BACAAJA, CARACAS – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan khusus Amerika Serikat bikin banyak orang geleng-geleng kepala.
Bukan cuma soal operasi militernya yang rapi, tapi juga karena pengamanan presiden Venezuela seperti menghilang begitu saja.
Publik pun bertanya-tanya, sebenarnya ke mana Paspampres Venezuela saat presidennya diseret dari kamar tidur?
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap Sabtu dini hari di sebuah lokasi yang disebut sebagai markas militer dengan tingkat keamanan tinggi.
Operasi dilakukan pasukan elite Delta Force AS dengan dukungan FBI dan CIA. Anehnya, nyaris tak ada perlawanan berarti dari pasukan pengamanan setempat.
Secara teori, seorang presiden seperti Maduro dijaga berlapis-lapis. Ada Casa Militar sebagai Paspampres, unit elite Bolivarian, hingga intelijen internal.
Dalam kondisi normal, skenario presiden ditangkap pasukan asing terdengar mustahil, tapi kejadian ini justru membalik semua asumsi.
Situasi ini memunculkan spekulasi liar. Ada yang menduga terjadi kolusi internal, ada pula yang menilai Paspampres lengah di saat krusial.
Tak sedikit juga yang meyakini AS menjalankan operasi pengelabuan tingkat tinggi yang benar-benar bikin lawan mati langkah.
Sumber-sumber AS mengungkap operasi ini disiapkan sangat lama dan detail. Delta Force bahkan disebut membuat replika persis tempat persembunyian Maduro untuk latihan masuk dan keluar lokasi.
Sementara CIA sudah menurunkan tim kecil sejak Agustus untuk mempelajari pola hidup sang presiden.
Intelijen AS juga dikabarkan punya aset yang sangat dekat dengan lingkaran Maduro. Aset ini memantau pergerakan dan memastikan lokasi target secara real time. Dengan informasi seakurat itu, peluang gagal nyaris tak ada.
Keputusan akhir operasi disebut disetujui Presiden AS Donald Trump empat hari sebelum eksekusi. Namun, para perencana militer meminta waktu tambahan menunggu cuaca dan kondisi awan yang lebih ideal. Semua dihitung matang agar misi berjalan mulus.
Sabtu dini hari, operasi pun dimulai. Trump yang berada di Mar-a-Lago, Florida, menyaksikan jalannya misi secara langsung bersama para penasihatnya. Operasi ini berlangsung berjam-jam dan melibatkan banyak unsur militer.
Trump sendiri mengaku terkesan. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyebut belum pernah melihat operasi sekompleks itu sepanjang pengalamannya. Pernyataan ini makin menegaskan betapa seriusnya AS menargetkan Maduro.
Di sisi lain, Pentagon telah lama menggelar kekuatan besar di kawasan Karibia. Sebuah kapal induk, 11 kapal perang, jet tempur siluman F-35, hingga lebih dari 15.000 personel dikerahkan dengan dalih operasi anti-narkoba. Semua itu ternyata menjadi pembuka jalan misi penangkapan.
Lingkaran inti Trump seperti Stephen Miller, Marco Rubio, Pete Hegseth, dan Direktur CIA John Ratcliffe disebut terlibat intens selama berbulan-bulan.
Rapat dan panggilan telepon dilakukan hampir setiap hari. Bahkan komunikasi langsung dengan presiden disebut rutin terjadi.
Pada Jumat malam menuju Sabtu dini hari, serangan udara lebih dulu dilancarkan ke sejumlah target di sekitar Caracas.
Sistem pertahanan udara Venezuela jadi sasaran. Rekaman menunjukkan kendaraan anti-pesawat hangus di pangkalan La Carlota.
Setelah langit dibuka, pasukan khusus AS masuk ke Caracas dengan persenjataan lengkap. Video warga memperlihatkan helikopter terbang rendah di atas kota. Pasukan bahkan membawa obor las untuk berjaga-jaga jika harus memotong pintu baja.
Trump menggambarkan rumah persembunyian Maduro sebagai benteng super ketat. Namun pasukan AS tetap bisa menembus pintu baja dalam hitungan detik. Maduro disebut sempat mencoba masuk ruang aman, tapi keburu disergap.
Beberapa pasukan AS terkena tembakan, meski tak ada korban jiwa. Salah satu helikopter bahkan sempat dihantam peluru, tapi berhasil kembali.
Maduro kemudian diterbangkan ke kapal USS Iwo Jima sebelum dipindahkan ke New York untuk diadili.
Kini sorotan justru mengarah ke Paspampres Venezuela. Bagaimana mungkin seorang presiden ditangkap sedemikian mudah di wilayahnya sendiri?
Pertanyaan itu terus bergema, sementara Caracas masih diliputi tanda tanya besar soal apa yang sebenarnya terjadi di balik layar. (*)


