BACAAJA, JAKARTA – Kesehatan mental merupakan isu krusial dan serius, namun sering kali terabaikan. Padahal kesehatan mental anak akan sangat menentukan perkembangan mereka di masa depan.
Kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia kini berada di titik yang mengkhawatirkan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut persoalan ini sebagai kondisi darurat yang masih sering luput dari perhatian masyarakat.
Data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan, satu dari tiga remaja usia 10–17 tahun atau sekitar 15,5 juta anak mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir. Bahkan, satu dari 20 remaja telah memenuhi kriteria gangguan mental seperti depresi, kecemasan, hingga gangguan perilaku.
Bacaaja: Stop! Awas Kebiasaan Sepele Ini Bisa Merusak Kesehatan Otak
Bacaaja: Darurat Kesehatan Mental! Bocah SD di Demak Akhiri Hidup, Sempat Unggah Chat Dimarahi Ibu
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan masih banyak orang tua yang menganggap gangguan mental hanya dialami orang dewasa. Padahal, anak-anak juga bisa mengalami kondisi serupa, hanya saja gejalanya sering tidak disadari.
“Sering kali orang mengira anak-anak jarang mengalami gangguan mental. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Gangguan mental pada anak sering kali tidak mudah dideteksi sehingga membutuhkan kepekaan orang tua,” ujarnya dalam seminar media secara daring, Selasa (21/7/2026).
Menurut Piprim, salah satu pemicu terbesar justru berasal dari lingkungan keluarga. Tekanan orang tua yang terlalu tinggi, terutama terkait prestasi akademik, dapat membuat anak mengalami stres berkepanjangan.
Ia mencontohkan, ada orang tua yang baru sehari anaknya masuk sekolah sudah merasa kecewa karena menganggap sang anak tidak akan menjadi juara kelas.
“Tekanan seperti itu bisa berdampak besar terhadap kondisi psikologis anak,” katanya.
Karena itu, IDAI mengajak para orang tua kembali menerapkan pola pengasuhan Asuh, Asih, dan Asah, yakni memberikan kasih sayang, pendampingan, sekaligus ruang yang aman bagi anak untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
Sementara itu, anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Angga Wirahmadi, menjelaskan kondisi kesehatan mental remaja juga dipengaruhi tekanan dari lingkungan pergaulan, cyberbullying, hingga paparan konten negatif di media sosial.
Menurutnya, gejala depresi maupun kecemasan sering disalahartikan sebagai perubahan perilaku biasa saat masa pubertas.
“Kalau anak tiba-tiba kehilangan minat, sulit makan, merasa tidak berharga, overthinking, gelisah, atau sering mengeluh sakit tanpa penyebab yang jelas, itu perlu diwaspadai,” jelasnya.
Ia menambahkan, apabila perubahan emosi atau perilaku sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti tidak mau sekolah, tidak mau makan, atau enggan mandi, orang tua sebaiknya segera membawa anak berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Untuk mendeteksi gangguan mental sejak dini, IDAI merekomendasikan penggunaan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) yang dapat diisi oleh anak, orang tua, maupun guru guna menilai kondisi emosi, perilaku, dan hubungan sosial anak.
Selain itu, tenaga kesehatan juga didorong menggunakan pendekatan HEEADSSS untuk menggali kondisi psikososial remaja secara menyeluruh.
IDAI menekankan, menjaga kesehatan mental anak bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar. Komunikasi yang hangat, aktivitas positif, serta pembatasan penggunaan media sosial dinilai menjadi langkah sederhana yang bisa membantu mencegah gangguan mental sejak dini.
“Kalau ada masalah, anak-anak harus berani bercerita kepada orang tua, guru, atau orang yang mereka percaya,” tutup dr. Angga. (*)

