BACAAJA, CILEGON – Enam hari sudah berlalu sejak kabar pembunuhan bocah MAHM (9) bikin Cilegon terguncang. Tapi sampai sekarang, tabir siapa pelaku dan apa motifnya masih gelap.
MAHM ditemukan tak bernyawa di rumah keluarganya di Perumahan Bukit Baja Sejahtera III, Ciwaduk, Kota Cilegon, Selasa siang. Kondisinya bikin siapa pun miris, tubuh kecilnya dipenuhi 22 luka tusukan.
Korban dikenal sebagai anak pintar dan berprestasi. MAHM duduk di kelas IV SD Islam Al Azhar 40 Cilegon, sosok ceria yang dikenal baik oleh guru dan teman-temannya.
MAHM juga merupakan putra dari Maman Suherman, Dewan Pakar PKS Kota Cilegon. Fakta ini ikut membuat kasusnya mendapat sorotan luas.
Hingga Minggu, penyelidikan masih berjalan tanpa jawaban pasti. Polisi belum mengantongi identitas pelaku maupun alasan di balik aksi kejam tersebut.
Awalnya, kejadian ini sempat dikaitkan dengan dugaan perampokan. Namun skenario itu perlahan runtuh setelah polisi memastikan tak ada satu pun barang berharga yang raib dari rumah korban.
Kondisi itu justru menambah tanda tanya. Rumah besar, tanpa kehilangan harta, tapi berujung pada nyawa seorang anak.
Dari keterangan polisi, rumah tersebut diketahui tidak memiliki satpam pribadi. Di dalam rumah, ada dua asisten rumah tangga yang biasa bekerja membantu keluarga.
Namun pada hari kejadian, kedua ART itu sudah pulang lebih dulu. Satu pulang sekitar pukul 11.00 WIB, satu lagi sekitar pukul 14.00 WIB.
Kasus ini terungkap saat ayah korban menerima telepon panik dari anak keduanya sekitar pukul 14.20 WIB. Ia langsung bergegas pulang dari tempat kerja.
Begitu pintu rumah dibuka, pemandangan memilukan menyambut. MAHM ditemukan tengkurap dengan luka parah dan darah di sekujur tubuhnya.
Polisi menyebut saat kejadian hanya ada dua anak di dalam rumah, korban dan kakaknya. Kedua orang tua berada di luar rumah karena bekerja.
Kejanggalan lain muncul dari sistem keamanan. CCTV di rumah diketahui mati saat peristiwa terjadi.
Menurut polisi, kamera pengawas tersebut sudah rusak sekitar dua minggu sebelum kejadian. Harapan kini bergeser ke CCTV milik tetangga sekitar.
Sejauh ini, polisi telah memeriksa tujuh saksi dari unsur keluarga dan pihak lain yang berkaitan dengan aktivitas rumah tersebut.
Fakta lain yang bikin dahi berkerut, tak ada satu pun barang hilang. Lemari, perabot, dan barang berharga masih utuh.
Mantan Kabareskrim Polri Susno Duadji menilai, jika tak ada barang hilang, besar kemungkinan pembunuhan memang menjadi tujuan utama, bukan sekadar perampokan gagal.
Menurutnya, pelaku diduga sudah mengintai rumah dan mengenal siapa target yang ingin disasar.
Situasi saat kejadian juga terbilang mendukung pelaku. Hujan deras dilaporkan mengguyur kawasan perumahan ketika tragedi itu berlangsung.
Guru Besar Kriminologi UI Adrianus Meliala menilai, pelaku bisa saja orang dekat, mulai dari ART, satpam lingkungan, atau tamu yang tak terpantau.
Ia juga menepis spekulasi motif politik, mengingat posisi ayah korban dinilai tidak berada di jabatan strategis.
Meski tanpa CCTV, polisi masih punya peluang menelusuri jejak lewat bukti forensik seperti DNA, rambut, atau bekas kuku di lokasi.
Penyelidikan juga mengarah pada lingkaran orang-orang yang pernah punya hubungan dengan keluarga korban, termasuk mereka yang sempat diberhentikan dari pekerjaan.
Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menduga MAHM bukan target utama. Korban disebut bisa saja menjadi sasaran pengganti.
Menurut Reza, pelaku kemungkinan mengincar pihak lain yang lebih sulit disentuh secara langsung, seperti orang tua korban.
Kini, publik menanti jawaban. Di balik sunyi rumah mewah itu, keadilan untuk MAHM masih menunggu untuk ditemukan. (*)


