BACAAJA, SEMARANG – Industri kecerdasan buatan (AI) lagi di mode overhype. Perusahaan teknologi berlomba-lomba pasang label “AI-powered”, sementara duit investor numplek kayak nggak ada besok.
Di tengah euforia itu, muncul kekhawatiran: jangan-jangan kita lagi masuk fase “AI bubble”.
Apa Itu AI Bubble versi Singkat?
Bayangin tren AI kayak gelembung:
- Hype-nya tinggi banget
- Perusahaan kejar-kejaran adopsi AI
- Investor jor-joran masukin uang
Tapi bisnis dan profitnya belum tentu ngejar ekspektasi. Nah, kalau gelembung ini pecah, efeknya bisa nular ke banyak sektor sekaligus.
Bacaaja: AI Bikin Emisi Karbon Raksasa Teknologi Melonjak hingga 150 Persen
Bacaaja: Bos Google Bilang Investasi AI Sudah Lebay dan Irasional, tapi . . .
Isu ini makin kencang setelah dua pemain besar, Peter Thiel dan SoftBank, kompak jual habis saham Nvidia — padahal Nvidia selama dua tahun terakhir jadi “ikon” boom AI dunia.
Sundar Pichai: “Nggak Ada yang Kebal”
Google jelas ada di tengah pusaran. Mereka lagi ngebut integrasi AI di mana-mana, plus investasi gila-gilaan.
Ke BBC, CEO Google Sundar Pichai ngomong terus terang:
“Tidak ada perusahaan yang akan sepenuhnya aman, termasuk kami. Jika terjadi investasi berlebihan, kita tetap harus melewati fase itu dan mengatasinya.”
Dia nyebut momen sekarang sebagai fase luar biasa buat AI: investor rame-rame ngegas modal, berbagai sektor pengen disulap pakai AI.
Di AS, valuasi AI yang makin menggembung sudah bikin pasar waspada. Di Inggris, pembuat kebijakan juga udah ngasih sinyal soal risiko AI bubble.
Google: Risiko Diakui, Gas Tetap Jalan
Meski sadar potensi gelembung, Alphabet (induk Google) tetap tancap:
- Komit 5 miliar poundsterling (sekitar Rp 110 triliun) buat infrastruktur dan riset AI di Inggris
- Bangun data center baru
- Tambah investasi ke DeepMind di London
Pichai juga bilang Google bakal mulai melatih model AI di Inggris, sejalan dengan ambisi PM Keir Starmer yang pengin Inggris jadi kekuatan AI ketiga setelah AS dan China.
Di sisi lain, Pichai ngaku lihat banyak “unsur nggak rasional” di pasar sekarang, mirip vibe gelembung dot-com akhir 1990-an. Bedanya, Google merasa pondasinya lebih siap. Sepanjang 2025, saham Alphabet naik sekitar 46 persen, didorong keyakinan investor kalau Google masih sanggup adu kuat dengan OpenAI.
Singkatnya: AI lagi puncak hype, duit lagi banjir, risiko gelembung juga makin nyata. Bahkan Bos Google sendiri bilang nggak ada perusahaan yang benar-benar aman kalau AI bubble ini beneran meletus.


