BACAAJA, SEMARANG- Musim kemarau di Jateng belum berakhir. BMKG mencatat sebagian wilayah masih kering, bahkan ada yang sudah lebih dari empat bulan tidak diguyur hujan.
Berdasarkan data BMKG per 20 September 2026, hari tanpa hujan terpanjang terjadi di Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, yang mencapai 139 hari.
Setelah Jatisrono, ada Kecamatan Selogiri, Wonogiri, dengan 127 hari tanpa hujan. Kemudian Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, yang sudah 126 hari tak turun hujan.
Baca juga: Antisipasi Kemarau, Jateng Siapkan 123 Juta Liter Air
Secara umum, sebagian besar wilayah Jateng berada pada kategori 11-20 hari tanpa hujan hingga lebih dari 60 hari. Artinya, kondisi kering masih cukup luas di Jateng.
Meski begitu, beberapa wilayah masih punya kondisi yang lebih basah. Sebagian Banyumas, Wonosobo, Temanggung, Cilacap, Kebumen, dan Kabupaten Semarang masih berada di luar kategori kekeringan panjang.
Tanpa Hujan
Untuk wilayah lain seperti Purworejo, Banjarnegara, Brebes, Pekalongan, Magelang, Boyolali, Sragen, Rembang, Kudus, hingga Kota Semarang, sebagian kecil wilayahnya tercatat hanya mengalami 1-10 hari tanpa hujan.
Yang bikin kondisi ini perlu diperhatikan, hujan dalam waktu dekat juga belum diprediksi merata. BMKG menyebut seluruh wilayah Jateng memiliki peluang lebih dari 70 persen mengalami curah hujan rendah atau di bawah 50 milimeter per dasarian pada 21-30 September.
Baca juga: Kemarau Panjang Ngintip Jateng, Ada Yang Sampai Sembilan Bulan
Peluang hujan kategori menengah memang ada, tetapi masih sangat kecil. BMKG mencatat peluang tersebut hanya sekitar 10-30 persen dan terbatas di sebagian kecil wilayah Jateng bagian tengah.
Kondisi kering juga diperkirakan masih berlanjut sampai awal Oktober. Pada dasarian ketiga September hingga dasarian pertama Oktober, seluruh Jateng diprediksi masih berada pada kategori curah hujan rendah.
Artinya, kalender sudah mendekati pergantian bulan, tetapi hujan belum tentu ikut berganti arah. Bagi wilayah yang telah berbulan-bulan menunggu air dari langit, awal Oktober masih menyisakan pertanyaan: kapan kemarau benar-benar selesai? (bae)

