BACAAJA, JAKARTA — Dunia internasional lagi-lagi dibuat kaget. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak memerintahkan serangan ke Caracas, Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat.
Maduro ditangkap di kediamannya hanya beberapa saat setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan dan operasi militer di Caracas, ibu kota Venezuela.
Aksi ini langsung memicu spekulasi global: kenapa Trump nekat menangkap presiden negara lain?
Bacaaja: Kacau! Amerika Tangkap Presiden Venezuela, Picu Perang Dunia Ketiga?
Bacaaja: Iran Bergolak! Ekonomi Ambruk, Demo Besar-besaran Telan 7 Korban Tewas
Jawaban awal datang dari Senator Partai Republik Mike Lee. Ia mengklaim penangkapan Maduro berkaitan langsung dengan operasi militer AS yang digelar malam itu.
Lee bahkan mengaku mendapat informasi langsung dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menyebut Maduro dan istrinya sudah berada dalam kendali personel AS.
“Ia (Marco Rubio) memberi tahu saya bahwa Nicolás Maduro telah ditangkap oleh personel AS untuk diadili di Amerika Serikat,” tulis Lee, dikutip dari CNN.
Menurutnya, serangan militer yang terjadi bertujuan melindungi pasukan AS yang menjalankan surat perintah penangkapan.
Lee menilai langkah Trump masih berada dalam kewenangan Presiden AS berdasarkan Pasal II Konstitusi Amerika Serikat, yang memberi hak bagi presiden untuk melindungi personel AS dari ancaman nyata maupun yang akan segera terjadi.
Padahal sebelumnya, Lee sempat mempertanyakan dasar konstitusional dari operasi militer tersebut.
Alasan hukum penangkapan Maduro kemudian dipertegas oleh Jaksa Agung AS Pamela Bondi. Ia menyebut Maduro ditangkap karena kejahatan narkoterorisme dan perdagangan senjata.
Lewat akun X miliknya, Bondi memastikan Maduro dan Cilia Flores akan diadili di Pengadilan Federal New York.
Menurut Bondi, dakwaan yang disiapkan tidak main-main. Maduro didakwa atas konspirasi narkoterorisme, penyelundupan kokain, kepemilikan senjata api dan senjata destruktif, hingga konspirasi penggunaan senjata mesin terhadap Amerika Serikat.
“Mereka akan menghadapi sepenuhnya murka hukum Amerika di tanah Amerika,” tegas Bondi.
Tak lama berselang, Maduro dan istrinya dilaporkan telah mendarat di New York dengan pengawalan super ketat untuk menjalani proses hukum di pengadilan federal Manhattan.
Meski begitu, langkah Trump menuai kritik keras dari berbagai negara. Sejumlah pemimpin Amerika Latin, termasuk dari Kolombia dan Kuba, menilai penangkapan Maduro bukan sekadar soal hukum, melainkan upaya menjatuhkan rezim Venezuela demi kepentingan ekonomi AS.
Siap kucurkan investasi untuk minyak Venezuela
Isu minyak pun mencuat. Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan menyebut perusahaan minyak dan gas raksasa AS siap mengucurkan investasi miliaran dolar ke Venezuela.
“Perusahaan minyak dan gas terbesar Amerika akan masuk, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, dan mulai berinvestasi,” kata Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida.
“Mari kita mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” tambahnya blak-blakan.
Langkah Trump ini pun bikin dunia terbelah: ada yang melihatnya sebagai penegakan hukum internasional, ada juga yang menilai ini cuma drama geopolitik beraroma minyak.
Satu hal yang pasti, Venezuela kini jadi pusat perhatian global, dan efeknya bisa ke mana-mana. (*)


