Muhajir, dosen Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS)
“Smartphone seperti cermin yang terus memantulkan kehidupan orang lain, sementara pantulan diri sendiri semakin kabur.”
Kapan terakhir kali kamu menikmati senja tanpa menatap layar?
Ini masalah saya, mungkin juga dialami oleh orang lain. Sebagian hidup saya, saya habiskan untuk bermain media sosial. Saya punya akun instagram, dan mengelola beberapa akun instragram organisasi. Saya juga memiliki akun youtube, facebook, pinterest, whatsapp. Saya juga punya akun marketplace. Selain yang saya sebutkan tadi, saya juga bekerja menggunakan canva dan capcut. Saya menonton film di netflik. Berbagai aplikasi tersebut merenggut waktu saya.
Belum cukup sampai di situ. Sekarang ini pembayaran serba cashless. Pernah suatu ketika saya masuk ke sebuah cafe. Saya memesan beberapa menu. Saat pembayaran saya mengeluarkan uang. Sang kasir bilang cashless. Uang yang saya bawa tidak laku. Pada saat itu saya belum tahu caranya membayar secara online. Bingunglah saya harus bagaimana, untung pada waktu itu ada teman yang kenal sehingga dia dapat membantu saya.
Hal yang sama juga terjadi saat saya mau membayar ongkos travel. Saya sudah datang membawa uang cash, tetapi mereka mengharuskan pembayaran via online. Akhirnya saya berjalan cukup jauh ke Indomaret untuk membayar ongkos travel itu. Parkir, tol, hampir semua kini bisa dibayar via online. Dengan demikian keberadaan smartphone semakin krusial. Rasanya lebih berat puasa nasi dibanding puasa smartphone.
Waktu saya untuk smartphone lebih banyak dibanding untuk istri saya sendiri, apalagi untuk anak-anak saya. Sepulang kerja saya pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarga. Namun, masing-masing dari kami sama-sama sibuk dengan smartphone masing-masing. Ada obrolan hanya sedikit-sedikit.
Kalaupun akhirnya kami mengobrol, (istirahat ber-HP) yang jadi bahan obrolan kami juga apa-apa yang kami lihat dan kami baca di media sosial. Saya jadi teringat pendapat Sherry Turkle dalam bukunya Alone Together: Why We Expect More From Technology and Less From Each Other (2011), teknologi membuat manusia ‘bersama-sama tapi sendiri’—terhubung secara digital, tapi terputus secara emosional. Wah, bahaya nih!
Menurut saya dampak yang paling buruk dari smartphone dan perangkatnya ialah saya dipaksa mengetahui lebih banyak informasi yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Berita-berita berseliweran di mana-mana tanpa saya minta melalui jendela-jendela yang terbuka. Informasi itu memaksa saya untuk turut memikirkannya. Energi saya terkuras oleh informasi-informasi itu.
Tidak jarang saya bertengkar dengan istri saya lantaran memperdebatkan informasi yang muncul di media sosial yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kehidupan kami. Smartphone seperti cermin yang terus memantulkan kehidupan orang lain, sementara pantulan diri sendiri semakin kabur.
Laporan Digital 2025 Indonesia yang dirilis oleh We Are Social dan Meltwater menyebutkan, rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari delapan jam per hari di depan layar, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan tingkat penggunaan media sosial tertinggi di dunia.
Smartphone tidak selalu buruk, hal baik yang diberikannya ialah ia selalu menemani ketika saya sendirian sehingga saya tidak kesepian. Menjelang tidur atau setelah tidur saya bisa membuka salah satu aplikasi di smartphone. Waktu jeda antara satu kegiatan dengan kegiatan lain saya juga terhibur berbagai tayangan di Youtube atau Instagram.
Menunggu menjadi hal yang tidak membosankan karena adanya smartphone. Saya pernah mengalami delay pesawat. Pesawat yang harusnya terbang pukul enam pagi harus ditunda sampai pukul dua siang karena masalah cuaca. Tidak ada orang yang saya kenal sama sekali di bandara itu.
Saya bukan orang yang pandai bergaul dan dapat mengobrol secara random dengan orang yang baru saya temui. Akhirnya di bandara itu, menghadap cakrawala yang keruh dan mendung, saya duduk di sebuah kursi, tas di samping saya, dan teh poci hangat yang saya pesan di kedai di dalam bandara, ada di hadapan saya. Di dalam tas sebenarnya ada buku, tetapi saya memilih membuka smartphone, beralih dari satu akun ke akun yang lain. Melihat status-status teman. Pada saat seperti ini, hal yang paling saya khawatirkan adalah menipisnya cadangan baterai. Untung saja bandara itu menyediakan colokan listrik. Waktu berlalu dalam damai.
Kita harus sadar bahwa smartphone hanyalah alat. Kita gunakan sesuai dengan keperluan kita saja. Jika sudah mulai mengganggu, letakkan dulu. Toh banyak juga orang yang bisa hidup tanpa smartphone.
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


