BACAAJA, SEMARANG – Bahasa daerah ternyata bukan hilang karena dilarang. Tapi pelan-pelan ditinggal sendiri, terutama setelah sekolah-sekolah mulai penuh memakai bahasa Indonesia.
Akibatnya, banyak anak sekarang justru lebih fasih bahasa Indonesia dibanding bahasa ibunya sendiri.
“Berkurangnya penutur bahasa daerah di Indonesia itu bukan karena paksaan tapi karena sukarela,” kata pemerhati bahasa asal Semarang, Hartono Samidjan, Kamis (14/5/2026).
Bacaaja: Lewat Radio, Bahasa “Lo-Gue” Mulai Gerus Dialek Semarang Sejak Era 80-an
Bacaaja: Dialek Semarangan Tumbuh dari Terminal sampai Bioskop
Hartono bilang, setelah Indonesia merdeka dulu situasinya masih beda. Anak-anak SD masih belajar memakai bahasa daerah karena dianggap lebih gampang dipahami.
“Setelah kemerdekaan semua sekolah terutama tingkat SD menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar,” ujarnya.
Bahkan, kata dia, langkah itu juga pernah dianjurkan UNESCO pada era 1950-an. Alasannya sederhana, anak kecil lebih cepat nangkep pelajaran kalau pakai bahasa sehari-hari di rumah.
“UNESCO memang menganjurkan agar bahasa pengantar di dunia pendidikan itu menggunakan bahasa ibu,” katanya.
Tapi situasi Indonesia waktu itu lagi sibuk menguatkan persatuan nasional. Semangat Sumpah Pemuda yang mengusung satu bahasa Indonesia akhirnya ikut memengaruhi dunia pendidikan.
Pelan-pelan bahasa daerah mulai dikurangi di sekolah. “Sekitar tahun 1950 atau 1953 itu ada kebijakan bahasa daerah hanya dipakai sampai kelas 3,” ujar Hartono.
Lalu sekitar tahun 1975, aturan makin kencang. Semua sekolah dari SD sampai perguruan tinggi wajib memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.
“Semua jenjang pendidikan harus wajib menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia,” katanya.
Hartono sendiri masih sempat merasakan sekolah memakai bahasa Jawa waktu kecil. Dari TK sampai kelas 3 SD, guru-gurunya masih mengajar pakai bahasa daerah.
Karena terbiasa sejak kecil, Hartono mengaku sampai sekarang masih hafal lagu dan tembang Jawa yang dulu sering dinyanyikan di sekolah.
Tapi begitu masuk kelas 4 SD, suasananya langsung berubah. Bahasa Indonesia mulai dipakai penuh di kelas.
Menurut Hartono, dampaknya sekarang makin terasa. Banyak orang tua yang lahir era 1970-an akhirnya membiasakan anak-anaknya ngobrol pakai bahasa Indonesia di rumah. Bahasa daerah pun makin jarang diwariskan.
“Bahasa ibu anak-anak dari orang tua yang lahir tahun 70-an itu berbahasa Indonesia semua,” imbuhnya. (bae)

