BACAAJA, JAKARTA – Perjalanan haji memang bukan perjalanan biasa. Selain fisik yang harus kuat, urusan barang bawaan juga sering jadi perhatian para jemaah sejak berangkat dari Tanah Air sampai pulang kembali. Di tengah padatnya aktivitas dan proses bongkar muat yang terus berjalan, koper jemaah kadang ikut kena imbas dan mengalami kerusakan cukup parah.
Situasi seperti inilah yang mulai diantisipasi maskapai Garuda Indonesia di musim haji tahun 2026. Maskapai nasional tersebut menyerahkan puluhan koper cadangan kepada Kantor Daerah Kerja atau Daker Bandara di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Jumat dini hari, 8 Mei 2026.
Total ada 49 koper cadangan yang disiapkan khusus untuk membantu jemaah yang mengalami kerusakan koper selama perjalanan. Bantuan ini bukan sekadar formalitas, tetapi memang diproyeksikan untuk mengganti koper yang benar-benar sudah tidak layak dipakai lagi.
Di tengah ramainya area bandara yang dipenuhi lalu lalang jemaah Indonesia, penyerahan koper itu menjadi perhatian tersendiri. Banyak jemaah memang cukup khawatir kalau koper rusak karena barang bawaan haji biasanya cukup banyak dan dipakai untuk perjalanan panjang lintas negara.
Kepala Daker Bandara, Abdul Basir, menjelaskan koper pengganti tersebut tidak diberikan untuk semua jenis kerusakan. Ada proses penilaian tertentu sebelum koper dinyatakan layak diganti oleh pihak penyelenggara.
Menurut Basir, koper dengan kondisi rusak ringan tidak masuk kategori penggantian. Jadi kalau hanya lecet kecil, roda agak seret, atau bagian tertentu masih bisa dipakai, jemaah kemungkinan belum bisa memperoleh koper baru dari stok cadangan tersebut.
Penggantian diprioritaskan untuk koper yang benar-benar rusak berat dan sudah sulit digunakan kembali. Misalnya bagian rangka pecah, roda copot parah, atau resleting tidak lagi bisa dipakai sehingga mengganggu proses kepulangan jemaah ke Indonesia.
Meski koper cadangan sudah tersedia di Jeddah, proses pembagiannya ternyata tidak langsung dilakukan di area bandara. Jemaah juga tidak otomatis menerima koper baru sesaat setelah melapor mengalami kerusakan.
Proses penukarannya akan dilakukan melalui Daker Makkah atau Madinah menjelang jadwal kepulangan ke Tanah Air. Langkah ini dilakukan agar distribusi koper tetap tertata dan sesuai data jemaah yang benar-benar membutuhkan penggantian.
Untuk mengajukan penggantian koper, jemaah juga harus mengikuti mekanisme yang sudah ditentukan. Prosesnya dimulai dengan pelaporan kepada ketua kloter masing-masing. Biasanya laporan tersebut disertai foto kondisi koper yang mengalami kerusakan.
Setelah itu, laporan akan diteruskan secara berjenjang mulai dari ketua kloter ke kepala sektor hingga pihak Daker. Dari sana akan dilakukan asesmen atau pemeriksaan untuk memastikan apakah koper tersebut memang masuk kategori rusak berat.
Sistem berjenjang ini dibuat supaya distribusi koper cadangan lebih tepat sasaran. Apalagi jumlah koper pengganti yang tersedia juga terbatas sehingga perlu dipastikan benar-benar digunakan oleh jemaah yang membutuhkan.
Pihak Daker sendiri berharap stok 49 koper dari Garuda Indonesia cukup untuk mengatasi laporan kerusakan yang ada selama fase operasional haji berlangsung. Namun kemungkinan penambahan tetap terbuka jika jumlah koper rusak ternyata lebih banyak dari perkiraan awal.
Kalau nantinya kebutuhan meningkat, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH akan kembali berkoordinasi dengan pihak maskapai. Langkah itu dilakukan agar jemaah tidak terlalu terbebani akibat kerusakan barang bawaan menjelang pulang ke Indonesia.
Tidak hanya Garuda Indonesia, maskapai Saudia Airlines juga ternyata sudah lebih dulu menyiapkan fasilitas serupa. Maskapai tersebut sebelumnya menyerahkan puluhan koper cadangan pada fase kedatangan gelombang pertama di Madinah.
Menurut Abdul Basir, jumlah koper cadangan dari Saudia Airlines berkisar 30 unit. Meski begitu, pihak maskapai disebut siap menambah stok apabila kebutuhan di lapangan terus bertambah selama musim haji berlangsung.
Langkah penyediaan koper cadangan ini dianggap cukup membantu menenangkan para jemaah. Sebab bagi sebagian orang, koper bukan sekadar tempat menyimpan pakaian, tetapi juga menyimpan oleh-oleh hingga barang penting selama perjalanan ibadah.
General Manager Garuda Indonesia di Jeddah, Nano Setiawan, mengatakan pihaknya berharap keberadaan koper pengganti bisa membantu menyelesaikan kendala logistik yang muncul akibat proses operasional perjalanan haji yang sangat padat.
Nano juga berharap jemaah bisa merasa lebih tenang ketika mengetahui ada solusi jika koper mereka mengalami kerusakan berat. Menurutnya, pelayanan terhadap jemaah tidak hanya soal penerbangan, tetapi juga kenyamanan selama seluruh proses perjalanan berlangsung.
Di tengah ribuan jemaah yang terus berdatangan dan bergerak dari satu kota ke kota lain di Arab Saudi, urusan koper memang terlihat sederhana, tetapi ternyata cukup penting. Karena itulah, keberadaan koper cadangan ini akhirnya jadi bentuk perhatian kecil yang terasa besar bagi para tamu Allah yang sedang menjalankan ibadah haji jauh dari rumah. (*)

