BACAAJA, ACEH – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengabarkan kabar yang cukup melegakan untuk warga di daerah terdampak bencana di Aceh. Ia bilang kalau Starlink ngasih layanan internet gratis selama satu bulan penuh khusus untuk lokasi-lokasi yang lagi berjuang bangkit. Kebijakan ini datang langsung dari perusahaan, bukan permintaan pemerintah, jadi sifatnya memang bantuan kemanusiaan.
Nezar menjelaskan, pola bantuan internet gratis ini bukan cuma berlaku di Indonesia. Di banyak negara lain yang juga pernah dilanda bencana, Starlink menerapkan kebijakan yang sama: pasang unit, kasih akses internet cepat, dan gratiskan selama masa darurat. Aceh pun jadi salah satu yang kebagian.
Beberapa titik yang sudah terhubung dengan internet satelit itu antara lain Pidie, Pidie Jaya, Bireun, Aceh Tamiang, Bener Meriah, sampai Takengon. Semua dipilih karena jadi wilayah paling membutuhkan akses komunikasi cepat setelah banjir dan longsor memutus banyak jalur telekomunikasi darat.
Akses Internet Jadi Kebutuhan Mendesak
Menurut Nezar, kehadiran internet gratis ini sangat membantu di posko-posko pengungsian. Warga bisa tetap terhubung, memberi kabar ke keluarga, serta membantu relawan mengatur distribusi logistik. Meski kadang ada latency atau delay saat hujan deras, secara umum jaringan Starlink tetap jalan dengan stabil.
Ia bilang konektivitas di Aceh masih naik turun, terutama karena pasokan listrik yang belum sepenuhnya pulih. Dari total 3.414 BTS di Aceh, baru 1.789 BTS yang sudah kembali aktif. Itu artinya baru sekitar 52 persen yang berfungsi. Target pemerintah adalah mencapai minimal 75 persen selama masa tanggap darurat.
Nezar menyebut akses jaringan itu pernah naik sampai 62 persen, lalu turun lagi saat listrik terganggu. Fluktuatif, tapi terus dikejar biar makin stabil. Pemerintah ingin proses komunikasi di lapangan lancar karena sangat menentukan penanganan bencana.
Perbaikan Listrik Jadi Kunci Internet Stabil
Kementerian Komunikasi dan Digital juga terus merapatkan koordinasi dengan PLN untuk memulihkan suplai energi. Daerah yang belum teraliri listrik akhirnya harus mengandalkan genset, sehingga Pertamina pun turun tangan memasok BBM untuk operasionalnya.
Nezar bilang prioritasnya sederhana: daerah yang masih kritis harus tetap dapat sinyal. Ini penting karena akses komunikasi memengaruhi kecepatan distribusi bantuan. Tim Balai Monitoring juga dikerahkan untuk memetakan titik-titik yang masih gelap sinyal dan memastikan operator seluler bisa segera bergerak.
Selain itu, koordinasi dengan BNPB, pemda, TNI, dan Polri juga terus berjalan. Semua bergerak bersama untuk memastikan jaringan Aceh kembali normal secepat mungkin. Dengan begitu, komunikasi warga, relawan, hingga pemerintah jadi lebih lancar di tengah proses pemulihan. (*)


