BACAAJA, JAKARTA – Kisah soal tumpukan uang Rp300 miliar yang mejeng di meja Gedung Merah Putih mendadak jadi sorotan. Bukan karena warnanya yang mencolok, tapi karena ternyata duit itu… pinjaman. Iya, pinjaman beneran, bukan kiasan.
KPK buka suara soal asal-usul uang yang dipamerkan saat ekspos pengembalian kerugian negara dalam kasus investasi fiktif mantan Dirut PT Taspen, Antonius Kosasih, dan Direktur PT IIM periode 2016–2024, Ekiawan Heri Primaryanto. Jaksa Eksekusi KPK, Leo Sukoto Manalu, cerita blak-blakan: uang itu disewa—eh, dipinjam—ke BNI Mega Kuningan. Nilainya pas: Rp300 miliar.
“Kita minjam tadi pagi jam 10,” kata Leo dengan nada santai ke awak media. Intinya, KPK butuh difotokan bareng uang asli, bukan kardus kosong, makanya harus minta ‘stok’ ke bank terdekat.
Setelah sesi foto-foto dan konferensi pers selesai, duit itu langsung balik kandang. “Jam empat sore kita kembalikan,” lanjut Leo. Jadi, tumpukan uang yang barusan viral itu cuma numpang lewat.
Soal keamanan, jangan khawatir. Dari kantor bank sampai Gedung KPK, pengawalan full team. Polisi ikut turun tangan, memastikan lembar demi lembar tiba dengan lengkap, utuh, dan tidak tercampur uang parkir.
Lalu, buat apa sih dipajang segala?
Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, punya jawabannya. Tujuannya simpel: biar publik percaya. Biar nggak muncul narasi “katanya diserahkan, tapi kok nggak kelihatan?”
“Ini biar kelihatan, takutnya kan masyarakat mikir jangan-jangan apanya yang diserahkan,” ujar Asep. Tumpukan uang itu semacam bukti visual: nyata, bukan sekadar angka di layar.
Sebelumnya, KPK sudah menyerahkan total Rp883 miliar pengembalian aset ke PT Taspen, hasil rampasan dari skandal investasi fiktif yang menjerat Kosasih dan Ekiawan. Dari total itu, Rp300 miliar dipilih buat dipajang. Sisanya? Tetap aman, tersimpan sebagai bagian dari pemulihan kerugian negara.
Dengan gaya baru yang lebih transparan—plus sedikit dramatis—KPK seolah ingin bilang: “Ini loh, duit negara yang berhasil kami selamatkan.”
Dan ya, meskipun pinjem, yang penting pesannya sampai.

