BACAAJA, JAKARTA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan cuma mengganggu jarak pandang, tetapi juga mulai menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga. Kementerian Kesehatan mencatat ratusan ribu kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di wilayah terdampak, sementara jutaan masker sudah disalurkan untuk membantu masyarakat mengurangi risiko paparan asap.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, pemerintah telah membagikan 5,3 juta masker ke berbagai daerah yang mengalami karhutla. Jumlah tersebut masih bisa ditambah sesuai kebutuhan di lapangan, terutama jika kondisi kabut asap terus mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat.
“Sudah ada 5,3 juta masker yang diberikan ke seluruh daerah yang mengalami karhutla. Ini akan kita tambah lagi sesuai dengan kebutuhan yang ada,” kata Dante saat ditemui di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (15/10/2026).
Ratusan Ribu Kasus ISPA Jadi Perhatian
Kemenkes mencatat sebanyak 277.075 kasus ISPA secara kumulatif hingga 12 Oktober 2026. Kasus tersebut tersebar di 63 kabupaten atau kota pada tujuh provinsi yang terdampak karhutla.
Dari jumlah itu, sebanyak 62.400 kasus atau sekitar 22,5 persen dialami anak berusia 0–5 tahun. Angka tersebut menjadi perhatian karena bayi dan balita termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak buruk asap kebakaran.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, perkembangan kasus ISPA terus dipantau untuk mendeteksi kemungkinan lonjakan pasien. Pemantauan tersebut juga menjadi dasar untuk memperkuat respons kesehatan di daerah terdampak.
“Data pasien ISPA akibat karhutla ini akan terus dipantau untuk mendeteksi peningkatan kasus dan memperkuat respons kesehatan,” ujar Aji, Kamis.
Masker Ditambah, Layanan Kesehatan Diperkuat
Selain menyalurkan masker, pemerintah memperkuat upaya penanganan dampak kesehatan akibat karhutla melalui edukasi kepada masyarakat dan peningkatan kesiapan fasilitas kesehatan. Langkah ini dilakukan agar warga yang mengalami gangguan pernapasan bisa mendapatkan penanganan dengan cepat.
Dante menjelaskan, fasilitas kesehatan juga didorong untuk menangani kasus ISPA yang berkaitan dengan paparan asap. Surveilans atau pemantauan kesehatan diperkuat agar perkembangan kasus di wilayah terdampak bisa diketahui lebih dini.
“Penanganan kasus-kasus infeksi saluran pernapasan atas, itu juga kita lakukan, dan kita lakukan surveilans dan penguatan di fasilitas kesehatan supaya mereka bisa menangani pelayanan akibat karhutla ini,” ujarnya.
Kemenkes juga mengimbau warga di daerah yang diselimuti asap untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Masyarakat perlu lebih waspada ketika kualitas udara memburuk, terutama bagi mereka yang setiap hari harus beraktivitas di luar ruangan.
Anak-anak hingga Lansia Paling Rentan
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan berbagai zat berbahaya yang bisa masuk ke saluran pernapasan. Paparan tersebut dapat memicu batuk, ISPA, sesak napas, hingga memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit asma.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian ekstra meliputi bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit paru kronis. Mereka disarankan membatasi paparan asap dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami keluhan pernapasan yang mengkhawatirkan.
Aji mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan gejala pada anak, terutama ketika muncul tanda gangguan pernapasan. Anak yang mengalami sesak napas, bernapas lebih cepat dari biasanya, atau kesulitan menyusu dan minum harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
“Jika anak mengalami sesak napas, napas cepat, sulit menyusu atau minum, segera bawa ke fasilitas kesehatan,” kata Aji.
Kemenkes Bahas Penanganan Bersama Kemendagri
Penanganan dampak karhutla di bidang kesehatan juga akan dibahas secara terintegrasi oleh pemerintah pusat. Dante menyebut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dijadwalkan mengikuti rapat bersama Kementerian Dalam Negeri pada Kamis sore untuk membicarakan langkah penanganan di wilayah terdampak.
“Hari ini Pak Menteri jam 3 sore, akan melakukan rapat dengan Kemendagri secara terintegrasi untuk melakukan penanganan di bidang kesehatan,” ucap Dante.
Koordinasi tersebut diharapkan memperkuat upaya penanganan di daerah, mulai dari pemantauan kasus ISPA hingga kesiapan fasilitas kesehatan menghadapi kemungkinan bertambahnya pasien.
Dengan ratusan ribu kasus yang telah tercatat, penanganan karhutla kini bukan hanya soal memadamkan api, tetapi juga melindungi warga dari dampak asap. Pembagian masker, pengurangan aktivitas di luar rumah, serta deteksi dini gejala gangguan pernapasan menjadi langkah penting untuk menekan risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. (*)

