dengan teorinya tentang perkembangan psikososial, menyebut krisis identitas sebagai momen bagi seseorang menganalisis dan mengeksplorasi diri dari cara yang berbeda (Cherry, 2016). Pada masa eksplorasi itu, seorang mahasiswa baru akan melihat perspektif lain selain sudut pandangnya.
Maka dari itu, pada saat menjalani proses menganalisis dan meksplorasi diri itu, mereka harus menjalani fenomena-fenomena di dunia kampus. Setiap mahasiswa baru dapat menemukan identitasnya di dunia kampus dan menyatu dengan setiap dinamika yang terjadi. Di sana mereka menemukan atau memilih identitas yang harus disandang sebagai sebuah pegangan sesuai dengan kehendak diri sendiri.
Menurut Erikson,“identity is never established as an achivement” (Erikson, 1968: 24). Identitas bukan suatu ending dari sebuah proses atau pencapaian. Identitas bukanlah hasil akhir. Identitas adalah sesuatu proses yang dinamis, dapat berubah, dan akan selalu berkembang.
Identitas merupakan “forever to-rerecived sense of reality of the self within social reality” (1968: 221). Maka setiap santri yang kemudian memasuki level baru menjadi mahasiswa baru, ia harus berprogres untuk menemukan versi diri yang lebih baik. Ia harus bisa berdaptasi sebagai seorang santri yang harus berhadapan dengan lingkungan yang tidak pernah berhenti berubah.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


