Sulung Pamanggih, peternak Kambing. Tinggal di Bojongnangka, Pemalang.
Pakar sumpah serapah, Timothy Jay, pernah bilang rata-rata orang dewasa mengumpat sebanyak 0,5 hingga 1 persen dari kata-kata yang mereka ucapkan. Jika anda menghabiskan 10.000 kata setiap hari, maka 50-100 kata di antaranya berisi umpatan.
Apakah Jay membual, itu bukan urusan kita. Faktanya setiap negara punya kata-kata tabu yang enak dijadikan umpatan. Dan kita patut bersyukur tinggal di republik yang punya kekayaan melimpah soal umpatan. Djancok, bangsat, asu, sampai tai setan.
Mengumpat adalah hak setiap orang untuk meluapkan emosi atas situasi yang dihadapi. Entah saat bercinta gara-gara ejakulasi dini, atau bisa saja anda mengumpat saat bangun tidur sebab menjumpai fakta bahwa pasanganmu sungguh bertambah tua.
Meski kategori orang yang gampang mengumpat, saya pribadi tidak memiliki umpatan favorit yang lebih modern. Saya pernah mencoba mengumpat dengan menyebut nama kawan saya, tapi sering gagal—mungkin karena namanya terlalu panjang.
Jangan salah, aktivitas mengumpat rupanya juga punya manfaat bagi kesehatan. Salah satunya meningkatkan ketahanan emosional.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering mengumpat cenderung lebih mampu menghadapi stres. Sebab umpatan memberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan negatif yang sulit diungkapkan. Dengan kata lain, misuh-misuh itu bisa menjadi semacam terapi gratis.
Salah satu yang membuat kita bisa gila tinggal di republik ini adalah persoalan korupsi yang besar-besaran. Bukan hanya ratusan triliun duit negara digondol, tapi hukuman para pelaku juga sering tak setimpal.
Kawan saya uring-uringan sendiri mengikuti berita korupsi yang terjadi di negeri ini. “Duit 197 triliun dikorupsi, itu kalau buat ongkos cukur itu bisa untuk 30 generasi,” katanya. Maklum, kawan saya sedang berdarah-darah merintis usaha barbershop.
Di media sosial bahkan lebih meriah lagi. Berbagai versi umpatan bertebaran di sana. Sindiran, meme, ataupun jokes gelap juga berseliweran. Bahkan ada yang mengumpat dengan lebih agamis: ya Allah semoga perut para koruptor kelak disetrika dengan api neraka-Mu.
Ya, sesungguhnya kita beruntung. Di tengah carut marut persoalan bangsa, kita masih bisa mengumpat. Bayangkan jika misuh-misuh itu dilarang. Bayangkan jika kita hidup seperti dalam novel 1984 George Orwell, di mana pemerintah memasang alat perekam di setiap rumah, dan setiap tutur kata maupun tindakan kita diawasi. Hidup macam itu bisa bikin kita sesak napas.
Apakah mengumpat masuk dalam daftar warisan budaya yang patut dilestarikan atau tidak, saya tidak begitu peduli. Yang jelas, di tengah carut marut problem bangsa saat ini, terkadang cuma umpatan yang bisa membuat kita tetap waras.


