BACAAJA, SEMARANG – Kekhawatiran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar hingga Jawa Tengah belum terbukti di lapangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan belum menemukan abu vulkanik yang mengendap di permukaan wilayah Jawa Tengah.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto mengatakan, dalam rilis media di Co-Working Space Kantor Gubernur Rumah Rakyat, Senin (7/9/2026). pemantauan dilakukan menggunakan sejumlah instrumen, termasuk citra satelit Himawari dan informasi dari Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin.
Dari pemantauan tersebut, abu vulkanik memang terdeteksi berada di lapisan atmosfer. Namun, kondisi angin di lapisan bawah membuat sebarannya tidak serta-merta turun ke permukaan Jawa Tengah.
“Di lapisan atas memang ada pergerakan abu, tetapi kondisi di lapisan bawah berbeda,” kata Goeroeh.
Bacaaja: BPBD Jateng Pastikan Erupsi Anak Krakatau Tak Ganggu Aktivitas Warga
Bacaaja: 3.420 Penumpang Pesawat di Bandara Ahmad Yani Semarang Terdampak, 29 Penerbangan Dibatalkan
Untuk memastikan kondisi di lapangan, BMKG juga melakukan paper test di sejumlah titik. Pengujian dilakukan di Bandara Ahmad Yani Semarang, Tegal, Kertajati, hingga Tunggul Wulung Cilacap.
Hasilnya, seluruh pengujian menunjukkan hasil negatif atau belum ditemukan indikasi endapan abu vulkanik di permukaan.
“Dari Kertajati, Tegal, kemudian Cilacap dan Semarang sendiri, paper test-nya negatif,” ujarnya.
Goeroeh menjelaskan, kondisi atmosfer menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah pergerakan abu vulkanik. Karena itu, keberadaan abu di lapisan atmosfer tidak bisa langsung disimpulkan sebagai abu yang sudah jatuh dan mengendap di suatu wilayah.
Kondisi tersebut juga menjadi alasan masyarakat diminta tidak langsung mempercayai informasi mengenai peta sebaran abu vulkanik yang beredar di media sosial.
Menurutnya, informasi mengenai sebaran abu perlu dilihat berdasarkan ketinggian atmosfer, arah angin, serta hasil pengamatan langsung di lapangan.
Selain memantau abu vulkanik, BMKG juga terus mengawasi kondisi cuaca di Jawa Tengah. Saat ini sebagian besar wilayah Jateng masih berada dalam periode kemarau dengan kondisi yang cukup kering.
Bahkan, sebanyak 24 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah tercatat berada dalam kondisi kemarau panjang dengan periode tanpa hujan lebih dari 61 hari.
Kondisi kering tersebut berpotensi membuat debu di jalan maupun lingkungan lebih mudah beterbangan. Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung menganggap debu yang menempel pada kendaraan sebagai abu vulkanik.
BMKG akan terus memantau perkembangan sebaran abu Gunung Anak Krakatau melalui citra satelit dan pengamatan di lapangan. Masyarakat pun diminta tetap tenang dan mengikuti informasi dari lembaga resmi. (dul)

