Muhajir, dosen Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS).
Terselip kritik terhadap tradisi ABS (asal bapak senang). Ketika laporan kepada pemimpin hanya berisi hal-hal baik. Penyamaran menjadi upaya untuk melihat keadaan secara langsung.
Akhir-akhir ini saya sering melihat konten parodi tentang “CEO yang menyamar” berseliweran di Instagram. Konten-konten itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat saya tersenyum tipis. Salah satunya berbunyi, “Saya menunggu suamiku mengaku bahwa dirinya adalah CEO yang menyamar.” Ada pula, “Saya tidak berani berbicara kasar dengan cleaning service. Siapa tahu salah satu dari mereka adalah CEO yang menyamar.”
Sejak awal perlu ditegaskan bahwa ini adalah parodi. Parodi bekerja dengan cara meniru sesuatu yang sedang viral, lalu menertawakannya. Dalam hal ini, yang ditertawakan adalah pola cerita yang belakangan ini sangat populer, terutama dalam film-film pendek asal Tiongkok: kisah tentang seorang Chief Executive Officer (CEO) alias Direktur Utama yang menyamar sebagai orang biasa.
Formula ceritanya hampir selalu sama. Seorang tokoh hadir sebagai figur lemah—kadang sebagai pegawai baru, kadang sebagai pekerja rendahan. Ia diremehkan, ditindas, dan diperlakukan tidak adil. Penonton diajak berempati, merasa iba, dan menunggu keadilan datang. Di akhir cerita, fakta terungkap: sosok lemah itu ternyata adalah CEO. Keadaan pun berbalik. Orang jahat kalah, pengkhianat terbongkar, dan tatanan moral seolah dipulihkan.
Namun, jika ditarik lebih jauh, pola cerita semacam ini sebenarnya bukan barang baru. Ia sudah lama hidup dalam berbagai kisah klasik lintas budaya. Dalam cerita rakyat Sunda, Lutung Kasarung mengisahkan seorang pangeran yang dikutuk menjadi kera. Kesetiaan dan ketulusan Purba Sari diuji sebelum sang Lutung kembali ke wujud manusia dan martabatnya dipulihkan.
Dalam kisah-kisah panji di Jawa, penyamaran pangeran juga kerap muncul. Sang tokoh utama menanggalkan identitas kebangsawanannya, hidup sebagai orang biasa, menguji kesetiaan, dan menemukan kembali cinta serta makna kepemimpinan. Kekuasaan tidak lenyap, hanya disembunyikan.
Tradisi Islam mengenal figur Khalifah Harun ar-Rasyid yang dalam banyak hikayat diceritakan menyamar dan berjalan di malam hari untuk menyaksikan langsung kehidupan rakyatnya. Penyamaran menjadi cara seorang penguasa menilai keadaan, bukan dari laporan, melainkan dari pengalaman.
Bahkan dalam epos Yunani, Odysseus pulang ke Ithaka sebagai pengemis. Ia dihina, diremehkan, dan diperlakukan kasar hingga saat yang tepat tiba. Ketika identitasnya terbuka, keadilan ditegakkan dan mereka yang berlaku curang menerima ganjarannya.
Penyamaran para tokoh sohor, terutama dalam cerita-cerita rakyat lama, merupakan sebentuk kerinduan masyarakat terhadap keteladanan dan keadilan seorang pemimpin. Cerita-cerita itu menyuguhkan figur pemimpin yang adil dan mencintai rakyatnya, sehingga berupaya sekuat tenaga agar persoalan di masyarakat dapat tertangani.
Di dalamnya juga terselip kritik terhadap tradisi feodalisme ABS (asal bapak senang), ketika laporan kepada pemimpin hanya berisi hal-hal baik. Penyamaran menjadi upaya untuk melihat keadaan secara langsung.
Sementara itu, penyamaran dalam cerita-cerita baru dari Tiongkok—dengan tokoh seorang CEO—dapat dilihat melalui sudut pandang penonton dan keberpihakan cerita. Kebanyakan penontonnya berasal dari kalangan bawah yang memimpikan perubahan hidup secara cepat, mudah, dan signifikan, seolah cukup dengan bertemu seorang CEO yang menyamar. Film-film semacam itu pada akhirnya mewakili impian sebagian besar penontonnya.
Khayalan tentang bertemu dan berjodoh dengan sosok berkuasa dalam psikologi sosial dan kajian budaya dipahami sebagai fantasy of upward mobility, yakni hasrat untuk meloncat kelas sosial melalui peristiwa luar biasa yang bersifat personal dan emosional (Bourdieu, 1984; Illouz, 2007).
Cerita sejenis ini bekerja sebagai wish fulfillment, yaitu pemenuhan simbolik atas keinginan dan impian yang sulit diwujudkan dalam realitas sosial sehari-hari (Freud, 1900; Storey, 2018). Melalui cerita, ketimpangan struktural yang nyata untuk sementara dilunakkan oleh janji imajiner bahwa keadilan dan keberuntungan akan datang secara tiba-tiba kepada mereka yang tertindas.
Jika Anda termasuk penggemarnya, mungkin sudah waktunya bangun dan tidak terus-menerus bermimpi. Kesuksesan tidak datang dari berharap pasangan Anda tiba-tiba mengaku sebagai CEO, lalu mengajak berkeliling dunia dan hidup dari passive income. Kesuksesan hanya bisa dicapai melalui kerja yang panjang, sunyi, dan sering kali tidak seindah cerita.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


