Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Cerita Sampah yang Malah Bikin Untung di Bulusan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Cerita Sampah yang Malah Bikin Untung di Bulusan

Di banyak tempat, sampah masih dianggap barang buangan yang bikin pusing. Tapi di sebuah sudut Kota Semarang, tumpukan sampah justru diubah jadi peluang.

T. Budianto
Last updated: Juni 2, 2026 7:41 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
BULUSAN EDU PARK: Sekda Kota Semarang, Handi Priyanto mendampingi Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat yang berkunjung ke Kebun Bulusan Edu Park, Selasa (2/6/2026). (Foto: Pemkot Semarang)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Siapa sangka gerakan sederhana yang lahir dari lingkungan RT di Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, kini menjadi perhatian pemerintah pusat.

Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat datang langsung ke Kebun Bulusan Edu Park, Selasa (2/6/2026) untuk melihat bagaimana warga mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai.

Didampingi Sekretaris Daerah Kota Semarang, Handi Priyanto, kunjungan tersebut difokuskan pada praktik pengelolaan sampah organik yang selama ini dikembangkan masyarakat melalui inovasi Biowash Promic.

Teknologi berbasis bioaktivator mikroorganisme itu digunakan untuk mempercepat proses penguraian sampah organik menjadi media tanam, pupuk, hingga nutrisi tanaman yang ramah lingkungan.

Namun yang membuat Bulusan menarik bukan sekadar teknologinya. Kawasan Kebun Bulusan Edu Park berkembang menjadi ruang belajar terbuka yang menggabungkan edukasi lingkungan, penghijauan, urban farming, hingga pemberdayaan masyarakat. Semuanya tumbuh dari inisiatif warga yang bergerak bersama mengelola persoalan sampah di lingkungannya.

Baca juga: Jutaan Sampah di Jateng Bisa Diolah, M Saleh: Kalau Serius Bisa Jadi Sumber Listrik

Di hadapan warga dan pengelola, Jumhur menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, apa yang dilakukan masyarakat Bulusan menjadi bukti bahwa solusi besar sering kali lahir dari langkah kecil yang dimulai dari tingkat paling bawah.

“Dari RT di Kota Semarang melahirkan satu gagasan bahwa ternyata sampah itu menguntungkan dan itulah ekonomi sirkular. Sampah bukan masalah, bahkan bisa menjadi bagian dari peningkatan kegiatan ekonomi,” ujarnya.

Menurut Jumhur, keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa dilepaskan dari kreativitas dan kearifan lokal masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu memberi ruang agar inovasi serupa dapat tumbuh sesuai karakter masing-masing daerah.

Ia bahkan menyebut model yang berkembang di Bulusan sebagai contoh nyata bagaimana gerakan warga dapat berjalan seiring dengan agenda nasional pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.

“Kami lebih optimis target pengelolaan sampah nasional bisa tercapai jika dibangun melalui semangat dari bawah. Prakarsa yang kuat dari masyarakat bertemu dengan dukungan negara akan menjadi ledakan kebaikan,” katanya.

Program Pemkot

Apresiasi dari Menteri Lingkungan Hidup itu juga sejalan dengan program pengelolaan sampah yang terus diperkuat Pemkot Semarang. Melalui gerakan Semarang Wegah Nyampah, penguatan bank sampah, pengembangan ekonomi sirkular, serta berbagai program edukasi lingkungan, Pemkot Semarang berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah sejak dari sumbernya.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengungkapkan, hingga 2025 Kota Semarang telah memiliki 857 bank sampah aktif dengan lebih dari 15 ribu nasabah. Dari jaringan tersebut, sekitar 1.705 ton sampah berhasil dikelola setiap tahun dengan nilai ekonomi mencapai hampir Rp2 miliar.

Tak berhenti di situ, pada 2026 jumlah bank sampah ditargetkan meningkat menjadi 1.486 unit dengan kapasitas pengelolaan mencapai 2.823 ton sampah per tahun.

Menurut Agustina, keberhasilan yang tumbuh di Bulusan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi baru, memperkuat gotong royong, dan membangun budaya hidup berkelanjutan.

Baca juga: Anglomerasi, Cara Jateng Hapus Sistem Open Dumping Sampah

Kebun Bulusan Edu Park pun kini bukan sekadar kebun edukasi. Tempat ini menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari halaman rumah, dari tong sampah, bahkan dari obrolan warga di tingkat RT.

Harapannya, cerita dari Bulusan dapat menular ke wilayah lain sehingga semakin banyak lingkungan yang mampu menemukan cara kreatif mengelola sampah sesuai potensi dan karakter masyarakatnya.

Selama ini banyak orang sibuk mencari cara membuang sampah sejauh mungkin dari rumah. Warga Bulusan justru melakukan hal sebaliknya: mereka mendekati sampah, mengelolanya, lalu mendapatkan manfaat darinya. Ternyata yang sering menjadi masalah bukan sampahnya, melainkan cara kita memandangnya. (tebe)

You Might Also Like

Pengakuan Mahasiswa Undip Penyekap Intel: Kami Niatnya Mengamankan dari Amuk Massa

Erick: Lawan China Wajib Menang

MaTA Kritik ‘Uang Lelah’ TNI di Lokasi Bencana, Bisa Bikin APBN Jebol?

Saleh Optimistis Investasi Jateng 2026 Ngebut, Iklim Usaha Dinilai Makin Ramah

Belum Laku di Hajatan, Gambang Semarang Masih Cari Panggung

TAGGED:biowash promicheadlinekelurahan bulusanmenteri lhpemkot semarangsampah
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Mahasiswa Internasional Ikut Nongkrong di Perpustakaan Desa Campuranom
Next Article Pemuda Tipu SPBU, Modalnya Mercy dan Fortuner, Begini Modusnya..

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

PB Ismapeti Pilih Turun ke Panti Demi Gizi Tepat Sasaran

Ribuan Atlet Muda Siap Adu Gengsi di POPDA

BIDIK KASUS - Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

KPK Pasang Alarm buat Proyek Kipas Kopdes

Ilustrasi desa tertinggal di Jateng, tak mempunyai akses jalan yang layak dilintasi.

Tak Ada Lagi Desa Sangat Tertinggal di Jateng, Tapi Rob dan Akses Masih Jadi PR

Odong-odong di Cilacap Minggir, Wisata Jadi Jalur Baru

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi hutan gundul. (grafis/wahyu)
Info

Netizen Rame-rame Mau Patungan Beli Hutan, Tamparan Keras untuk Pemerintah

Desember 15, 2025
Ekonomi

Kopdes Merah Putih Dapat Suntikan Baru, Skema Dana Makin Fleksibel

April 21, 2026
Info

Jateng Perkuat Pencegahan HIV Lewat Edukasi dan Konseling Gratis

Juli 8, 2026
Daerah

Bangun Rumah Nempel Jalan? Siap-Siap ‘Disentil’ Perda Baru Jateng

April 16, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Cerita Sampah yang Malah Bikin Untung di Bulusan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?