BACAAJA, SEMARANG – Cuaca di Jawa Tengah tahun ini diprediksi bakal beda dari biasanya. Sejumlah wilayah bahkan disebut-sebut bakal ngalamin kemarau yang jauh lebih panjang dari normal.
Berdasarkan data dari BMKG melalui Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, durasi kemarau 2026 umumnya berkisar 5 sampai 6 bulan. Tapi ada daerah tertentu yang bisa merasakan kering lebih lama.
Yang bikin kaget, durasi terpanjang bisa tembus sampai 8 hingga 9 bulan. Ini jelas di atas rata-rata kondisi normal yang biasanya lebih singkat.
Wilayah yang diprediksi paling lama mengalami kemarau ada di Pati dan Rembang. Meski hanya sebagian wilayah, dampaknya tetap perlu diwaspadai.
Secara umum, awal musim kemarau di Jawa Tengah diperkirakan mulai Mei 2026. Tapi kenyataannya, beberapa daerah sudah lebih dulu merasakan panas sejak April.
Wilayah seperti Rembang, Kepulauan Karimunjawa, hingga sebagian besar Pati dan Jepara masuk kategori yang lebih cepat kering.
Sebaliknya, ada juga daerah yang justru lebih santai karena kemaraunya datang belakangan. Wilayah ini baru mulai masuk musim kering sekitar pertengahan Juni.
Daerah yang mengalami kemarau lebih lambat ini mencakup Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara.
Perbedaan waktu ini menunjukkan bahwa kondisi iklim di Jateng cukup beragam. Nggak semua daerah merasakan musim yang sama di waktu yang sama.
Selain durasi panjang, ada juga wilayah yang justru mengalami kemarau lebih singkat. Durasi ini hanya sekitar 10 sampai 12 dasarian.
Beberapa wilayah di Purbalingga, Brebes, hingga Kebumen masuk dalam kategori ini. Artinya, periode keringnya relatif lebih cepat selesai.
Ada juga kelompok wilayah dengan durasi sedang, sekitar 13 hingga 15 dasarian. Ini tersebar di beberapa daerah seperti Cilacap, Purworejo, hingga Temanggung.
Sementara itu, durasi kemarau yang tergolong “normal” berada di kisaran 16 sampai 18 dasarian.
Wilayah seperti Kota Magelang, sebagian Semarang, hingga Boyolali termasuk dalam kategori ini.
Melihat pola ini, masyarakat di daerah yang mengalami kemarau panjang perlu lebih waspada.
Terutama terkait ketersediaan air bersih dan potensi kekeringan di sektor pertanian.
Petani jadi salah satu yang paling terdampak jika musim kering berlangsung lebih lama dari biasanya.
Karena itu, langkah antisipasi seperti pengelolaan irigasi dan cadangan air jadi penting.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga diharapkan mulai bersiap sejak dini.
Mulai dari pemetaan wilayah rawan hingga penyediaan bantuan jika terjadi kekeringan ekstrem.
Kemarau panjang bukan cuma soal panas, tapi juga soal ketahanan lingkungan dan ekonomi warga.
Apalagi kalau durasinya sampai sembilan bulan, dampaknya bisa cukup luas.
Untuk saat ini, prakiraan ini jadi peringatan awal agar semua pihak lebih siap.
Karena cuaca mungkin nggak bisa dikendalikan, tapi dampaknya masih bisa diantisipasi. (*)


