BACAAJA, SOLO — Sayembara yang digelar Pemkot Solo belum juga menemukan sosok pemenang. Seluruh peserta yang mengaku pantas menjabat sebagai CEO Taman Balekambang, sudah berguguran.
Sekarang demi keberlangsungan Taman Balekambang, Pemkot Solo membuka ulang proses seleksi. Siapapun bisa ikut termasuk kamu.
Siapa tahu kamu diam-diam ternyata keturunan ke sekian dari penguasa bisnis di suatu daerah, yang pantas menjabat sebagai CEO Balekambang..
Sebelumnya, memang sudah ada lima kandidat CEO Taman Balekambang Solo yang ikut seleksi. Semuanya resmi gugur. Padahal, mereka sudah sampai tahap akhir seleksi.
Tapi hasil akhirnya nihil: nggak satu pun tembus standar kelulusan. Pemkot Solo pun akhirnya angkat tangan dan buka pendaftaran ulang.
Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Budi Murtono, menegaskan kegagalan ini bukan karena kurang peserta, tapi karena standarnya memang nggak kecapai.
Bacaaja: Penerbangan Solo-Bandung & Solo-Surabaya Comeback
Bacaaja: Wali Kota Solo Ajak Dapur MBG Belanja ke Pasar Tradisional: Biar Ekonominya Muter!
“Lima peserta yang sampai tahapan wawancara kemarin tidak ada yang mencapai passing grade yang ditetapkan, sehingga kita nyatakan tidak lolos,” kata Budi, Senin (5/12/2025).
Seleksi CEO Balekambang sejatinya sudah lewat fase lengkap: administrasi, uji kelayakan dan kepatutan, wawancara, sampai presentasi visi. Tapi setelah semua nilai dijumlah, hasilnya tetap sama: mentok di bawah passing grade 75.
“Setelah ditotal dari seluruh tahapan, tidak ada yang mencapai batas nilai yang ditetapkan panitia,” ujar Budi.
Dengan kata lain, kursi CEO Balekambang masih kosong. Gaji Rp15–20 juta per bulan belum cukup buat meloloskan kandidat yang benar-benar sesuai ekspektasi Pemkot.
Alih-alih melonggarkan standar, Pemkot Solo memilih reset total. Seleksi bakal diulang dari awal dan pendaftaran dibuka lagi untuk publik.
“Kita akan lakukan seleksi ulang. Nanti menunggu arahan dari Bapak Wali Kota agar kesempatan bisa lebih luas,” kata Budi.
Langkah ini jadi sinyal kalau Pemkot nggak mau kompromi soal kualitas, meski harus mengulang proses dan makan waktu lebih lama.
Bukan jabatan kaleng-kaleng
Sebelumnya, Wali Kota Solo Respati Ardi sudah menegaskan posisi CEO Balekambang bukan sekadar jabatan bergaji besar. Targetnya jelas: Balekambang harus naik kelas.
“Pimpinan BLUD ini harus punya pengalaman jelas dan integritas, karena tugasnya mengelola dan merawat aset milik pemerintah,” kata Respati.
Posisi ini terbuka untuk WNI usia 25–45 tahun, minimal lulusan S1, berpengalaman memimpin destinasi wisata minimal tiga tahun, dan bebas afiliasi partai politik.
Ke depan, Taman Balekambang ditargetkan dikelola dengan skema BLUD, alias harus mandiri secara finansial.
Artinya, CEO baru nantinya dituntut bukan cuma bisa ngatur taman, tapi juga bikin sistem yang hidup dan berkelanjutan.
“Harapannya Balekambang bisa membiayai operasional sendiri tanpa bergantung APBD,” tegas Respati.
Pesan tersirat: gaji besar, kandidat harus mumpuni
Gagalnya seluruh kandidat ini jadi pesan keras, terutama buat profesional muda: jabatan publik strategis nggak bisa cuma modal CV dan pengalaman normatif.
Pemkot Solo lagi nyari figur yang punya visi, eksekusi, dan mental ngelola aset publik. Dan sejauh ini, belum ada yang lolos uji.
Pendaftaran dibuka ulang. Kursi CEO masih kosong. Sekarang pertanyaannya: siapa yang siap naik level dan beneran layak? (*)


