BACAAJA, SEMARANG- Sekitar 400 kapal nelayan memadati kawasan perairan Tambak Lorok dalam puncak tradisi Sedekah Laut dan Bumi Tambaklorok 2026.
Tradisi tahunan masyarakat pesisir utara Kota Semarang itu kembali digelar meriah dengan berbagai rangkaian budaya dan ritual adat yang masih dijaga sampai sekarang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng yang hadir langsung dalam acara tersebut mengatakan sedekah laut bukan sekadar ritual tahunan, tapi bentuk hubungan timbal balik antara manusia dan alam. “Ini adalah bakti kita kepada laut dan kita minta laut untuk menjaga kita, menjadi sumber rezeki bagi kita,” ujarnya.
Baca juga: Besok Minggu Jalanan Semarang Disulap Jadi Panggung Budaya
Menurut Agustina, laut dan manusia harus hidup saling menjaga supaya ketenangan, kesejahteraan, dan keberlangsungan hidup masyarakat pesisir tetap terawat.
Tahun ini, acara mengusung tema Nguri-uri Kabudayan dan Pelestarian Tradisi. Kegiatannya sudah dimulai sejak Sabtu malam lewat doa bersama, khataman Alquran, sampai tirakatan di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambaklorok.
Puncak Acara
Puncaknya berlangsung Minggu, (10/5/2026) pagi lewat kirab kepala kerbau keliling kampung yang jadi perhatian warga. Setelah itu, sesaji dilarung ke tengah laut menggunakan kapal TNI AL bersama Wali Kota Semarang.
Suasana makin pecah karena acara dilanjutkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dan bakal ditutup pengajian akbar pada Senin (11/5). Agustina juga mengapresiasi warga nelayan yang masih konsisten menjaga tradisi leluhur di tengah kawasan pesisir yang terus berubah dan makin modern. “Tradisi ini bukti masyarakat tidak pernah lupa akar budayanya,” katanya.
Baca juga: Enam Warisan Budaya Semarang Diakui Nasional
Selain jadi simbol rasa syukur atas hasil laut, tradisi sedekah laut juga jadi pengingat soal pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Apalagi kondisi cuaca belakangan makin susah ditebak dan nelayan jadi kelompok yang paling dulu merasakan dampaknya.
Ia berharap tradisi ini tetap hidup sebagai perekat solidaritas warga pesisir sekaligus alarm bahwa pembangunan kawasan laut gak boleh cuma mikirin beton dan proyek, tapi juga keselamatan nelayan dan budaya yang hidup di dalamnya.
Sebab kalau laut terus diminta ngasih rezeki tanpa pernah diajak “bernapas”, jangan kaget kalau suatu hari ombaknya bukan lagi bawa ikan, tapi giliran bawa tagihan dari alam. (bae)

