BACAAJA, SEMARANG – Masih suka melakukan dosa bukan berarti seseorang boleh merasa tak pantas untuk sholat. Justru, menurut Gus Baha, meninggalkan sholat karena merasa diri masih penuh kesalahan adalah cara berpikir yang keliru.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengingatkan, sholat tetap punya posisi penting meski seseorang belum mampu sepenuhnya lepas dari kemungkaran. Jangan sampai muncul pikiran, “Buat apa sholat kalau masih berbuat dosa?”
Bagi Gus Baha, pertanyaan semacam itu malah bisa menyesatkan. Sebab, ketika seseorang tetap menjalankan sholat, ia sebenarnya sedang menunjukkan bahwa dirinya masih mengakui Allah SWT sebagai Tuhan dan dirinya sebagai hamba.
“Apa artinya sholat kalau kita masih melakukan kemungkaran itu salah besar,” ujar Gus Baha dalam video yang ditayangkan di kanal YouTube @rizaleffendi1335.
Ia menjelaskan, sholat merupakan kewajiban yang tetap harus dijalankan. Bahkan ketika seseorang masih bergelut dengan berbagai kesalahan, sholat menjadi salah satu bentuk kepatuhan kepada ketentuan Allah.
“Sholat itu wajib. Dengan Anda sholat itu sudah mengurangi kemungkaran karena Anda tidak melawan ketentuan Allah Taala,” jelasnya.
Menurut Gus Baha, orang yang memilih untuk sholat sebenarnya sedang menegaskan status dirinya sebagai hamba Allah. Ada pengakuan bahwa manusia bukanlah pihak yang berkuasa penuh atas hidupnya sendiri.
“Orang mau sholat artinya dia menstatuskan diri sebagai hamba Allah,” kata Gus Baha.
Pengakuan tersebut, lanjut dia, memiliki keberkahan tersendiri. Seseorang yang tetap mempertahankan sholat berarti tidak meninggalkan identitas kehambaannya meski masih memiliki banyak kekurangan.
“Kontrak kalau saya ini hamba-Mu ya Allah. Dan barokahnya pengakuan itu, Insyaallah di cerita-cerita syafaat,” ujarnya.
Gus Baha juga menyampaikan bahwa dosa yang masih dilakukan seseorang jangan sampai membuatnya menjauh dari sholat. Sebaliknya, kewajiban tersebut tetap dijaga sembari perlahan memperbaiki perilaku.
“Kalau kita dosa atau apa, Insyaallah dapat syafaatnya Rasulullah SAW karena kita tidak pernah lari dari status kehambaan,” tambahnya.
Karena itu, ia meminta umat Islam tidak gampang menyerah hanya karena merasa dirinya belum baik. Sholat tetap dilakukan, sementara kemungkaran yang masih ada terus diupayakan untuk dikurangi.
“Sholat aja sama kita ini hamba Allah yang mengakui kalau Allah itu Tuhan kita,” tegas Gus Baha.
Ia juga menilai sholat dapat menjadi jalan untuk perlahan meninggalkan kebiasaan buruk. Semakin seseorang mendekat kepada Allah, diharapkan semakin kuat pula keinginannya untuk memperbaiki diri.
“Dengan sholat, Insyaallah kita bisa mengurangi kemungkaran yang kita lakukan,” katanya.
Pesan Gus Baha pada dasarnya sederhana: jangan menunggu menjadi manusia sempurna baru mau sholat. Sebab, sholat justru bisa menjadi bagian dari proses seseorang untuk berubah menjadi lebih baik.
“Jangan pernah tinggalkan sholat, meskipun kita merasa masih banyak dosa,” pesannya.
Menurut Gus Baha, keberkahan sholat juga tidak berhenti pada kehidupan dunia. Menjaga ibadah tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar seorang Muslim untuk terus berada dalam rahmat Allah dan berharap mendapatkan syafaat Rasulullah SAW.
“Keberkahan sholat itu Insyaallah membawa kita kepada syafaat dan keberkahan di akhirat,” ujarnya.
Di tengah banyaknya kekurangan manusia, pesan tersebut menjadi pengingat agar seseorang tidak justru memutus hubungan dengan Allah karena merasa dirinya penuh dosa. Tetap sholat, lalu pelan-pelan tinggalkan kemungkaran yang masih dilakukan.
Dengan begitu, sholat bukan sekadar rutinitas, tetapi juga menjadi tanda bahwa seseorang masih ingin mempertahankan hubungan kehambaannya kepada Allah sambil terus berbenah. (*)

