BACAAJA, SEMARANG- Pemprov Jateng lagi gaspol buka peluang kerja lewat sektor wisata alam. Salah satu langkah konkretnya: bikin pelatihan Pemandu Wisata Gunung (PWG).
Program ini nggak main-main. Tahun ini, pelatihan digelar dengan kombinasi teori dan praktik, termasuk langsung turun ke jalur pendakian Perantunan, Gunung Ungaran, pada 17-18 April. Dari 250 pendaftar, cuma 16 orang yang lolos. Kompetitif banget, kayak seleksi masuk tongkrongan elit.
Peserta sebelumnya digembleng di Balai Latihan Kerja (BLK) Jasa Pariwisata. Total durasi pelatihan tembus 100 jam, sistemnya juga asrama. Jadi bukan sekadar belajar, tapi “hidup” jadi calon guide beneran.
Menurut Hamid Adityawarman dari BLK Jateng, tujuan program ini jelas: mencetak pemandu gunung yang nggak cuma modal nekat dan pengalaman, tapi punya standar kompetensi nasional alias SKKNI.
Baca juga: Gunung Slamet Makin Hangat, Pendaki Diimbau Jaga Jarak Aman
Menariknya, pelatihan ini juga digandeng sama Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi BNSP. Artinya, lulusan program ini nggak cuma “diakui tongkrongan”, tapi juga resmi secara profesional.
Dan memang, demand-nya lagi tinggi. Ketua APGI Jateng, Lazuardi bilang, kalau tiap tahun ada sekitar 900 ribu pendaki di 15 gunung di Jateng. Tapi jumlah guide profesional? Baru sekitar 160 orang. Jomplang banget.
Estimasi Pendapatan
Soal cuan, jangan diremehkan. Seorang pemandu bisa kantongi Rp350 ribu sampai Rp650 ribu per hari. Lumayan banget buat kerja yang “kantornya di alam”.
Banyak juga peserta yang punya cerita menarik. Salah satunya Endang Pratiwi, yang awalnya cuma porter. Dia ikut pelatihan ini biar bisa naik kelas jadi pemandu.
Ada juga Mufni dari Pemalang, yang sebelumnya aktif di wisata Sungai Elo. Buat dia, pelatihan ini bukan cuma soal skill, tapi juga soal berbagi pengalaman ke para pendaki.
Materi yang diajarkan juga lengkap, mulai dari navigasi, survival, pelayanan tamu, sampai pengetahuan flora-fauna dan budaya lokal. Jadi bukan cuma jago naik, tapi juga ngerti “cerita” di balik gunung.
Baca juga: Tragedi di Rinjani, Kementerian Pariwisata Tegaskan SOP Wajib Ditegakkan
Program ini juga nyambung sama roadmap Pemprov Jateng: 2025 fokus infrastruktur, 2026 swasembada pangan, dan 2027 digadang jadi tahun pariwisata dan ekonomi syariah. Jadi sektor wisata memang lagi dipoles serius.
Di saat sebagian orang masih debat kerja harus “kantoran atau WFH”, Jateng malah nawarin opsi lain: kerja di gunung, tapi tetap berstandar nasional. Bedanya tipis, kalau yang lain naik karier pelan-pelan, yang ini sekalian naik gunung… tapi dibayar. (tebe)

