BACAAJA, JAKARTA – Program makan gratis di sekolah ternyata nggak cuma soal kenyangin perut. Menurut Tan Shot Yen, program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru bisa jadi momen penting buat ngenalin anak-anak ke makanan lokal yang sehat dan beragam.
Dia menilai, sayang banget kalau program sebesar ini cuma diisi makanan praktis atau instan. Padahal, tiap daerah di Indonesia punya segudang menu khas yang nggak cuma enak, tapi juga kaya gizi.
“Ini bisa jadi sarana edukasi, bukan sekadar kasih makan,” kira-kira begitu pesan yang ingin disampaikan.
Beberapa contoh menu yang bisa diangkat ke meja sekolah pun nggak main-main. Ada telur bumbu Bali, boh iteuk peleumak dari Aceh, taluak barendo khas Minang, sampai ayam taliwang dari Lombok. Semua punya cita rasa kuat sekaligus nilai gizi yang oke.
Sebaliknya, Tan cukup tegas menolak kalau menu MBG malah diisi makanan ultra proses kayak nugget, biskuit, atau burger. Meski bahan dasarnya lokal, jenis makanan seperti itu dinilai kurang ideal untuk kebutuhan gizi anak.
Biar anak-anak tetap doyan makanan lokal, pendekatannya juga nggak bisa asal. Tan nyaranin supaya ahli gizi turun langsung ke sekolah, ngobrol bareng siswa, bahkan bikin sesi “icip-icip” menu.
Dari situ, anak bisa milih mana yang mereka suka. Misalnya mereka suka cilok, bisa dimodifikasi jadi bakso ikan tusuk yang lebih sehat tapi tetap familiar di lidah.
Namun di lapangan, tantangannya nggak kecil. Satu ahli gizi bisa harus ngurus ribuan porsi makanan setiap hari. Kondisi ini bikin fokus mereka lebih ke produksi, bukan edukasi.
Idealnya, satu ahli gizi menangani sekitar 300–500 porsi saja biar pengawasan dan kualitas tetap terjaga. Tan juga menyarankan program ini dijalankan bertahap lewat proyek kecil di tiap daerah sebelum diterapkan luas.
Soal isi piring, konsepnya tetap balik ke pedoman gizi seimbang: ada karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Nggak harus ribet, yang penting lengkap dan pakai bahan lokal yang mudah ditemukan.
Ujungnya, MBG bukan cuma program makan gratis. Kalau dijalankan dengan tepat, ini bisa jadi langkah awal buat bikin generasi muda lebih kenal, lebih cinta, dan lebih terbiasa makan makanan sehat dari daerahnya sendiri. (*)


