BACAAJA, SEMARANG – Mengejar target penjualan terkadang membuat pekerja menghadapi pilihan sulit, terutama ketika prosedur yang berlaku dianggap menghambat transaksi. Namun, mempermudah urusan konsumen dengan mengubah atau memalsukan data bukan langkah yang bisa dianggap sepele.
KH Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya menjelaskan bahwa kebohongan tetap menjadi persoalan dalam pandangan Islam, sekalipun pelakunya merasa tidak ada pihak yang dirugikan. Penjelasan tersebut disampaikan ketika ia menjawab pertanyaan seorang perempuan yang bekerja sebagai tenaga pemasaran perumahan.
Perempuan tersebut mengaku kerap memanipulasi data untuk memudahkan proses bagi konsumennya. Walaupun konsumen merasa terbantu, ia masih mempertanyakan apakah tindakan tersebut dibenarkan secara agama.
Kebohongan Tetap Menjadi Masalah
Dalam ceramah yang dikutip dari kanal YouTube Al-Bahjah TV pada 24 April 2025, Buya Yahya menegaskan bahwa kejujuran merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim.
“Berbohong itu bukan kebiasaan orang yang beriman,” ujar Buya Yahya.
Menurutnya, tindakan memanipulasi data yang mengandung unsur kebohongan tetap bermasalah meskipun pelakunya memiliki alasan untuk membantu konsumen. Niat mempermudah urusan orang lain tidak otomatis membenarkan cara yang bertentangan dengan nilai kejujuran.
Ia juga mengingatkan bahwa ukuran benar atau salah tidak cukup hanya berdasarkan ada atau tidaknya kerugian finansial yang langsung terlihat. Kebohongan itu sendiri merupakan tindakan yang harus dipertanggungjawabkan.
“Kalau perusahaan dirugikan, maka dosanya kepada perusahaan. Tapi kalau tidak ada yang dirugikan, tetap saja berdosa karena berbohong,” jelasnya.
Membantu Konsumen Bukan Alasan Memalsukan Data
Dalam pekerjaan pemasaran, kepercayaan menjadi salah satu hal penting yang menentukan hubungan antara perusahaan dan pelanggan. Karena itu, data yang disampaikan seharusnya sesuai dengan keadaan sebenarnya, bukan diubah demi mempercepat proses penjualan.
Buya Yahya mengingatkan bahwa cara yang digunakan untuk mencapai tujuan juga harus diperhatikan. Membantu konsumen memang merupakan hal baik, tetapi bantuan tersebut seharusnya dilakukan melalui prosedur yang benar.
Manipulasi data juga berpotensi menimbulkan masalah lain apabila informasi yang diubah berkaitan dengan persyaratan transaksi, penilaian kelayakan, atau keputusan perusahaan. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi bisa muncul ketika data tersebut diperiksa atau digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Karena itu, pekerja yang menghadapi kendala administrasi sebaiknya mencari solusi yang transparan. Jika ada persyaratan yang sulit dipenuhi konsumen, persoalan tersebut bisa dikonsultasikan kepada atasan atau pihak terkait tanpa harus membuat informasi yang tidak sesuai fakta.
Jangan Anggap Remeh Dosa Berbohong
Buya Yahya juga mengingatkan agar seseorang tidak meremehkan kebohongan hanya karena merasa dampaknya kecil. Kebiasaan membenarkan kebohongan demi kepentingan tertentu bisa membuat seseorang semakin terbiasa mengabaikan kejujuran.
“Dosa kok cuma? Bagaimana bisa ada ‘cuma’ dalam dosa?” ujarnya.
Pesan tersebut menekankan pentingnya menjaga integritas, baik ketika berada di lingkungan keluarga maupun saat menjalankan pekerjaan profesional. Kejujuran bukan hanya diperlukan ketika seseorang sedang diawasi, tetapi juga ketika tidak ada orang lain yang mengetahui tindakannya.
Ia turut mengingatkan bahwa mengejar keuntungan duniawi tidak semestinya membuat seseorang mengabaikan nilai agama. Rezeki yang diperoleh melalui pekerjaan perlu diupayakan dengan cara yang baik agar tidak dibayangi tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
“Na’udzubillah, jangan sampai karena ingin cari dunia, kita berbohong ke sana ke mari,” kata Buya Yahya.
Perbaiki Cara Kerja, Jaga Kejujuran
Bagi pekerja yang terlanjur melakukan manipulasi data, langkah penting yang perlu dilakukan adalah menghentikan kebiasaan tersebut dan memperbaiki kesalahan yang masih bisa diperbaiki. Jika ada pihak yang dirugikan, pemulihan haknya perlu menjadi perhatian sesuai dengan persoalan yang terjadi.
Pekerja juga perlu memahami aturan perusahaan dan memastikan informasi yang digunakan dalam transaksi benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Target penjualan dan kepuasan pelanggan tidak seharusnya dicapai dengan mengorbankan kejujuran.
Buya Yahya mengajak umat Islam menjadikan kejujuran sebagai dasar dalam mencari nafkah. Sebab, keberhasilan dalam pekerjaan bukan hanya soal besarnya penghasilan atau banyaknya transaksi, tetapi juga cara memperoleh hasil tersebut.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa niat baik perlu berjalan bersama tindakan yang benar. Dalam dunia kerja, membantu konsumen tetap bisa dilakukan tanpa memalsukan data, sementara menjaga kejujuran menjadi bagian penting dari tanggung jawab moral dan keagamaan seorang Muslim. (*)

