BACAAJA, PALANGKARAYA– Suasana pagi di Palangka Raya mendadak ramai bukan karena keramaian biasa, tapi gara-gara aksi tak terduga dari seorang lansia yang bikin warga sekitar geleng-geleng kepala. Ratusan batako di sebuah toko bangunan tiba-tiba rusak, memicu kehebohan di lokasi kejadian.
Peristiwa ini terjadi di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 2, Kecamatan Jekan Raya. Warga yang melihat kejadian tersebut langsung kaget karena pelaku bukan orang biasa, melainkan seorang lansia yang diduga mengalami kondisi pikun.
Tanpa alat apa pun, lansia tersebut terlihat merusak batako hanya dengan tangan kosong. Aksi itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya menarik perhatian warga sekitar yang mulai berkumpul di lokasi.
Kondisi ini langsung dilaporkan ke layanan darurat 110 milik Polri. Tak butuh waktu lama, aparat langsung bergerak menuju tempat kejadian untuk mengamankan situasi.
Personel dari Polresta Palangka Raya tiba di lokasi dengan cepat. Mereka langsung berupaya menenangkan suasana sekaligus memastikan tidak ada konflik yang berkembang lebih jauh.
Penanganan di lapangan dipimpin oleh Muhammad Abrar bersama tim piket fungsi. Fokus utama saat itu adalah mengendalikan situasi dan mempertemukan kedua pihak yang terlibat.
Polisi kemudian memfasilitasi mediasi antara pemilik toko dengan keluarga lansia. Pendekatan ini dipilih agar persoalan bisa diselesaikan tanpa harus masuk ke jalur hukum.
Dalam keterangannya, Abrar menjelaskan bahwa pihaknya langsung bergerak begitu menerima laporan. Polisi memilih langkah cepat agar situasi tetap kondusif dan tidak menimbulkan keributan lebih besar.
Dari hasil pemeriksaan awal, diketahui bahwa lansia tersebut merusak batako tanpa menggunakan alat apa pun. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa aksi tersebut dipicu kondisi mental yang tidak stabil.
Pemilik toko sempat merasa dirugikan cukup besar karena jumlah batako yang rusak tidak sedikit. Totalnya mencapai ratusan unit, yang tentu berdampak pada kerugian usaha.
Namun situasi mulai mereda setelah keluarga pelaku datang ke lokasi. Mereka menunjukkan itikad baik untuk bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
Dalam proses mediasi, keluarga menyatakan kesediaannya mengganti kerugian sebanyak 200 batako. Kesepakatan ini jadi titik temu yang menenangkan kedua belah pihak.
Pemilik toko akhirnya menerima penyelesaian tersebut. Keputusan diambil dengan pertimbangan kondisi pelaku yang sudah lanjut usia dan diduga mengalami gangguan ingatan.
Langkah damai ini juga diapresiasi oleh aparat kepolisian. Penyelesaian secara kekeluargaan dinilai lebih bijak dalam situasi seperti ini.
Warga yang sempat menyaksikan kejadian itu perlahan membubarkan diri setelah situasi kembali normal. Tidak ada lagi ketegangan di lokasi.
Peristiwa ini sekaligus jadi pengingat bahwa kondisi kesehatan lansia perlu mendapat perhatian lebih, terutama jika sudah menunjukkan tanda-tanda pikun.
Keluarga memiliki peran penting untuk memastikan keamanan orang tua mereka, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Di sisi lain, respons cepat aparat juga patut diapresiasi. Layanan darurat yang sigap membantu mencegah situasi berkembang jadi lebih rumit.
Kejadian ini mungkin terlihat sepele, tapi bisa jadi pelajaran penting bagi banyak orang. Hal-hal tak terduga bisa terjadi kapan saja, bahkan di tempat yang terlihat aman.
Dengan adanya penyelesaian damai, kasus ini pun ditutup tanpa proses hukum lanjutan. Kedua pihak sepakat untuk tidak memperpanjang masalah.
Akhirnya, suasana di lokasi kembali seperti biasa. Namun cerita tentang lansia yang merusak batako ini masih jadi bahan obrolan warga sekitar hingga kini. (*)


