BACAAJA, SEMARANG – Bendara Bulan Bintang, bendera yang digunain Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memerdekakan Aceh, kembali berkibar di tengah bencana dahsyat yang melanda.
Warga ngibarin bendera Bulan Bintang sambil ngumpulin donasi untuk sodara-sodara mereka yang tertimpa bencana.
Di tempat lain, bahkan bendera Bulan Bintang berkibar di tengah-tengah warga yang kelaparan, di tengah pengungsian bencana.
Bacaaja: Saat Bencana Datang, Umrah Tetap Jalan, Inilah Nasib Sang Bupati Aceh Selatan
Bacaaja: Beda Penanganan Korban Banjir di Thailand dan Sumatera, seperti Bumi-Langit
Warga di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dari kampung sampai pusat Kota Blangpidie kompak turun ke jalan buat bantu saudara-saudara mereka yang terdampak banjir dan longsor di Aceh.
Mulai dari ibu-ibu di desa, anak muda, sampai mahasiswa—semuanya patungan apa pun yang mereka punya:
pakaian, sarung, mukena, uang tunai, sampai perlengkapan darurat.
“Warga Abdya banyak yang nyumbang, dari pakaian sampai uang tunai,” kata Iki, salah satu relawan yang ikut menggalang dana, Senin (8/12/2025).
Yang bikin terharu, banyak orang rela berdiri berjam-jam di bawah panas matahari hanya untuk ngumpulin donasi dari pengendara.
Lokasi penggalangan dana juga tersebar, salah satunya di Gampong Alue Pisang, Kecamatan Kuala Batee.
Di sana, mahasiswa, pemuda, dan ibu-ibu turun bersama. Bahkan, beberapa warga mengibarkan bendera Bulan Bintang — bukan untuk hal politis, tapi sebagai simbol identitas Aceh sekaligus bentuk solidaritas kepada korban bencana.
Di tengah duka, warga Abdya menunjukkan satu hal: kalau negara mungkin lambat datang, tapi rakyat Aceh nggak akan membiarkan saudaranya berjuang sendirian.
Simbol protes, bukan ngajak perang
Ini simbol kecewa. Simbol putus asa. Simbol “Kami ada, tapi negara ke mana?”
Di tengah rumah tenggelam, orang tua kehilangan anak, warga kelaparan.
Yang berkibar itu bukan bendera perlawanan, tapi bendera pengingat: bahwa mereka merasa diabaikan.
Jadi gini, di satu sisi Aceh lagi kebanjiran parah sampai rumah hanyut kayak sandal jepit di got pas hujan.
Ratusan ribu warga ngungsi, logistik seret, suara anak-anak minta makan pecah di mana-mana.
Tapi di sisi lain, Jakarta masih tenang dan enteng bilang ini belum bencana nasional.
Ini simbol kecewa. Simbol putus asa. Simbol “Kami ada, tapi negara ke mana?
Di tengah rumah tenggelam, orang tua kehilangan anak, warga kelaparan.
yang berkibar itu bukan bendera perlawanan, tapi bendera pengingat: bahwa mereka merasa diabaikan.
Menurut kalian, pengibaran Bintang Bulan ini: makar, atau justru kode keras buat para pejabat yang duduk nyaman di kursi empuk? (*)

