Yuli Retno Indah Peratiwi adalah mahasiswi Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang. Tinggal di Jalan Gajah, Semarang.
Persoalan pensiun bukan hanya cerita tentang orang tua kita hari ini. Tetapi juga gambaran masa depan generasi yang sedang bekerja sekarang.
Bagi sebagian orang, pensiun punya tanggal yang jelas. Ada surat keputusan, serah terima jabatan, lalu gaji pensiun yang ditunggu setiap bulan.
Namun, bagi pedagang, petani, pemilik warung, atau pekerja mandiri, pensiun bisa menjadi peristiwa yang sangat sederhana. Tubuh sudah tidak sanggup lagi bekerja. Tidak ada SK, tidak ada seremoni, bahkan mungkin tidak ada yang mengucapkan “selamat menikmati masa pensiun.”
Padahal berhenti bekerja bukan sekadar kehilangan pemasukan. Bagi lansia non-pegawai, pekerjaan sering kali telah menjadi identitas. Puluhan tahun dikenal sebagai “Pak Pemilik Toko” atau “Bu Penjual Sayur” membuat pekerjaan menjadi panggung sosial sekaligus sumber rasa dibutuhkan. Ketika usaha berhenti atau dialihkan kepada anak, panggung itu mendadak kosong.
Inilah sisi pensiun yang jarang dibicarakan: krisis identitas. Tidak ada istilah resmi untuk post-power syndrome versi pemilik warung. Tetapi rasa kehilangan peran tetap nyata. Interaksi dengan pelanggan, pemasok, tetangga, bahkan rutinitas membuka toko setiap pagi merupakan bagian dari kehidupan sosial. Ketika semua itu hilang, rumah bisa terasa jauh lebih sunyi daripada sebelumnya.
Persoalannya kemudian ialah, tidak lagi bekerja artinya kehilangan sumber pemasukan ekonomi. Dari berberapa sumber mencatat, sebanyak 7,3 juta atau 78,5 persen dari 9,4 juta lansia bekerja berada di sektor informal, dengan penghasilan, waktu kerja, dan perlindungan kerja yang tidak pasti.
Kondisi itu menunjukkan bahwa bekerja sampai usia lanjut tidak selalu berarti seseorang masih produktif dan sejahtera. Sangat mungkin, ia bekerja karena memang belum memiliki pilihan untuk berhenti.
Kajian Bappenas bahkan menunjukkan pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) menghadapi keterbatasan akses terhadap program Jaminan Pensiun. Padahal, populasi lansia Indonesia diproyeksikan mencapai 20,31 persen dari total penduduk pada 2045.
Artinya, persoalan pensiun bukan hanya cerita tentang orang tua kita hari ini. Tetapi juga gambaran masa depan generasi yang sedang bekerja sekarang.
Belum selesai soal uang, kesehatan ikut mengetuk pintu. WHO menekankan pentingnya pembiayaan long-term care agar lansia memperoleh layanan berkualitas tanpa mengalami kesulitan finansial.
Di Indonesia, pembiayaan publik telah menopang program perawatan jangka panjang bagi lebih dari 625.000 lansia. Terutama mereka yang berpendapatan rendah dan memiliki keterbatasan akses.
Karena itu, lansia membutuhkan lebih dari sekadar nasihat untuk “menikmati masa tua”. Mereka membutuhkan ruang untuk tetap berperan: komunitas, kegiatan sosial, hobi, atau aktivitas yang membuat mereka merasa dihargai. Sementara itu, generasi muda perlu belajar mempersiapkan dana pensiun sejak dini.
Pensiun seharusnya bukan akhir dari kebermanfaatan seseorang. Dan bagi mereka yang tidak pernah memiliki SK pensiun, jangan sampai saat berhenti dari pekerjaan otomatis menjadi berhentinya rasa berharga dalam diri mereka. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

