BACAAJA, PERU – Peru lagi-lagi bikin dunia geleng kepala. Negara yang terkenal dengan Machu Picchu itu justru makin dikenal karena “kutukan kursi presiden”. Terbaru, Pedro Castillo resmi dijatuhi hukuman 11 tahun, lima bulan, dan 15 hari penjara setelah dianggap mencoba membubarkan Kongres pada 2022 lalu.
Vonis itu seolah menambah daftar panjang presiden Peru yang berakhir di balik jeruji. Dengan keputusan ini, Castillo menjadi presiden keempat yang dipenjara di fasilitas khusus Barbadillo, sebuah penjara elite yang isinya justru mantan-mantan pemimpin negara.
Castillo awalnya terpilih pada 2021 lewat kemenangan mengejutkan. Mantan guru dan aktivis serikat pekerja itu dianggap membawa harapan baru dari kalangan kecil dan pedesaan. Namun pemerintahannya hanya bertahan 16 bulan karena konflik dengan legislatif dan berbagai gejolak politik.
Puncaknya terjadi pada 7 Desember 2022, saat Castillo tampil di televisi sambil mengumumkan keadaan darurat dan menyatakan akan membubarkan Kongres. Keputusan itu langsung dianggap sebagai bentuk “kudeta diri”. Tak butuh waktu lama, Kongres memakzulkannya, dan ia ditangkap beberapa jam kemudian.
Jaksa menyebut tindakannya sebagai upaya merusak konstitusi. Meski begitu, Castillo berkukuh bahwa pernyataannya cuma “dokumen tanpa konsekuensi”. Argumen itu tidak mengubah arah putusan.
Setelah penangkapannya, protes besar meledak di berbagai wilayah, terutama dari warga pedesaan dan masyarakat Pribumi yang dulu menjadi basis dukungannya. Blokade jalan, bentrok, dan demonstrasi berlangsung berbulan-bulan.
Namun gelombang protes itu justru dibalas dengan tindakan keras oleh Dina Boluarte, yang menggantikan Castillo sebagai presiden. Sedikitnya 50 orang tewas, dan pemerintah mendapat kritik internasional.
Komisi Hak Asasi Manusia Inter-Amerika menuding pemerintah menggunakan kekuatan secara brutal dan tidak proporsional. Tuduhan itu ikut memperlebar jurang ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah.
Boluarte akhirnya ikut tumbang. Ia dimakzulkan pada Oktober lalu, setelah dibayangi kasus hukum dan naiknya tingkat kriminalitas. Posisinya digantikan Jose Jeri, politisi sayap kanan yang sebelumnya memimpin Kongres.
Di balik semua keributan itu, satu hal yang paling menyita perhatian dunia adalah Barbadillo—penjara yang kini diisi empat mantan presiden Peru sekaligus. Tempat itu awalnya dibuat untuk tokoh berisiko tinggi, namun justru berubah menjadi “klub eks presiden terjerat kasus”.
Selain Castillo, ada nama Ollanta Humala yang dijatuhi 15 tahun penjara untuk kasus pencucian uang. Lalu Alejandro Toledo yang dihukum 20 tahun karena suap, serta Martin Vizcarra yang baru divonis 14 tahun atas kasus penyuapan.
Fakta bahwa empat mantan presiden berada dalam satu fasilitas penahanan menegaskan betapa kacau politik Peru dalam dua dekade terakhir. Negara itu telah berganti delapan presiden dalam sepuluh tahun, sebagian besar tersandung kasus hukum.
Tak hanya itu, drama persidangan Castillo juga sempat memicu ketegangan diplomatik. Kedutaan Meksiko memberi suaka kepada mantan perdana menterinya, Betssy Chavel, yang juga terlibat dalam kasus ini—yang kemudian membuat Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dicap persona non grata oleh pemerintah Peru.
Castillo sendiri sudah mencoba mengajukan tahanan rumah, namun ditolak. Akhirnya ia resmi menyusul tiga mantan pemimpin Peru lainnya yang lebih dulu mendekam di Barbadillo.
Dengan vonis terbaru ini, Peru kembali membuktikan bahwa jabatan presiden di negara itu bukan cuma singkat, tapi juga penuh jebakan. Banyak warganya bahkan mulai bergurau, “Jadi presiden Peru itu karier tercepat menuju penjara.”
Namun di balik gurauan itu, krisis politik Peru masih jauh dari selesai. Dan kehadiran empat presiden di penjara hanyalah cerminan betapa dalamnya masalah yang belum terselesaikan. (*)


