Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Indonesia Tanah Air Siapa? Jejak Obral Konsesi Lahan Hutan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Indonesia Tanah Air Siapa? Jejak Obral Konsesi Lahan Hutan

R. Izra
Last updated: Desember 6, 2025 12:26 pm
By R. Izra
4 Min Read
Share
Ilustrasi hutan gundul. (grafis/wahyu)
Ilustrasi hutan gundul. (grafis/wahyu)
SHARE

BACAAJA, JAKARTA –  Kita sering teriak “tanah air beta”, tapi realitanya di lapangan justru bikin dada sesak. Dari laporan WALHI (2022), tanah air kita kayak lagi dipinjamkan—atau malah diserahkan—ke korporasi, dari rezim ke rezim.

Judul laporannya aja udah nusuk: “Indonesia Tanah Air Siapa: Korporasi di Bumi Pertiwi.”

Isinya membentangkan jejak konsesi dari masa Sukarno sampai presiden modern. Ibarat album sejarah, tapi yang difoto bukan prestasi—melainkan hutan hilang, tambang tumbuh, konflik agraria meledak.

Bacaaja: Gila! Penebangan Hutan Indonesia Nomor 2 di Dunia, Paru-paru Dunia Dibabat

Bacaaja: Ramai Kenapa Banjir Bandang Besar di Sumatera Tak Masuk Bencana Nasional, Ini Jawaban Tito Karnavian

Dan ini bagian yang paling bikin mikir keras: selama 21 tahun berkuasa, Sukarno tercatat sebagai satu-satunya presiden yang tidak menyerahkan satu jengkal pun hutan ke korporasi. Nol. Tidak ada.

Di masa itu, negara masih berdiri sebagai penjaga tanah dan air, bukan makelar lahan.

Era Orba: konsensi jadi mesin uang

Semuanya berubah begitu masuk era Orde Baru. UU PMA dan PMDN membuka gerbang besar-besaran untuk investasi ekstraktif.

Tambang? Gas. Sawit? Gas. Hutan Tanaman Industri (HTI) ? Gas. HGU? Gas pol.

Data akademik kehutanan mencatat: pada periode 1985–1997, Indonesia kehilangan hutan rata-rata 1,6 juta hektar per tahun.

Jika ditotal dari awal Orde Baru, luas hutan yang dilepas ke konsesi mencapai ±78,6 juta hektar.

Singkatnya, Soeharto adalah presiden dengan rekor pemberian izin konsesi terbesar dalam sejarah Indonesia.

Di masa Habibie dan Gus Dur, laju konsesi sempat melambat. Tapi saat masuk 2000–2012, ekspansi kembali brutal di sektor perkebunan dan pertambangan.

Berbagai riset menyebutkan: Indonesia sempat dinobatkan sebagai negara dengan laju deforestasi tertinggi di dunia pada dekade tersebut—mengalahkan Brasil.

Catatan unik Megawati

Terlepas pro-kontra politiknya, Megawati Soekarnoputri punya catatan unik: Tidak menerbitkan satu pun izin konsesi baru perkebunan sawit.

Dalam wawancara tahun 2025, ia bahkan menyebut sawit sebagai: “Tanaman arogan dan manja.”

Dan faktanya, sawit memang jadi komoditas yang paling sering memicu:

  • Deforestasi,
  • Konflik agraria,
  • Kebakaran hutan,
  • Hingga kriminalisasi warga.

Masuk era SBY, pembukaan hutan skala besar mulai menjalar ke Papua.

Dan di era Jokowi, lewat proyek-proyek besar seperti food estate, deforestasi kembali menguat, terutama di:

  • Papua,
  • Kalimantan,
  • dan sebagian Sumatera.

Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara, Dedy Sukmara mengatakan dalam 20 puluh tahun terakhir tutupan hutan alam di Papua dan Papua Barat menyusut 663.443 hektare. Sebesar 71 persen terjadi sepanjang 2011-2019.

Sejak 2001–2024, Indonesia telah kehilangan ±32 juta hektar tutupan pohon.

Polanya Nyata

Deforestasi memang sulit dihitung presisi per presiden karena:

  • Metode pemantauan berubah,
  • Definisi “hutan” bergeser,
  • Data antar lembaga sering tumpang tindih.

Tapi pola besarnya jelas:

  • Paling brutal sebelum tahun 2000,
  • Tetap tinggi di era 2000–2010-an,
  • Menurun setelah moratorium,

Tapi tidak pernah benar-benar berhenti.

Dan ini pesan paling penting dari WALHI:

Setiap presiden meninggalkan jejak ekologisnya sendiri. Masalahnya, jejak itu bukan cuma berupa angka di laporan.

Ia berubah jadi:

  • Banjir,
  • Longsor,
  • Kabut asap,
  • Konflik agraria,
  • Krisis air,
  • Hingga hilangnya ruang hidup masyarakat adat.

Hutan Indonesia tidak hilang sekali gus. Ia hilang tetes demi tetes:

  •  jutaan hektar per tahun di masa lalu,
  • ratusan ribu hektar per tahun hari ini.

Tapi akumulasinya selama puluhan tahun: hancur besar-besaran.

Pertanyaan pahit itu akhirnya muncul: “Tanah air ini sebenarnya punya siapa?”

Jawabannya makin sulit disangkal: punya mereka yang memegang izinnya.

Kita? Kita sering kali cuma kebagian:

  • Menghirup asap,
  • Menelan banjir,
  • Kehilangan sawah,
  • Kehilangan kampung,
  • Kehilangan masa depan.

Sekarang giliran kamu yang bersuara. Menurut kamu, 10 tahun ke depan hutan Indonesia bakal pulih atau makin gundul? (*)

 

You Might Also Like

Dekranasda Dorong Batik Jateng Naik Kelas

Prihatin Kesehatan Mental di Papua, Psikolog Putri Lulusan SCU Ingin Mengabdi di Tanah Kelahiran

Nabung Emas Tipis Tipis, Cara Santai Bangun Aset Pelan

Megawati: Kalau Masih Ada Perundungan, Pancasila Belum Hidup di Hati Kita

Dari “Cumi-Cumi Darat” ke Bus Listrik: Semarang Mulai Move On dari Asap Hitam

TAGGED:headlineindonesia tanah air siapajejak konsesi hutanjokowipresidensbySoehartoSoekarno
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Eks-Kapolri yang kini menjabat Mendagri, Tito Karnavian. Di Tengah Bencana, Mendagri Janjikan ‘Hadiah’ Rp 1 Triliun untuk Daerah, Begini Syaratnya
Next Article Siap-Siap, Kemenhub Bilang 24 Desember Bakal Jadi Hari Paling Ramai Se-Indonesia

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Agustina Dorong Sport Tourism Jadi Mesin Ekonomi Daerah

Bukan Sekadar Makam Tua, Kiai Jungke Diyakini Bisa Hidupkan Perekonomian Kampung

Waduk Wadaslintang Viral! Konten Peserta Festival STEKOM Tembus 500 Ribu Views

Ketua Pengarah Pelaksana Soekarno Run SOC 2026, Aria Bima, memaparkan prediksi perputaran uang dari event yang ia helat, Minggu (28/6/2026). (bae)

Soekarno Run Dongkrak Ekonomi Solo, Perputaran Uang Ditaksir Tembus Rp5 Miliar

DAPAT MOBIL--Pelari asal Boyolali, Fikri (berkacamata hitam) menerima hadiah mobil listrik secara simbolis di panggung Soekarno Run SOC 2026. (rng)

Doa Orang Tua Antar Fikri Pelari Boyolali Boyong Mobil Listrik di Soekarno Run 2026

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Politik

Dirujak Habis-habisan Range Rover 8 M Batal Dibeli

Maret 2, 2026
BEM BERSATU - Sejumlah civitas akademika kampus ramai-ramai membantah terlibat dalam koalisi mahasiswa tandingan: BEM Bersatu. (ist)
Info

Siapa Dalang BEM Bersatu? Mendedah Kebohongan, Kampus Ramai-ramai Bantah Kirim Perwakilan

Juni 18, 2026
Daerah

327 Desa di Jateng Pilih Jalan Antikorupsi

Januari 15, 2026
TERPILIH AKLAMASI - Sari Yuliati terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Kosgoro dalam Musyawarah Besar (Mubes) V Kosgoro 1957 Tahun 2026, di Merlin Park, Jakarta.
Info

Saleh Ucapkan Selamat! Sari Yuliati Resmi Secara Aklamasi Jadi Ketum Kosgoro 1957

Juni 7, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Indonesia Tanah Air Siapa? Jejak Obral Konsesi Lahan Hutan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?