WAJAH jenazah biasanya pucat. Tapi Ayu dan Ana bisa “menghidupkan” kembali lewat makeup. Sentuhan lembut kuas di pipi, sapuan bedak di dahi, hingga lipstik tipis di bibir yang dingin, semuanya dilakukan dengan hati-hati.
Ayu dan Ana merupakan orang yang memilih jalan pekerjaan tak biasa. Kedua warga Kota Semarang ini bertahun-tahun menjadi perias jenazah. Mendandani mereka yang tak lagi bernapas.
Karena mereka perempuan, biasanya menangani jenazah perempuan juga. Tapi pernah membantu laki-laki kalau benar-benar dibutuhkan dan mendesak.
“Saya membantu agar mereka yang meninggal bisa tampil cantik,” ucap Ayu di sebelah Ana saat menjadi narasumber Podcast Kerjo Aneh-Aneh bersama host Lek Slam di YouTube Bacaajadotco yang tayang Senin (6/10/2025).
Kerja mereka memang tidak mengenal waktu. Soalnya nggak bisa nebak kapan orang meninggal dan kapan keluarga mendiang meminta jasanya.
Dari Coba-Coba Jadi Panggilan Hati
Ayu tak pernah menyangka akan jadi perias jenazah. Dulu ia hanya penjaga rumah duka, membantu menyiapkan kebutuhan keluarga yang berduka.
Suatu hari, ibu-ibu pemandi jenazah di tempatnya butuh partner. Katanya nyari orang buat bantu susah banget. Lalu ia menyanggupi. “Saya sih dulu nekat, pikirnya cuma cari cuan,” kenangnya.
Ia masih ingat pengalaman pertamanya memegang tubuh tak bernyawa. Awalnya tak berani. Tapi rekannya menuntun supaya berani. Tangannya dipaksa memegang jenazah.
“Saya masih seperti ‘gilo’, kalau takutnya sih enggak. Tapi akhirnya biasa aja,” ujarnya.
Ayu memang sudah bisa makeup. Cita-cita kecilnya jadi makeup artist (MUA). Bahkan, ia sempat kerja di salon. Hanya saja, Tuhan berkehendak lain, Ayu malah jadi MUA jenazah.
Hari saat Ayu dan Ana mengisi podcast, keduanya habis banyak job. Mereka baru saja selesai merias tiga jenazah di tempat berbeda. “Ful seharian, dari pagi sampai malam,” ujarnya.
Terhitung sudah sepuluh tahunan ia menjalani profesi itu. Ia tak pernah sekolah khusus, tapi pernah ikut seminar perawatan jenazah. Dari sana ia belajar bahwa setiap tubuh punya kondisi berbeda.
Bagi Ayu, merias jenazah bukan sekadar pekerjaan. Ada makna spiritual di dalamnya. Di Alkitab, dibilang kalau kita meninggal akan bertemu Tuhan sebagai pengantin-Nya. “Makanya jenazah harus bersih, rapi, cantik.”
Sebelum mulai, Ayu selalu menyapa jenazah. Kadang malah guyon. “Ayo ojo suwi-suwi, sing gampang ya,” katanya sambil meniru caranya berbicara dengan jenazah.
Mereka meyakini, setiap kali menyentuh jenazah, ia sedang membantu seseorang menuntaskan perjalanan terakhirnya di dunia.
Tantangan dan Cerita Haru
Merias jenazah, menurut Ayu, tak selalu mudah. Yang paling susah mengurus jenazah penderita penyakit diabetes dan autoimun. Biasanya kulitnya melepuh, keluar air terus.
“Mau dipakein baju takut pecah,” tuturnya. Ia pernah salah perlakuan. Kulit jenazah sampai baju yang dikenakan berubah kuning kena cairan. Dari situ ia belajar mengakali dengan tetap memegang etika.
Ayu dan Ana sering juga menangani jenazah dengan kondisi mulut terbuka. Jika tak memegang etika, sebenarnya cukup dikasih lem, selesai. Tapi mereka memilih cara yang lebih manusiawi.
Ia juga pernah menangani korban kecelakaan Tol Cipularang yang dibawa ke Semarang. Daging otaknya masih nempel di rambut. Ia bersihin pelan-pelan sampai hasilnya tetap pantas dilihat keluarganya.
“Soalnya kami dituntut bagaimana jenazah seperti ini jadi cantik. Itu PR buat kami,” tuturnya.
Pernah juga ia menolak merias. Mereka bercerita, saat tiba di rumah mendiang sudah tercium aroma tak sedap. Sebelum melihat, Ana sudah tahu kalau ini jenazah yang sudah meninggal beberapa hari lalu.
Keluarga jenazah bilangnya meninggal kemarin. Tapi Ana dan Ayu tak percaya. Soalnya tubuhnya sudah menghitam, matanya mau keluar, dan perutnya tinggal menunggu meletup.
Akhirnya jenazah itu tidak dimandikan dan tak pula didandani. “Nggak bisa dipakein baju juga. Itu dipegang pun nggak bisa. Jadi kami sarankan langsung masukin kantong jenazah,” ceritanya.
Yang paling menyentuh baginya adalah saat harus merias jenazah dari panti jompo. Pernah ada jenazah yang cuma dibekali daster sobek, sarung lusuh. Ia pun berupaya biar jenazah terlihat cantik, kayak lagi tidur nyenyak.
“Hidupnya aja udah susah, masa meninggal juga susah,” katanya prihatin.
Antara Takut dan Ketulusan
Ana pernah bekerja sendiri saat Ayu libur merias jenazah. “Pas sendirian, di rumah duka sepi, ya takut juga. Tapi lama-lama biasa,” katanya.
Tak semua pengalaman bisa dijelaskan logika. Pada suatu wakyu Ayu dan Ana pernah merasa “dilihat” saat bekerja di rumah duka atau kamar jenazah rumah sakit.
Perasaan Ayu agak aneh. Ia lantas berbisik ke Ana, menceritakan kegelisahannya kenapa seolah ada yang mengawasi. Dan ternyata Ana punya feeling yang sama.
“Pas saya ngomong, malah dijawab, ‘heeh, ono yo’,” ceritanya sambil tertawa kecil.
Bagi Ayu, yang juga menggetarkan adalah ketika menangani jenazah bayi. Bayi lima bulan dalam kandungan. Setelah selesai dimandikan, bayi itu dikasih kain putih, terus serahin ke keluarga.
Setelahnya, Ayu pulang. Tapi tubuhnya mendadak lemas. Kayak ngerasa ada yang ikut. Saat itu juga ia berbicara sendiri. “Aku wegah digondeli. Sudah cukup di sini, lanjutkan perjalananmu,” ucapnya menirukan omongan sendiri.
Bagi Ayu dan Ana, pekerjaan ini bukan soal uang, tapi keikhlasan. Semua orang nggak tahu kapan ajal menjemput. Jadi selama bisa bantu, bantu aja.
Ayu menambahkan, mereka tak pernah mematok harga. Kalau keluarga mau ngasih uang bensin bersyukur. “Yang penting saya bisa bantu,” tuturnya.
Meski begitu, protes dari keluarga pernah datang. Ia pun menjelaskan pelan-pelan. Tapi lebih banyak yang berterima kasih, bahkan sampai menangis dan memeluknya.
Ayu dan Ana selalu membawa tas makeup kecil berisi kapas, bedak, foundation, hingga tali. Semua alatnya sama seperti alat rias untuk orang hidup. Tujuan dan kegunaannya yang beda.
Ia tersenyum kecil, menatap alat-alatnya. “Prinsip saya itu bagaimana saya bisa membuat jenazah itu (tampak) seperti hidup,” pungkasnya. (bae/*)


