BACAAJA, SEMARANG- Langkah penanganan sampah di Kota Semarang naik level. Pemkot Semarang resmi teken kesepakatan bareng Pemprov Jateng dan Pemkab Kendal buat ngejalanin proyek Pengolah Sampah Jadi Energi Listrik (PSEL) di wilayah Semarang Raya.
Penandatanganan yang digelar di Kantor Gubernur Jateng, Sabtu (28/3/2026) ini juga disaksikan langsung Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq. Jadi bisa dibilang ini bukan proyek kaleng-kaleng. Ini sinyal kalau pengelolaan sampah berbasis teknologi mulai digarap serius, bukan sekadar jargon “kota bersih” tiap kampanye.
Kesepakatan ini jadi pintu masuk buat sistem baru: sampah gak cuma dibuang, tapi diolah jadi listrik. Harapannya sih dua target kena sekaligus, volume sampah berkurang dan energi juga dapet.
Baca juga: Strategi Ajaib Pemkot Semarang: Dari PLTSa Mangkrak, Kini Jualan PSEL
Dalam skemanya, Pemprov Jateng bakal pegang peran koordinasi dan pengawasan. Sementara urusan teknis kayak ngurus sampah harian, fasilitas, sampai suplai bahan baku (alias sampah itu sendiri) jadi tanggung jawab Pemkot Semarang dan Pemkab Kendal.
Dan ini bukan cuma tanda tangan formalitas. Lewat PKS, semuanya udah dirinci dari A sampai Z, mulai perencanaan, pembangunan, operasional, sampai risiko dan urusan anggaran. Jadi kalau nanti mandek, ya kelihatan siapa yang harus ditanya.
Buat Pemkot Semarang sendiri, proyek ini jadi jawaban atas satu masalah klasik: produksi sampah yang gak ada remnya. Dengan kerja sama regional, pengelolaan sampah diarahkan lebih modern dan terintegrasi.
Jalan Pararel
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bilang, pihaknya udah siap jalan paralel sambil nunggu pembangunan yang diperkirakan makan waktu sekitar tiga tahun. Targetnya gak main-main: Semarang siap nyuplai sekitar 1.100 ton sampah per hari buat “dikasih makan” ke PSEL.
Sambil nunggu proyek jadi, Pemkot juga tetap dorong gerakan pengurangan sampah dari hulu. Program “Semarang Wegah Nyampah” bakal terus digencarkan, ditambah memperbanyak bank sampah biar warga ikut terlibat. “Jadi gak cuma nunggu teknologi, tapi masyarakat juga ikut gerak,” kurang lebih begitu pesannya.
Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menilai, langkah ini penting banget. Soalnya, masalah sampah di Indonesia udah masuk level nasional dan gak bisa diselesaikan dengan cara lama. Menurut dia, teknologi seperti PSEL jadi salah satu solusi paling realistis buat kota besar dengan volume sampah yang gila-gilaan.
Baca juga: TPA Jatibarang Bakal Disulap Jadi Pembangkit Listrik dari Sampah
Sementara itu, Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi juga ngasih gambaran yang agak “nendang”: dari 35 kabupaten/kota di Jateng, masih ada 29 daerah yang pakai sistem open dumping, padahal itu udah dilarang sejak lama.
Saat ini, pengelolaan sampah di Jateng baru sekitar 30 persen. Nasional? Lebih rendah lagi, sekitar 24,9 persen. Sisanya? Ya… masih dibuang gitu aja. Kalau sistem lama itu bisa ditinggal dan diganti metode yang lebih modern, angka pengelolaan sampah bisa melonjak drastis. Tapi ya, lagi-lagi, itu kalau.
Proyek PSEL ini juga jadi bagian dari program “Semarang Bersih” sekaligus dukung target nasional. Harapannya, dalam beberapa tahun ke depan, fasilitas ini udah bisa jalan dan mulai kasih dampak nyata.
Deal sudah diteken, rencana sudah disusun, angka-angka juga kelihatan meyakinkan. Tinggal satu yang biasanya paling susah: memastikan semuanya benar-benar jalan… bukan cuma jadi proyek yang bersih di kertas, tapi tetap bau di lapangan. (tebe)


