BACAAJA, BATANG – Cerita ini bikin dada sesak. Junaenah, Wakil Ketua DPRD Batang, harus menelan kenyataan pahit setelah uang hampir Rp1,3 miliar di rekeningnya mendadak ludes tak bersisa.
Yang bikin makin nyesek, duit itu bukan cuma miliknya pribadi. Ada titipan para petani gabah yang selama ini kerja bareng dalam bisnis beras yang ia jalankan.
Semua bermula dari satu klik. Sebuah file undangan berbentuk APK sempat ia buka, tanpa curiga kalau itu bakal jadi awal petaka.
Malam sebelum kejadian, ponselnya tiba-tiba nge-hang dan tak bisa dipakai. Besoknya, perangkat itu benar-benar tak bisa dioperasikan seperti biasa.
Merasa ada yang aneh, ia langsung ambil langkah cepat. Layanan digital banking diblokir, aplikasi perbankan dihapus, berharap semua aman terkendali.
Sebagai pengusaha beras yang transaksinya gede-gede, ia tetap butuh mobile banking buat bayar ke Bulog. Akhirnya, ia memutuskan aktivasi ulang layanan BRImo di kantor Bank Rakyat Indonesia Cabang Batang.
Proses registrasi ulang dilakukan di kantor cabang, dibantu petugas customer service. Ia bahkan sempat minta agar email dan nomor lama tak lagi dipakai, walau katanya hanya sementara.
Tanpa ia tahu, akunnya juga terdaftar di layanan IBiz dengan limit transaksi harian yang nilainya bisa tembus puluhan miliar rupiah. Sebuah detail yang belakangan bikin banyak orang mengernyit.
Tak lama setelah aktivasi, muncul notifikasi kalau akunnya dipakai di perangkat lain. Padahal ponsel ada di rumah dan tak disentuh siapa-siapa.
Saat coba login, aksesnya sudah mentok. “Seperti ada yang mengendalikan dari tempat lain,” ujarnya.
Paginya, ia datang ke bank untuk cetak rekening koran. Dari saldo sekitar Rp1,3 miliar, yang tersisa cuma sekitar Rp100 ribu.
Riwayat transaksi menunjukkan transfer bertahap ke sejumlah rekening bank lain dalam waktu yang terbilang singkat. Duit mengalir cepat, nyaris tanpa jeda.
Sebagai nasabah prioritas, ia berharap penanganannya juga prioritas. Namun yang didapat justru diminta sabar menunggu investigasi dari kantor pusat.
Ia mengaku kesulitan bertemu langsung dengan pimpinan cabang. Penjelasan detail pun belum bisa diberikan ke publik karena disebut masih dalam proses internal.
Kasus ini kembali menampar keras soal keamanan digital. Di tengah gampangnya transaksi online, satu celah kecil bisa bikin kerugian jumbo.
Apalagi modus file APK berkedok undangan sudah sering diingatkan sebagai pintu masuk peretasan. Tapi nyatanya, masih banyak yang jadi korban.
Yang bikin situasi makin pelik, dana yang raib itu berkaitan dengan roda usaha para petani. Ada harapan banyak orang yang ikut terguncang.
Pertanyaan pun bermunculan. Sejauh mana sistem perbankan benar-benar aman, dan bagaimana tanggung jawabnya kalau dana nasabah bisa terkuras begitu cepat?
Di era serba digital, kepercayaan adalah segalanya. Sekali retak, butuh waktu panjang untuk memulihkannya.
Sampai sekarang, Junaenah masih menunggu kejelasan. Bukan cuma soal uang yang hilang, tapi juga kepastian bahwa kejadian serupa tak lagi terulang pada nasabah lain. (*)


