BACAAJA, SEMARANG- Pemkot Semarang mulai mengencangkan pengawasan harga bahan pokok menjelang dan selama Ramadan 1447 Hijriah. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti memastikan kondisi inflasi di Semarang masih relatif stabil, meski beberapa komoditas sudah menunjukkan tren kenaikan.
“Kita punya sistem alat pemantauan harga. Secara umum masih stabil, tapi tetap terus kita pantau,” ujar Agustina, Selasa (17/2/2026). Biar kenaikan harga nggak melebar, Pemkot lewat Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Perdagangan bakal menggelar operasi pasar.
Baca juga: Cabai Naik 98%, Bikin Dompet Pedas! TPID Jateng Gelar Operasi Pasar
Tapi jangan bayangin operasi pasar gede-gedean. Kali ini konsepnya lebih taktis: kecil, spesifik, langsung ke titik yang butuh intervensi. “Bukan operasi pasar besar, tapi kecil-kecil yang langsung mengintervensi pasar dan spot-spot perdagangan,” jelasnya.
Agustina juga mengingatkan pedagang untuk tetap menjaga harga tetap wajar selama Ramadan. Menurutnya, kalau harga naik kebablasan, efeknya bukan cuma ke pembeli, tapi juga ke penjual sendiri. “Kalau inflasi terlalu lama, ekonomi bisa rontok. Kalau masyarakat nggak punya uang, yang jualan pun akhirnya nggak laku,” tegasnya.
Kebijakan Situasional
Soal usulan dari Badan Pusat Statistik (BPS) terkait opsi penggratisan layanan transportasi BRT dan air bersih Perumda Air Minum (PDAM) untuk menekan inflasi, Agustina menyebut kebijakan itu situasional. Artinya, bakal dipakai kalau angka inflasi sudah menyentuh batas tertentu. “Seperti tahun lalu, itu signifikan. Tapi sekarang masih kita pantau,” katanya.
Di tengah isu harga pangan, Agustina juga menyinggung komitmen anggaran untuk sektor lain. Untuk penanganan lingkungan dan banjir, Pemkot mengalokasikan sekitar Rp 500 miliar. Sementara total anggaran infrastruktur mencapai Rp 1,6 triliun.
Baca juga: “Pak Rahman”, Jurus Pemkot Jinakin Harga Pangan
Dengan kombinasi pemantauan harga, operasi pasar skala kecil, hingga kebijakan antisipatif lainnya, Pemkot berharap Ramadan nanti tetap kondusif, harga terkendali, daya beli aman, pembangunan jalan terus.
Karena pada akhirnya, Ramadan itu soal menahan diri. Bukan cuma lapar dan haus, tapi juga menahan harga supaya nggak ikut “nafsu” naik duluan. Kalau semua bisa sama-sama waras, yang untung bukan cuma pembeli, pedagang pun tetap kebagian berkah. (tebe)


