Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kembang Mangsan dan Panggung yang Tak Mau Padam di Era Digital
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Kembang Mangsan dan Panggung yang Tak Mau Padam di Era Digital

Pertunjukan terbaru mereka yang berjudul Kembang Mangsan, adaptasi karya sastrawan Jarot C. Setyoko, sukses besar. Gedung Soetedja yang cuma muat sekitar 500 orang itu malah penuh sesak. Penonton berdiri, berdesakan, tapi tetap betah sampai tirai terakhir turun.

Nugroho P.
Last updated: November 5, 2025 4:24 pm
By Nugroho P.
3 Min Read
Share
Teater Sanggar Seni Samudra menunjukkan bahwa panggung teater belum padam. Alih-alih kehilangan penonton, pertunjukan terbaru mereka yang berjudul Kembang Mangsan, adaptasi dari karya sastrawan Jarot C. Setyoko, justru sukses total.
SHARE

BACAAJA< BANYUMAS – Di tengah dunia yang makin lengket sama layar, teater masih berani berdiri tegak. Saat kebanyakan orang sibuk scrolling TikTok atau binge-watching drama Korea, Teater Sanggar Seni Samudra di Purwokerto justru kembali bikin ribut—dalam arti positif.

Pertunjukan terbaru mereka yang berjudul Kembang Mangsan, adaptasi karya sastrawan Jarot C. Setyoko, sukses besar. Gedung Soetedja yang cuma muat sekitar 500 orang itu malah penuh sesak. Penonton berdiri, berdesakan, tapi tetap betah sampai tirai terakhir turun.

Bukan cuma penontonnya yang kagum, tapi juga pejabat dan para pelaku teater senior. Kepala Dinporabudpar Banyumas, Setya Rahendra, bahkan terang-terangan bilang kalau ini salah satu pertunjukan paling memikat yang pernah ia tonton.

“Baru kali ini saya nonton teater sampai lupa waktu. Teater Samudra keren banget, beda dari yang lain. Kreatif, hidup, dan terasa nyata,” ujarnya masih terkesima.

Senada dengan itu, Edhi Romadhon—teatrawan senior yang udah puluhan tahun di panggung—mengakui kalau Teater Samudra punya cara main yang segar.

“Mereka gak cuma main naskah, tapi juga mainkan emosi penonton. 1,5 jam nonton, gak ngerasa bosan sedikit pun,” katanya.

Yang bikin menarik, pertunjukan ini gak cuma ngambil hati generasi tua, tapi juga bikin generasi Z ikut jatuh cinta. Salah satunya Rafli, pelajar SMA yang baru pertama kali nonton teater langsung.

“Gila, teaternya keren banget! Efek tembak, darah, sama properti-nya kayak nonton film bioskop,” ucap Rafli dengan semangat.

Buat banyak orang, kesuksesan ini kayak angin segar di tengah lesunya dunia seni panggung. Soalnya, gak sedikit komunitas teater yang sekarang kesulitan cari penonton.

Teater Samudra justru ngelawan arus itu. Mereka gak cuma tampil, tapi juga beradaptasi. Dari tata cahaya, efek visual, sampai sound design—semuanya digarap serius dan kekinian.

Mereka paham betul, penonton zaman sekarang gak cukup dikasih dialog panjang dan musik latar klasik. Harus ada kejutan, sesuatu yang nempel di kepala.

Dan itulah yang mereka kasih lewat Kembang Mangsan. Cerita yang kuat, akting yang dalem, dan visual yang memanjakan mata.

Buat penonton, pertunjukan ini bukan sekadar tontonan. Tapi pengalaman. Sesuatu yang gak bisa disamain sama hiburan digital mana pun.

Beberapa orang bahkan nyeletuk, “Teater Samudra tuh kayak konser tapi tanpa nyanyi.” Intens, interaktif, dan penuh emosi.

Fenomena ini juga jadi bukti kalau teater gak akan mati. Selama masih ada yang mau nyentuh penonton lewat cerita dan emosi, panggung bakal tetap hidup.

Teater Samudra membuktikan kalau kreativitas bisa jadi jembatan antara dunia lama dan dunia digital. Antara tradisi dan inovasi.

Dan mungkin, di tengah gempuran algoritma dan layar sentuh, teater adalah satu-satunya tempat di mana orang masih bisa benar-benar hadir.

Tanpa notifikasi. Tanpa jeda. Hanya manusia, emosi, dan panggung yang bicara. (*)

You Might Also Like

Prabowo-Trump Sepakat: Indonesia Kena Tarif 19 Persen, Produk AS Bebas Bea Masuk RI

Duo Hartono Masih yang Tertajir

Dari Rokok ke Raket: Michael Bambang Hartono Tutup Usia, Warisannya Nggak Main-Main

Kirab Umbul Mantram Grebeg Sudiro, Respati: Kerukunan Etnis di Solo Makin Solid

6 Mahasiswa Hanyut di Kendal, UIN Walisongo Janji Evaluasi KKN

TAGGED:pementasanpementasan teatersanggar samudra
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Usik Toraja, Pandji Kena Denda Kerbau Sebanyak Ini
Next Article Wakapolda Jateng (kanan) dan Dirreskrimum Polda menggelar konferensi pers di kantornya, Rabu (5/10/2025).  Dua Bintara Polisi Terseret Kasus Calo Masuk Akpol 2025

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Arus Deras Tak Halangi, Warga Nekat Antar MBG

Sah Jadi Pasangan, Inayah Wahid Pilih Nikah Hangat Sederhana

Prasmanan MBG Seru Bikin Siswa Lahap, Program Unik Nih…

AI Makin Ganas, Gen Z Paling Kena Dampak PHK

Hashim: Baru Setahun Lebih Sudah Ada yang Mau Gulingkan Prabowo

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Hujan Tak Henti, Tiga Kabupaten di Banyumas Raya Diterjang Longsor

November 10, 2025
Hukum

Dewan Pers Dukung Uji Materi UU Pers: Biar Wartawan Gak Lagi Was-Was Saat Liputan

September 6, 2025
Info

BNPB Siap Normalisasi Kali Juwana

Januari 16, 2026
Manajer Kampanye dan Media Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah, Zalya Tilaar. (bae)
Info

Semarang Atas Terus Dibangun: Lahan Resapan Pelan-pelan Hilang, Banjir Selalu Datang

Maret 7, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kembang Mangsan dan Panggung yang Tak Mau Padam di Era Digital
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?