BACAAJA, SEMARANG — Misteri kematian Iko Juliant Junior, mahasiswa Unnes yang disebut polisi tewas akibat kecelakaan lalu lintas, masih belum membuat publik puas. Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Wahid, nantang polisi untuk buka-bukaan.
“Nah itu, justru karena polisi mengaku memiliki CCTV (yang merekam kecelakaan Iko), sudah dibuka saja supaya terang,” ucap Alissa di Semarang, Rabu (10/9/2025).
Putri sulung Gusdur ini memberi penguatan sekaligus mengingatkan polisi supaya nggak main sembunyi-sembunyi soal barang bukti.
Alissa menegaskan, kalau rekaman CCTV benar ada, publik dan keluarga berhak tahu. Kalau ditutup-tutupi, wajar kalau masyarakat justru makin curiga.
“Karena kepolisian saat ini sedang membutuhkan kepercayaan masyarakat kembali pulih. Ya, justru keuntungannya ada di polisi kalau CCTV ini dibuka,” tambahnya.
Kecurigaan keluarga memang cukup masuk akal. Ibu Iko, misalnya, heran karena tubuh anaknya tak punya luka gores yang biasanya ada kalau orang jatuh di jalan. Yang tampak hanya lebam di mata dan bibir.
“Padahal kalau kecelakaan di aspal mestinya gores ya. Itu pertanyaan bagi ibunya. Jadi kalau ada CCTV-nya, beliau bisa melihat oh memang betul-betul kecelakaan, pasti beliau akan legowo,” tutur Alissa.
Sejak awal, kasus ini memang dipenuhi cerita janggal. Mulai dari kabar Iko justru diantar ke rumah sakit oleh anggota Brimob—padahal bukan tupoksinya—hingga igauan Iko yang sempat minta “jangan dipukuli” sebelum meninggal.
Versi polisi sendiri menyebut, Iko kecelakaan di Jalan Veteran, tepat di samping Markas Polda Jateng, Minggu (31/8/2025) pukul 03.05 WIB. Motor yang ditumpangi Iko menabrak motor di depannya hingga semua terpelanting. Brimob yang “kebetulan” ada di lokasi disebut langsung memberi pertolongan.
Yang bikin publik tambah penasaran, peristiwa itu terjadi di tengah penyisiran peserta aksi ricuh di Jalan Pahlawan. Malam itu, Iko terakhir berpamitan mau mengawal massa yang ditahan di Polda.
Buat Alissa, kasus Iko bukan sekadar duka keluarga, tapi bagian dari luka besar bangsa. Menurut data YLBHI, Prahara Agustus 2025 menelan sedikitnya 10 korban jiwa, lebih dari 5.800 orang ditahan, 580 ditetapkan sebagai tersangka, dan 1.100 mengalami luka-luka. Tiga orang bahkan harus menjalani amputasi di Yogyakarta. (bae)


