BACAAJA, TEGAL – Kawasan Wisata Guci, Kabupaten Tegal, resmi ditutup total. Banjir bandang yang menerjang akhir Januari 2026 ini disebut jauh lebih ganas dibanding kejadian Desember 2025 lalu.
Dampaknya bukan cuma lumpur dan batu, tapi tiga jembatan utama di kawasan wisata ikut hilang tersapu arus.
Pemkab Tegal memastikan luapan air dari lereng Gunung Slamet kali ini membawa material berat, mulai dari lumpur, kayu, hingga sedimen vulkanik, yang langsung menghantam infrastruktur vital.
Akibatnya, akses wisata dan mobilitas warga lumpuh total.
Bacaaja: Banjir Bandang Lereng Gunung Slamet, Warga Purbalingga Terisolasi hingga Jalur Pendakian Ditutup
Bacaaja: Nestapa Warga Pati: Sudah 2 Minggu Kebanjiran, Eh Bupatinya Ditangkap KPK
Plh Bupati Tegal Ahmad Kholid, saat meninjau lokasi pada Sabtu (24/1/2026), menyebut kerusakan kini masuk level serius.
Jembatan di Curug Jedor dan Pancuran 13 ambruk total, termasuk beberapa titik penghubung penting di area wisata.
“Ini jauh lebih berat dari sebelumnya. Jembatan di Curug Jedor dan Pancuran 13 hilang sama sekali,” kata Kholid.
Buat sementara, pemerintah menyiapkan jembatan darurat jenis bailey supaya akses warga tidak sepenuhnya terputus.
Namun demi keselamatan, akses ke Pancuran 13 ditutup total dan penjualan tiket wisata dihentikan sampai situasi dinyatakan aman.
Penanganan darurat masih berlangsung, tapi keputusan besar soal pemulihan permanen baru akan diambil setelah Bupati Tegal kembali dari tanah suci pada Senin (26/1/2026).
Selama itu, status siaga tetap diberlakukan karena cuaca ekstrem di wilayah hulu Gunung Slamet masih mengancam.
Selain hujan deras, pemerintah menduga tumpukan material vegetasi dan sedimen dari lereng atas jadi faktor utama yang bikin daya rusak banjir makin brutal, bahkan beton jembatan pun tak kuasa menahan terjangan air bah.
Singkatnya: Guci lagi nggak aman buat dikunjungi. Alam lagi marah, dan keselamatan jadi prioritas.
Selain kawasan Guci, banjir bandang juga menerjang kawasan lereng Gunung Slamet lainnya. Tepatnya di Purbalingga.
Banjir di Purbalingga juga menimbulkan kerusakan cukup parah. (*)


