BACAAJA, CILACAP – Operasi pencarian korban longsor di Desa Cibeunying, Majenang, kembali berlanjut dengan ritme yang makin padat. Sejak pagi, personel gabungan sudah memenuhi area kejadian membawa perlengkapan pencarian, lengkap dengan koordinasi yang terus diperbarui dari posko terpadu. Suasana di sekitar lokasi penuh dengan hiruk pikuk kerja sama berbagai pihak yang tidak berhenti sejak hari pertama.
Seperti hari sebelumnya, tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, hingga warga setempat kembali turun ke titik-titik yang sudah ditentukan. Setiap kelompok membawa tugas masing-masing, mulai dari penggalian manual sampai pengoperasian alat berat demi membuka akses yang tertutup material longsor.
Rencana operasi hari ketiga ini dibagi menjadi lima titik pencarian atau worksite untuk memecah konsentrasi dan mempercepat proses. Pembagian sektor ini dilakukan berdasarkan analisis risiko serta laporan warga terkait lokasi terakhir para korban terlihat sebelum longsor terjadi. Semakin terarah, semakin besar harapan keluarga untuk segera mendapat kabar.
Worksite pertama, A-1, menjadi area dengan tiga orang yang masih hilang. Tim bergerak hati-hati karena material tanah di sektor ini cukup tebal dan berpotensi bergeser. Setiap pergerakan alat juga dipantau agar tidak memicu longsor susulan di area sekitar.
Tidak jauh dari sektor pertama, Worksite A-2 menjadi salah satu titik yang cukup krusial. Sebanyak tujuh orang masih dalam pencarian di sektor ini, dan tim bekerja ekstra cepat karena informasi sebelumnya menunjukkan area ini punya tumpukan material cukup tinggi. Setiap lapisan tanah yang terangkat menjadi harapan baru bagi keluarga korban.
Pada sektor A-3, empat warga masih dalam pencarian. Area ini memiliki kontur yang lebih sempit, sehingga sebagian besar proses dilakukan manual dengan dukungan alat berat dari sisi yang lebih aman. Relawan dari beberapa desa sekitar juga ikut memperkuat tenaga di titik ini.
Sektor berikutnya, B-1, juga mencatat empat orang belum ditemukan. Tim pencari harus masuk melalui jalur alternatif karena akses utama tertutup material yang cukup tinggi. Meski begitu, wilayah ini tetap menjadi prioritas karena ada tanda-tanda yang menunjukkan kemungkinan korban berada di bawah runtuhan.
Worksite B-2 menjadi sektor terakhir dengan dua orang masih hilang. Meskipun jumlahnya paling sedikit, medan di titik ini justru lebih berat karena posisi tanah yang miring. Tim SAR bekerja secara bergantian agar tetap fokus dan aman selama proses pencarian berlangsung.
Kepala Kantor SAR Cilacap, Muhamad Abdullah, menjelaskan bahwa sembilan anjing pelacak dikerahkan untuk memindai area yang sulit ditangani oleh alat berat. Keberadaan K9 ini menjadi kunci untuk mempersempit zona pencarian di sektor-sektor yang tidak terlihat pergerakan atau tanda-tanda lain.
Selain itu, sembilan alat berat juga kembali diturunkan untuk mendukung proses pengerukan material. Dengan kondisi medan yang sangat kompleks, keberadaan alat berat mempercepat pembukaan jalur dan memberikan ruang bagi tim manual untuk mendekati titik yang dicurigai.
Sementara itu, posko terpadu terus memantapkan koordinasi lintas instansi setiap beberapa jam sekali. Segala kebutuhan logistik, peralatan tambahan, hingga dukungan medis dipastikan siap sebelum tim turun kembali ke lapangan agar tidak menghambat proses.
Hingga hari ini, masih ada 20 orang yang belum ditemukan di lokasi longsor. Dari jumlah itu, enam merupakan warga Dusun Tarukahan, sedangkan empat belas lainnya berasal dari Dusun Cibuyut. Data ini menjadi acuan utama bagi tim untuk menentukan prioritas pencarian.
Musibah longsor di Majenang ini mendapat perhatian luas karena puluhan warga diduga menjadi korban dalam waktu sangat singkat. Banyak pihak turut mendorong agar operasi pencarian dilakukan sesigap mungkin tanpa mengabaikan unsur keselamatan.
Polri pun turun memberikan pernyataan resmi terkait operasi ini. Pihak kepolisian menegaskan bahwa seluruh unit yang terlibat siap all out dalam penanganan bencana, baik dari sisi keamanan lokasi maupun bantuan tenaga untuk mempercepat proses pencarian.
Di tengah beratnya kondisi lapangan, semangat semua pihak yang terlibat tetap menguat. Koordinasi yang rapi, kerja sama yang solid, dan harapan yang masih tersisa membuat seluruh upaya ini tetap berjalan meski fisik sudah mulai terkuras.
Meski hari terus berganti, fokus para petugas masih sama: menemukan seluruh korban dan memberikan kepastian bagi keluarga yang menunggu. Upaya pencarian ini diperkirakan akan berlanjut hingga seluruh titik dipastikan steril dari potensi adanya warga yang tertimbun.
Warga sekitar pun terus memantau perkembangan dari garis aman pencarian. Meski duka masih membungkus suasana, mereka juga memberikan dukungan moral kepada tim yang terus bekerja tanpa mengenal waktu.
Beberapa relawan bahkan ikut membawakan makanan dan minuman untuk petugas yang beristirahat sejenak di posko. Kebersamaan seperti ini membuat suasana lapangan terasa lebih hangat di tengah musibah yang berat.
Seiring operasi yang terus bergerak, harapan keluarga korban juga tetap menggantung di atas proses pencarian yang berlangsung. Setiap kabar kecil dari lapangan selalu menjadi bahan diskusi dan doa yang tidak pernah putus.
Situasi di Majenang hingga hari ini masih dalam status tanggap darurat. Pemerintah daerah terus melakukan komunikasi dengan berbagai instansi untuk mempercepat penanganan pascabencana. Langkah antisipasi juga mulai disusun untuk menghindari bencana susulan.
Meski belum semua korban ditemukan, upaya Tim SAR tetap berjalan dalam kecepatan penuh. Dengan lima sektor yang dikebut, operasi hari ketiga ini diharapkan memberikan lebih banyak titik terang bagi keluarga korban.
Pada akhirnya, semua pihak yang terlibat sepakat bahwa tidak ada waktu terbuang selama operasi berlangsung. Setiap menit sangat berarti, dan setiap sektor punya harapan di balik lapisan tanah yang masih tertimbun.
Pihak kepolisian kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh seluruh proses penanganan longsor ini. Dari pengamanan area hingga bantuan teknis, semua dilakukan agar pencarian berjalan lancar tanpa hambatan yang tidak perlu. (*)


