Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Bahasa Ibu Pelan-pelan Hilang Sejak Digeser Bahasa Indonesia di Sekolah, Ada Peran UNESCO
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Bahasa Ibu Pelan-pelan Hilang Sejak Digeser Bahasa Indonesia di Sekolah, Ada Peran UNESCO

R. Izra
Last updated: Mei 19, 2026 2:15 pm
By R. Izra
3 Min Read
Share
MEMBAHAS DIALEK--Pemerhati bahasa Jawa Semarangan, Hartono Samidjan, menjelaskan ciri khas dialeg Semarang saat ditemui di rumahnya, Kamis (14/5/2026). (bae)
MEMBAHAS DIALEK--Pemerhati bahasa Jawa Semarangan, Hartono Samidjan, menjelaskan ciri khas dialeg Semarang saat ditemui di rumahnya, Kamis (14/5/2026). (bae)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Bahasa daerah ternyata bukan hilang karena dilarang. Tapi pelan-pelan ditinggal sendiri, terutama setelah sekolah-sekolah mulai penuh memakai bahasa Indonesia.

Akibatnya, banyak anak sekarang justru lebih fasih bahasa Indonesia dibanding bahasa ibunya sendiri.

“Berkurangnya penutur bahasa daerah di Indonesia itu bukan karena paksaan tapi karena sukarela,” kata pemerhati bahasa asal Semarang, Hartono Samidjan, Kamis (14/5/2026).

Bacaaja: Lewat Radio, Bahasa “Lo-Gue” Mulai Gerus Dialek Semarang Sejak Era 80-an
Bacaaja: Dialek Semarangan Tumbuh dari Terminal sampai Bioskop

Hartono bilang, setelah Indonesia merdeka dulu situasinya masih beda. Anak-anak SD masih belajar memakai bahasa daerah karena dianggap lebih gampang dipahami.

“Setelah kemerdekaan semua sekolah terutama tingkat SD menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, langkah itu juga pernah dianjurkan UNESCO pada era 1950-an. Alasannya sederhana, anak kecil lebih cepat nangkep pelajaran kalau pakai bahasa sehari-hari di rumah.

“UNESCO memang menganjurkan agar bahasa pengantar di dunia pendidikan itu menggunakan bahasa ibu,” katanya.

Tapi situasi Indonesia waktu itu lagi sibuk menguatkan persatuan nasional. Semangat Sumpah Pemuda yang mengusung satu bahasa Indonesia akhirnya ikut memengaruhi dunia pendidikan.

Pelan-pelan bahasa daerah mulai dikurangi di sekolah. “Sekitar tahun 1950 atau 1953 itu ada kebijakan bahasa daerah hanya dipakai sampai kelas 3,” ujar Hartono.

Lalu sekitar tahun 1975, aturan makin kencang. Semua sekolah dari SD sampai perguruan tinggi wajib memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.

“Semua jenjang pendidikan harus wajib menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia,” katanya.

Hartono sendiri masih sempat merasakan sekolah memakai bahasa Jawa waktu kecil. Dari TK sampai kelas 3 SD, guru-gurunya masih mengajar pakai bahasa daerah.

Karena terbiasa sejak kecil, Hartono mengaku sampai sekarang masih hafal lagu dan tembang Jawa yang dulu sering dinyanyikan di sekolah.

Tapi begitu masuk kelas 4 SD, suasananya langsung berubah. Bahasa Indonesia mulai dipakai penuh di kelas.

Menurut Hartono, dampaknya sekarang makin terasa. Banyak orang tua yang lahir era 1970-an akhirnya membiasakan anak-anaknya ngobrol pakai bahasa Indonesia di rumah. Bahasa daerah pun makin jarang diwariskan.

“Bahasa ibu anak-anak dari orang tua yang lahir tahun 70-an itu berbahasa Indonesia semua,” imbuhnya. (bae)

You Might Also Like

Marcus Rashford Bikin Kejutan! Jadi Pemain Terbaik Kemenangan Barcelona Vs Newcastle di Liga Champions

Pemprov Dorong Penggunaan Bioplastik

Samuel Wattimena: Stop Jalan Sendiri, Yuk Kolaborasi Biar Budaya Lokal Bisa Mendunia!

Bos BGN Bilang Nggak Ada Celah Korupsi, Eh Anak Buah Malah Ungkap Modus-modus Korupsi MBG

Gempa Pacitan Hentikan Perjalanan Kereta Api, Getaran Terasa sampai Jateng

TAGGED:bahasa daerahbahasa indonesiadialek semaranganhartono samidjanheadlinepemerhati bahasaUNESCO
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article KECANTIKAN BUKAN SULAP - Praktisi kecantikan dari Immoderma Aesthetics and Wellness Clinic, dr Teddy August, menegaskan bikin glowing wajah yang sehat gak bisa dilakukan secara instan. (dul) Glowing Instan Bisa Berujung Petaka, dr. Teddy: Gak Segampang Itu, Kecantikan Bukan Sulap

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

MEMBAHAS DIALEK--Pemerhati bahasa Jawa Semarangan, Hartono Samidjan, menjelaskan ciri khas dialeg Semarang saat ditemui di rumahnya, Kamis (14/5/2026). (bae)

Bahasa Ibu Pelan-pelan Hilang Sejak Digeser Bahasa Indonesia di Sekolah, Ada Peran UNESCO

KECANTIKAN BUKAN SULAP - Praktisi kecantikan dari Immoderma Aesthetics and Wellness Clinic, dr Teddy August, menegaskan bikin glowing wajah yang sehat gak bisa dilakukan secara instan. (dul)

Glowing Instan Bisa Berujung Petaka, dr. Teddy: Gak Segampang Itu, Kecantikan Bukan Sulap

Doa Jamaah Haji Buat Presiden, Pesan Niam Jadi Obrolan Panjang

Muhadjir Effendi Diperiksa KPK

Josepha Mau Dijadikan Duta, Drama LCC Belum Sepenuhnya Adem Lagi

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi warga korban bencana tidur berdesakan di tenda pengungsian.
Info

Bayi di Aceh Makan Mi Instan, Wartawan Menangis Saksikan Anak-anak Kelaparan

Desember 18, 2025
Olahraga

Catur Cina Nggak Main-main: Kudus Jadi Arena, Anak-anak Jadi Jagoan

Januari 27, 2026
Ekonomi

KUR Tanpa Agunan? UMKM Semarang Udah Siap Gaspol!

Desember 2, 2025
Info

Lebaran, Sepuluh Puskesmas di Semarang Tetap Standby

Maret 20, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bahasa Ibu Pelan-pelan Hilang Sejak Digeser Bahasa Indonesia di Sekolah, Ada Peran UNESCO
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?