BACAAJA, SEMARANG – Massa aksi di Semarang bawa batang pisang. Batang itu ditempeli foto Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka. Lalu fotonya jadi sasaran pelampiasan emosi.
“Ayo silakan lampiaskan emosi kalian,” teriak orator di mobil komando.
Sejurus kemudian, seorang massa dengan muka penuh amarah melesatkan tendangan. Sepakannya mengenai wajah Gibran yang ditenpel di bawah foto Prabowo.
Massa lain tak mau ketinggalan. Dia maju lalu menyiramkan air ke foto muka pemimpin negara. Botol kemasan juga dilempar.
Lalu, ada pula yang dengan gaya santai. Sambil menenteng rokok, lalu disudutkan ke muka Prabowo. Foto bagian bibir Prabowo dibolongi lalu disumpel dengan rokok tadi.
Sebagai pamungkas, seorang massa aksi membawa kantong plastik berini bunga. Bunga itu ditaburkan ke foto Prabowo-Gibran.
Aksi ini disebut “sidang rakyat” oleh para orator. Fakhrian Fawwazki, salah satu orator lapangan, bilang kalau simbol-simbol itu bukan asal brutal. Tapi cara mahasiswa menyampaikan kekecewaan yang udah numpuk.
“Kami kasih waktu pejabat-pejabat itu turun ikut sidang rakyat, tapi nyatanya mereka nggak berani. Polisi juga nggak berani. Pemerintah apalagi,” kritiknya.
Kalimatnya keras, tapi suasana memang lagi panas.
Sambil berorasi, massa terus menyoraki nama-nama pejabat. Aksi itu langsung disambut sorak dan tawa getir dari peserta lain.
Meski terlihat “dramatik”, aksi ini sebenarnya bentuk frustrasi. Mereka ingin suara rakyat didengar, bukan ditertawakan.
Dan, di antara asap rokok, bunga tabur, dan batang pisang, ada satu pesan jelas: Nurani boleh mati, tapi mahasiswa nggak akan berhenti ngomong. (bae)

