BACAAJA, SEMARANG– Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti bilang, FPRB jadi amunisi baru buat bikin inovasi penanganan bencana. Harapannya, forum ini bisa nyokong program Kelurahan Tangguh Bencana (Katana) dan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) biar makin kuat.
“Dua momentum penting hari ini adalah gladi lapang dan pengukuhan FPRB. Gladi lapang buat ngetes kesiapan tim di lapangan, sedangkan FPRB jadi bukti sinergi lintas sektor makin solid,” kata Agustina, Kamis (11/9).
BMKG udah wanti-wanti kalau puncak musim hujan bakal datang akhir 2025 sampai awal 2026. Anomali cuaca bikin prediksi makin susah, jadi warga nggak boleh lengah. “Banjir, longsor, atau puting beliung bisa datang kapan aja,” tegasnya.
Personel Gabungan
Buat simulasi kali ini, ratusan personel gabungan dikerahkan. BPBD Semarang turun dengan 75 anggota plus perahu karet, truk, ATV, sampai alat selam. TNI-Polri juga hadir dengan pasukan SAR, rescue truck, dan unit Brimob. Tim damkar, Dinas Kesehatan, PMI, Tagana, sampai relawan komunitas juga ikut nimbrung.
Skenario simulasi mulai dari evakuasi korban banjir, tanah longsor, sampai penanganan bencana ditampilkan. “Ini bukan sekadar seremoni, tapi latihan serius biar kalau beneran darurat, semua bisa gerak cepat, tepat, dan terukur,” tambahnya. (*)


