SEMARANG, BACAAJA – Nama Taman Lele yang melekat pada salah satu destinasi wisata legendaris di Kota Semarang ternyata bukan sekadar penamaan biasa.
Di baliknya, tersimpan kisah sejarah panjang yang berakar dari cerita perang, perdamaian, hingga penyebaran Islam di tanah Jawa.
Kepala UPTD Kampung Wisata Taman Lele, Sugianto, menjelaskan bahwa penyebutan “Taman Lele” berawal dari kisah Raden Ayu Retno Dumilah, tokoh bangsawan keturunan Pangeran Timur I dari Madiun.
Bacaaja: Kesaksian Pengunjung Semarang Zoo: Makin Rapi, Satwa Tampak Lebih Sehat
Bacaaja: Jelang Nataru, Pantai Tirang Perkuat Keamanan dan Penataan Area
Dalam sejarahnya, wilayah Madiun atau Purbaya pernah menjadi sasaran ekspansi Kerajaan Islam Demak.
“Serangan pertama dan kedua gagal. Baru yang ketiga dipimpin Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir,” ujar Sugianto saat ditemui di kawasan Taman Lele.
Perang antara Joko Tingkir dan Raden Ayu Retno Dumilah kala itu tak berujung kemenangan. Justru rakyat yang menjadi korban.
Banyak perempuan kehilangan suami, anak-anak kehilangan orang tua. Kondisi itulah yang membuat Raden Adipura memilih berdamai demi menghentikan penderitaan rakyat.
Usai berdamai, Raden Adipura diajak ke Demak dan bertemu dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Dari pertemuan itulah ia mendalami Islam dan kemudian berniat menyebarkannya ke wilayah Bantul dan Imogiri.
Dalam perjalanan dari Demak menuju Bantul, Raden Adipura singgah untuk salat Asar di sekitar Sendang Nyi Tokosan. Saat mengambil air wudu, muncul fenomena aneh: ikan lele tanpa kepala dan duri, yang tetap hidup dan diikuti lele lainnya.
“Beliau lalu mengucap, ‘Sok yen ono rejaning jaman, tanah iki tak jenengi Taman Lele’,’” tutur Sugianto.
Seiring waktu, kawasan itu dikenal sebagai Taman Lele dan mulai dikembangkan sebagai tempat wisata sejak era 1980-an.
Namun, perjalanan tak selalu mulus. Saat Sugianto dilantik sebagai Kepala UPTD pada 13 September 2018, kondisi Taman Lele masih terpuruk.
“Belum ada kolam renang, panggung, masih mangkrak. Tapi Pak Wali waktu itu menegaskan, Taman Lele ini legend, tidak boleh hilang,” katanya.
Sejak saat itu, pembenahan dilakukan bertahap hingga kini Taman Lele menjelma sebagai Kampung Wisata yang hidup kembali, tanpa meninggalkan akar sejarahnya. (dul)


