BACAAJA< BANYUMAS – Di tengah dunia yang makin lengket sama layar, teater masih berani berdiri tegak. Saat kebanyakan orang sibuk scrolling TikTok atau binge-watching drama Korea, Teater Sanggar Seni Samudra di Purwokerto justru kembali bikin ribut—dalam arti positif.
Pertunjukan terbaru mereka yang berjudul Kembang Mangsan, adaptasi karya sastrawan Jarot C. Setyoko, sukses besar. Gedung Soetedja yang cuma muat sekitar 500 orang itu malah penuh sesak. Penonton berdiri, berdesakan, tapi tetap betah sampai tirai terakhir turun.
Bukan cuma penontonnya yang kagum, tapi juga pejabat dan para pelaku teater senior. Kepala Dinporabudpar Banyumas, Setya Rahendra, bahkan terang-terangan bilang kalau ini salah satu pertunjukan paling memikat yang pernah ia tonton.
“Baru kali ini saya nonton teater sampai lupa waktu. Teater Samudra keren banget, beda dari yang lain. Kreatif, hidup, dan terasa nyata,” ujarnya masih terkesima.
Senada dengan itu, Edhi Romadhon—teatrawan senior yang udah puluhan tahun di panggung—mengakui kalau Teater Samudra punya cara main yang segar.
“Mereka gak cuma main naskah, tapi juga mainkan emosi penonton. 1,5 jam nonton, gak ngerasa bosan sedikit pun,” katanya.
Yang bikin menarik, pertunjukan ini gak cuma ngambil hati generasi tua, tapi juga bikin generasi Z ikut jatuh cinta. Salah satunya Rafli, pelajar SMA yang baru pertama kali nonton teater langsung.
“Gila, teaternya keren banget! Efek tembak, darah, sama properti-nya kayak nonton film bioskop,” ucap Rafli dengan semangat.
Buat banyak orang, kesuksesan ini kayak angin segar di tengah lesunya dunia seni panggung. Soalnya, gak sedikit komunitas teater yang sekarang kesulitan cari penonton.
Teater Samudra justru ngelawan arus itu. Mereka gak cuma tampil, tapi juga beradaptasi. Dari tata cahaya, efek visual, sampai sound design—semuanya digarap serius dan kekinian.
Mereka paham betul, penonton zaman sekarang gak cukup dikasih dialog panjang dan musik latar klasik. Harus ada kejutan, sesuatu yang nempel di kepala.
Dan itulah yang mereka kasih lewat Kembang Mangsan. Cerita yang kuat, akting yang dalem, dan visual yang memanjakan mata.
Buat penonton, pertunjukan ini bukan sekadar tontonan. Tapi pengalaman. Sesuatu yang gak bisa disamain sama hiburan digital mana pun.
Beberapa orang bahkan nyeletuk, “Teater Samudra tuh kayak konser tapi tanpa nyanyi.” Intens, interaktif, dan penuh emosi.
Fenomena ini juga jadi bukti kalau teater gak akan mati. Selama masih ada yang mau nyentuh penonton lewat cerita dan emosi, panggung bakal tetap hidup.
Teater Samudra membuktikan kalau kreativitas bisa jadi jembatan antara dunia lama dan dunia digital. Antara tradisi dan inovasi.
Dan mungkin, di tengah gempuran algoritma dan layar sentuh, teater adalah satu-satunya tempat di mana orang masih bisa benar-benar hadir.
Tanpa notifikasi. Tanpa jeda. Hanya manusia, emosi, dan panggung yang bicara. (*)


